Tampilkan postingan dengan label Pendekar Kelana Sakti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendekar Kelana Sakti. Tampilkan semua postingan
Pendekar Kelana Sakti - 15 (TAMAT)
Lima batang pedang kecil sengaja ditusukkan di sekitar luka memar. Tubuh Nilasari Grewek terlentang tanpa merasakan sakit akibat dari tusukan-tusukan pedang-pedang kecil. Kumbayana memang ahli dalam bidang itu. Ia dapat mencari dan menancapkan pedang-pedang emas di setiap jalan darah. Sebentar saja bekas-bekas hitam memar segera berubah. Menjadi merah seperti dialiri darah. Ternyata luka-luka itu tidak hanya satu. Masih ada tiga bekas pukulan lagi. Sementara itu keringat Kumbayana sendiri telah mengucur membasahi sekujur tubuhnya.
Unduh
Pendekar Kelana Sakti - 14
"So-sobat... Hh... hah...." Terdengar rintihan Srikaton Munggel. Tubuhnya menggigil hebat. Kedua rahangnya terkatup rapat bergetar. Arso Lumbing menatap perempuan itu melawan hawa dingin yang tidak mungkin dapat diatasi. Arso Lumbing mendekatinya. Ia sendiri pun mulai menggigil. "Ki-kita akan mati kedinginan.... Brrr...," rintih Srikaton Munggel bergetar. Ia menarik baju Arso Lumbing. Arso Lumbing langsung jatuh dalam dekapan itu. Terasa sekali perempuan ini bergetar hebat. Dirasakan pula dekapan Srikaton Munggel semakin erat. Namun akibat dari sentuhan itu, seperti mengalir kehangatan yang luar biasa.
Unduh
Pendekar Kelana Sakti - 13
Masih dalam berpikir, tiba-tiba saja Wintara dikejutkan oleh derap kaki kuda yang begitu cepat. Spontan ia menoleh ke arah suara itu. Dilihatnya seekor kuda lari tunggang langgang dengan seorang penunggang yang nampaknya tengah terluka. Lebih terkejut lagi ketika Wintara dapat melihat jelas penunggang kuda itu membawa sesuatu. Penunggang kuda itu sendiri seperti terombang ambing di atas pelana. Semakin dekat semakin jelas apa yang dibawanya itu. Wintara hampir tidak percaya. Bulu kuduknya berdiri. Penunggang kuda itu menggenggam sebuah kutungan kepala seorang perempuan. Darah menetes di setiap langkah kuda. Wintara melompat minggir saat kuda itu berlari cepat melaluinya. Kiranya sosok penunggang kuda tidak lain dari pendekar dari bukit Sinimbung. Wita Soma. Dia sudah setengah pingsan terbawa oleh kudanya kemana lari.
Unduh
Pendekar Kelana Sakti - 12
Tubuh ramping bergulingan. Namun secepat kilat Nyi Awak Ceger bangkit. Mulutnya menyeringai menyeramkan. Mulutnya tadi menyemburkan darah, telah penuh dengan lumuran darah mengotori. "Hik-hik-hik-hik.... Hebat, hebat! Pendekar Gelugut Sutra maupun pendekar dari 'Guci Perak' memang bukan nama kosong. Tidak mungkin aku yang berilmu rendah ini dapat mengalahkan kalian." Meskipun masih terasa sakit, Nyi Awak Ceger masih dapat mengumbar tawa. "Sudah tahu begitu, kenapa tidak cepat bunuh diri di hadapan kami! Ayo lakukan perempuan cabul. Hitung-hitung menebus dosa." ujar Amarsa Rawut. "Sekarang pun rasanya seperti hampir mati. Kenapa tidak kalian saja yang membunuhku?" Suara Nyi Awak Ceger menggoda. "Kami tidak ingin mengotori tangan kami dengan darah cabulmu!" bentak Pendekar Gelugut Sutra.
Unduh
Pendekar Kelana Sakti - 11
"Anak muda.... Sebaiknya kau pun harus cepat-cepat menyingkir dari sini. Desa ini sudah terancam oleh perampok yang menamakan dirinya Durjana Pemenggal Kepala." Keterangan orang kaya ini membuat Wintara tercengang. "Durjana Pemenggal Kepala?" desah Wintara seakan tak percaya. "Hm... Durjana-durjana itu buas bagai serigala yang selalu memenggali kepala korban-korbannya." kata orang kaya itu lagi. Dua pelayannya menghampirinya. "Tuan, semua sudah beres. Kita bisa berangkat sekarang." Orang kaya itu tidak menyahut, ia malah meneruskan pembicaraannya dengan Wintara. "Kau lihat sendiri. Kampung ini telah kosong. Kami tidak ingin tinggal di sini sendirian!" Wintara mengawasi sekeliling kampung. Memang telah sunyi. Kecuali pedati-pedati milik orang kaya ini yang penuh dengan barang-barang. Anak istrinya sudah menunggu di atas tumpukan barang. Sepertinya mereka sudah tidak sabaran untuk segera meninggalkan desa.
Unduh
Pendekar Kelana Sakti - 10
"Menurutku, kau tak perlu ikut campur urusan kami, Wintara. Kami mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas penyelamatanmu terhadap tiga putra kami. Biarlah urusan ini menjadi persoalan Perguruan Tapak Angin." kata Ni Tambun Tambak.
"Betul, Wintara. Bukan aku meremehkanmu. Tapi kami tidak akan melibatkan dirimu. Perguruan Tapak Angin sebagian kecil dari ilmu silat Eyang Buana Penangsang. Mungkin masih bisa menanggulangi Keris Buntung Ki Srongot." ujar Giri Paksi.
"Sekalipun aku pergi meninggalkan kalian, yang pasti kakek berambut putih itu tetap mencari diriku. Sebab dia tahu saat aku menyelamatkan Rambi Somat dan Tanjung Lodaya." jawab Wintara dengan pandangan yang mengarah pada dua sosok terbaring lemas.

