Tampilkan postingan dengan label Naga Geni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Naga Geni. Tampilkan semua postingan
“Babo! Babo! Wong denok ayu, jangan kau ganggu orang ini!” seru si pendatang. Ternyata orang ini berperawakan sedang, rambutnya disanggul di atas sedang kumis dan jenggotnya lebat. Ketika ia datang menimbulkan angin santer sehingga terpaksalah Tuntari meloncat ke samping mengurungkan maksudnya karena terhalang oleh si tokoh pendatang! “Heei, Ki sanak! Masih termasuk apakah engkau dengan musuhku ini, sampai engkau turun tangan membelanya?!” seru Tuntari dengan geram. “Heh, heh, heh. Hi, hi, hi. Dia bukan apa-apaku, Wong denok ayu!” sahut si pendatang seraya menggaruk-garuk kumisnya.Unduh
“Cepatlah, kita menyingkir dari tempat ini....” desah Doyotan seraya mengatur napasnya yang sesak. “Jika sekali lagi kita terbentur oleh tenaga pukulan kakek bangkotan itu, pastilah kita akan muntah darah. Tambahan lagi kita harus cepat-cepat menyelamatkan sobat Bungkil dan Delok. Mereka telah terluka dalam cukup parahnya.” Growong mengangguk lemah. Kiranya pendapat Doyotan itu cukup baik, sebab tubuhnya sendiri sekarang ini seperti kehilangan daya dan kiranya untuk memutar senjata sabit berantai, ia tak akan sehebat dan setangguh saat-saat yang lalu. Hal ini sama artinya tidak perlu melanjutkan pertempuran melawan si kakek Gagang Aking maupun rombongan Mahesa Wulung.Unduh
Mereka lebih kurang sebanyak tiga puluh orang,” bisik Mahesa Wulung kepada ketiga rekannya. “Satu jumlah yang mencurigakan. Sayang kita tak mendengar pembicaraan mereka.” “Tapi untuk itu kita harus lebih mendekati!” sahut Gagak Cemani menengahi. “Dan dengan kuda-kuda ini, pasti tidak mungkin!” “Andika berdua dapat mendekati mereka,” Tungkoro ikut berkata lirih. “Biarlah saya dan Sobat Palumpang tinggal di sini menjaga kuda-kuda kita.” “Hmm, satu usul yang baik,” gumam Mahesa Wu-lung. “Jarak kita dengan pohon beringin tua itu kira-kira sejauh lima belas tombak, dan kita bisa mendekati mereka sampai sedekat lima tombak, asal tanpa mem-buat suara.” “Bagus. Marilah kita kerjakan, Adi Wulung!” sahut Gagak Cemani yang sudah tidak sabar lagi melihat pemandangan di depannya. Ia ingin segera tahu, siapakah sebenarnya mereka itu? “Dan Sobat Palumpang serta Tungkoro, haraplah berhati-hati.”Unduh
“Kesedihanmu itu kita bagi bersama, Maya. Ketahuilah, bahwa akupun menyesali kematian Nenek Durganti. Jika saja bencana itu tidak terjadi, pastilah nenekmu akan sempat menimang-nimang anak kita kelak,” ujar Sunutama kepada isterinya. “Tapi semuanya telah terjadi, Maya. Manusia hidup di marcapada dengan segala lelakon yang telah digariskan oleh Dewata. Karenanya, kita wajib menerima dengan tulus apa yang menimpa diri kita, sebagai rasa sedih dan gembira yang silih berganti datangnya. Nah, hapuskanlah kedukaanmu tadi. Lihatlah ke ujung fajar di kaki langit timur itu. Dialah cahaya harapan kita. Semua lelakon sedih akan berakhir di ujung fajar, dan masa depan yang lebih terang akan kita jelang bersama.” Made Maya mengangguk perlahan sambil menatap ke wajah suaminya seraya tersenyum, dan melihat ini, jari-jari Sunutama segera mengusap air mata di pipi isterinya.Unduh
Mula-mula sekali mereka merasa asing dengan benda-benda bulat tersebut, namun ketika lebih dekat lagi, barulah mereka tahu bahwa benda-benda bulat tadi adalah sarang-sarang lebah! Seketika dada Ngurah Jelantik berdebar-debar keras, sebab sesungguhnya ia telah mengenal kehebatan lebah-lebah putih piaraan si kakek dan cucu gadisnya. Apabila mereka berlima telah tiba di halaman pondok Ki Tutur, terdengarlah bunyi bergetar dan berdengung dari arah pohon-pohon, di mana bergantungan sarang-sarang lebah putih.
“Ehh, jadi, di sinilah lebah itu berdiam?!” ujar Ngurah Jelantik dengan takjubnya.
“Betul, Angger. Di sinilah mereka tinggal dan aku ternakkan,” sahut Ki Tutur. “Dari lebah-lebah itu kami memperoleh madu dan bisa yang sangat berguna bagi ilmu pengobatan. Sedang mereka, mendapat makan dari madu bunga-bungaan.” Begitu Ki Tutur berkata menjelaskan tentang lebah-lebah putih piaraannya.
Unduh

Selesai berkata, Nenek Durganti telah meloncat ke barat disusul oleh Dregil, Arje, dan tiga orang temannya. Sebentar saja tampaklah bayangan-bayangan manusia yang berlari, berloncatan menerobos semak dan jalan-jalan kecil tak ubahnya kijang-kijang yang lagi berkejaran.
Dregil dan Arje serta kawan-kawannya terpaksa mengerahkan tenaga untuk dapat mengikuti loncatan dan lari si Nenek Durganti yang berada di sebelah depan. Tak urung mereka mengumpat-umpat di dalam hati, di samping rasa kagum terhadap Nenek Durganti yang sudah tua renta, tapi malah mengalahkan mereka, terutama dalam ilmu tenaga dalam dan tata kelahi.
Nenek Durganti yang berlari paling depan selalu memasang telinga dan menebarkan pandangan matanya meskipun ia tengah berlari begitu cepat. Rambutnya yang terurai lepas dan berkibar-kibar tertiup angin menimbulkan pandangan yang menyeramkan di samping wajahnya yang berkeriput dan berwarna seperti mayat.
Unduh
Dari arah kabut terdengarlah teriakan I Jembrana, “Kalian unggul hari ini. Tapi jangan keburu bangga. Tunggulah lain saat nanti!”
Ngurah Jelantik hanya dapat menggeretukkan giginya mendengar ancaman musuhnya tadi. Kalau hanya menurutkan nafsu amarah saja, mungkin ia sudah akan lari sendirian mengejar mereka.
Akan tetapi kemudian iapun insaf, bahwa musuh dapat berbuat lebih leluasa dari balik kabut itu tanpa dapat diketahui lebih lanjut oleh pihaknya. Dengan demikian, tidak mustahil bila pengejaran itu dilanjutkan, musuh sudah siap memberondongkan senjata-senjatanya sehingga akan menimbulkan banyak korban.
Unduh
“Aah, terima kasih,” sahut Mahesa Wulung seraya menyambut mangkuk kulit kerang tadi. “Masakan Anda sungguh sedap baunya.”
“Dan pakailah sepasang cupit tulang ikan cucut ini untuk menjumput sayur di dalamnya,” begitu ujar Palumpang dan sepasang cupit itupun segera sampai ke tangan Mahesa Wulung yang telah duduk bersandar pada sebuah gumpalan batu karang.
Demikianlah, kedua sahabat tadi duduk di dekat perapian dan menikmati masakan yang dibuat dari ramuan-ramuan istimewa ciptaan Palumpang. Dia sendiri hanya mencicipi sedikit saja, sebab sebenarnya memang masakan tadi dibuat khusus untuk Mahesa Wulung.
Unduh
Tetapi si pendekar berjubah itupun bergerak semakin dahsyat dengan senjata golok hitamnya. Golok tersebut seolah-olah menari-nari ke sana kemari me¬nyambut setiap libatan pedang Tungkoro, bagaikan se¬orang gadis yang selalu menyongsong setiap gerak tarian seorang jejaka.
Tidak jarang kedua senjata itu saling bersentuhan, bahkan berbenturan dengan suara gemerincing dibarengi letupan bunga api. Dalam saat-saat demikian Tungkoro selalu berhati-hati, sebab setiap benturan itu terasalah betapa tangan kanannya menjadi nyeri.
Unduh
Terdengar bunyi menancap membuat Pendekar Bayangan, Lawunggana dan yang lain-lain terkejut bukan main, apalagi setelah di atas permukaan meja di depan mereka bertancapan enam gulungan uang tembaga!
“Luar biasa! Tenaga dalam yang sempurna!” desis Pendekar Bayangan penuh kagum. Mereka, lebih-lebih para pengikut Pendekar Bayangan, tidak bisa mengerti mengapa keenam keping uang tembaga yang tadinya bulat terbuka dan cukup tebal itu dengan mudah tergulung seperti gulungan pucuk daun pisang muda yang lagi tumbuh.
Demikianlah, kelima pengikut Pendekar Bayangan terdiam bisu dengan perasaan tegang dan dada berdentang-dentang, kecuali keenam peminum tuak yang melempar uang tadi malah tertawa ramai.
Unduh
Mendengar keterangan Lawunggana ini, baik Ki Lurah Mijen, istrinya maupun Endang Seruni sendiri merasa sedikit lega. Dalam hati mereka berharap, semoga antara Mahesa Wulung dan Lawunggana tidak akan pernah saling berjumpa. Terutama dengan Endang Seruni yang tidak menginginkan terjadinya bentrokan di antara mereka berdua.
Ia telah tahu bahwa Mahesa Wulung adalah seorang Perwira Demak yang sakti, sedang Lawunggana pun juga seorang yang berilmu tinggi. Telah dilihatnya betapa dengan mudahnya Lawunggana meremas sebuah cangkir tembikar sampai hancur. Ini sudah cukup sebagai bukti akan kehebatan tenaga dalam Lawunggana.
Unduh
“Seorang saudaraku tetap berkeras hati untuk membawa pulang Patung Intan berharga tadi ke daerah ini, ke Kampung Lembah Sampit ini. Sayangnya, saudaraku tadi telah tewas dalam perjalanan pulang. Ia tergelincir dan terperosok ke dalam sebuah jurang hingga tewas pada saat itu juga.
“Itulah rupanya akibat kutukan Patung Intan puteri Candrasari. Entah hal itu sungguh-sungguh atau secara kebetulan saja saudaraku tadi terperosok kesana, aku tidak tahu. Yang terang, Patung Intan tersebut berhasil aku bawa pulang ke kampung Lembah Sampit ini dan nanti dapat Tuan-tuan saksikan sendiri,” demikianlah si tua Tawau menyudahi akhir ceritanya tentang Kutukan Patung Intan tersebut, sementara suasana pun lalu jadi hening.
Unduh
Mahesa Wulung terperanjat oleh suara ini. Juga si tua Tawau yang merasa sebagai tuan rumah bagi tamu-tamunya yakni Mahesa Wulung serombongan itu haruslah bertanggung jawab atas keselamatan mereka.
— Hei, tunjukkan mukamu lebih dulu! Siapa engkau, hah? — teriak Tawau dengan marahnya.
— Hah, ha, ha, ha, ha. Kalian sudah terkepung, para sobat! Dan ketahuilah bahwa aku cuma berurusan dengan orang yang bernama Mahesa Wulung dan biarkan aku membuat perhitungan dengan dia! — terdengar suara dari atas pohon.
Unduh
Si penyerang ini bertubuh tegap mengenakan baju putih dan bercelana pendek hitam. Wajahnya tampak kepucatan, seperti orang yang tak pernah tidur. Kumis dan jenggotnya tumbuh menjadi satu sangat lebatnya, sedang ikat kepalanya berwarna biru tua.
Mahesa Wulung tak bermaksud melawan dengan sungguh-sungguh, sebab ia ingin mengetahui sebab-sebab kematian dari awak perahu ini. Maka ia cuma meloncat ke sana, melompat kemari menghindari tebasan pedang si penyerang yang sangat ganas dan penasaran. Sekali-sekali Mahesa Wulung menangkis dan menghantamkan pedangnya, sekadar dilakukan agar ia tidak terlalu terdesak benar-benar oleh serangan-serangan lawannya.
Unduh
Bagai suara ledakan petir, berita itu menggetarkan dada-dada mereka. Terutama dada Mahesa Wulung yang dahulu pernah menolong keselamatan gadis ini dari cengkeraman orang-orang golongan hitam yang dipimpin oleh Jaramala.
“Kalau begitu, sekarang mereka belum jauh dari desa ini!” Pendekar Bayangan berkata.
“Betul! Kami berusaha mencegatnya, tetapi mereka terlalu kuat, dan tiga orang kita terluka parah oleh senjata-senjata mereka. Kini mereka tengah berkuda ke arah timur!”
“Jangan kuatir, Ki Lurah. Kita akan mengejar mereka sekarang juga!” ujar Mahesa Wulung.
Unduh
“Hua, ha, ha, ha. Kowe semakin manis kalau marah, wong ayu! Dengarlah sekali lagi kata-kataku! Ikutlah de¬ngan diriku ke Laut Kidul. Kau akan jadi istriku dan hidup makmur di sana.”
“Tidak! Tidak! Aku sudah berkali-kali berkata kepadamu, Kakang Umpakan, kalau aku lebih suka tinggal disini!” seru Rara Sendang keras-keras.
“Ooo, kau ingin selamanya tinggal di tempat busuk ini, seperti katak dalam tempurung?! Di lain tempat masih banyak pemandangan yang indah, kota-kota yang besar, keramaian, tontonan, pakaian yang indah-indah! Apakah kau tidak ingin melihat itu semua?”
“Biar aku dibilang sebagai katak, aku akan tetap tinggal disini! Aku benci kepadamu!”
Unduh
“Seperti yang kau ketahui, Anak Muda. Akulah yang bernama Pendekar Bayangan. Kalau aku menolongmu itu semata-mata memenuhi darma ksatria, yaitu menolong setiap makhluk, terutama manusia yang sedang ditimpa bahaya,” kata Pendekar Bayangan seraya menarik nafas dalam-dalam. “Sebenarnya tidak perlu disebutkan dengan darma seorang ksatria, sebab manusia umumnya seharusnya mengenal hal itu. Menolong orang lain yang kemalangan adalah kewajiban setiap manusia yang berbudi dan berakal. Kita hidup di dunia ini tidak hanya sendirian, tapi bersama-sama dengan manusia-manusia dan makhluk lainnya. Jadi kita memerlukan tatapergaulan yang baik dan luhur.”
Unduh
Karena kemarahannya itu ia telah menyumbat lobang dinding ini dengan batu-batu besar yang berbongkah-bongkah amat banyaknya. Begitulah aku telah terkurung di lobang dinding dan mungkin aku akan mati pada suatu ketika. Aku tak dapat lari dari tempat ini, apalagi kalau Ki Topeng Reges telah menempatkan laba-laba raksasa untuk menjaga lobang dinding ini.
Aku selalu berdoa bahwa Andika yang menemukan suratku ini, adalah seorang yang berbudi luhur. Maka terimalah kitabku ini dan juga cincinku yang bernama Galuh Punar. Ia akan menjaga Andika dari pengaruh racun dan bisa yang jahat.
Unduh
Kejadian itu amat mendadak seperti memukau kesadaran pikiran. Namun Mahesa Wulung bukan anak kemarin sore, maka melihat batang pohon kenari yang melayang roboh siap menghancurkan tubuhnya itu, ia cepat-cepat menarik tali kekang kudanya. Ternyata kuda Mahesa Wulung itupun mencium bahaya yang sedang terjadi. Dengan satu ringkikan keras, begitu ia merasa mulutnya tertarik oleh tali kekang, iapun mendongak ke samping kemudian membuat satu loncatan berbalik ke belakang yang cukup jauh.
Unduh
“Mereka adalah pasukan-pasukan dari pulau ini. Maka lebih dulu, harap dimaafkan jika kami mengejutkan kalian dengan sikap ini. Beberapa hari yang lalu pulau ini telah didatangi oleh segerombolan bajak laut Iblis Merah dari Selat Karimata. Hanya sayang pada waktu itu saya sedang berjalan jauh hingga mereka sempat mengobrak-abrik bandar ini. Sebelum gerombolan itu minggat lagi dari tempat ini, mereka masih mengancam bahwa suatu ketika mereka akan datang kembali. Gerombolan Iblis Merah memang termashur keganasannya. Terutama yang paling ditakuti orang-orang ialah pemimpinnya yang bernama Lanun Sertung.”
Unduh