Unduh
Pendekar Kelana Sakti - 9
Riwang tersentak bangun. Ia baru menyadari kalau tadi siang baru saja mencuri seekor kuda dan menukar pakaiannya dengan pakaian yang dikenakannya sekarang. Dia tidak berani menjawab. Seluruh tubuhnya gemetar.
"Rupanya kau memaksaku menyeret keluar? Baik...." Terdengar lagi suara teriakan. Begitu juga dengan suara langkah kaki yang mulai memasuki ruangan.
"Tunggu....! Aku menyerah. Kau boleh ambil kudamu kembali, juga pakaian ini... Harap kau mau mengampuni, bukan maksudku mencuri semua milikmu... Aku terpaksa." Riwang berdiri di tengah-tengah pintu kamar. Baju bulu binatang sudah dilepaskannya.

Unduh
Pendekar Kelana Sakti - 8
Gondok dan Gundik ikut melangkah ke luar meskipun mereka masih menahan sakit. Keduanya melangkah di belakang Gindek. Suara-suara mereka terdengar terus oleh Wintara setelah mereka jauh meninggalkan bangunan itu, barulah Wintara turun dari para. Kakinya hinggap di lantai tanpa bersuara.
Matanya menatap tiga orang kerdil yang makin lama makin jauh melangkah.
"Terlalu lancang bila ikut campur urusan mereka. Tapi justru yang ku khawatirkan adalah diri Tapak Welang. Tentunya ketiga kurcaci-kurcaci itu sudah berhadapan dengan Tapak Welang. Mungkin juga dengan Alap-alap Bukit Busung Kawu." kata Wintara dalam hati. Ia sudah tidak melihat lagi tiga manusia kerdil.

Unduh
Pendekar Kelana Sakti - 7
Kedua mata Mardun terbelalak saat ia melihat sosok tubuh melompat-lompat mengelilinginya. Sosok tubuh itu nampak kurus kering berkulit hitam dengan rambut putih seperti kapas. Rongga matanya nampak besar memerah. Mardun berdiri gemetar melihat sosok menyeramkan itu.
Dengan mengeluarkan suara yang sangat aneh, sosok itu menerjang. Mardun tidak
sempat menghindari sergapan yang demikian cepatnya. Tahu-tahu saja lengan hitam bergerak menghantam keras di atas batok kepala. Darah pun menyembur bagai air mancur. Dan sosok hitam itu tidak membiarkan darah tergenang. Mardun sendiri tidak sempat berteriak lagi saat nyawanya hampir putus.

Unduh
Pendekar Kelana Sakti - 6
"Cepat...! Raden Mas Kinanjar Swantaka dalam bahaya...." Wintara tidak sabar. Dari luar ruangan terdengar langkah beberapa orang mendekati ruangan di mana Wintara dan Umbara Komang berusaha membuka tambang-tambang yang membelit sekujur tubuh mereka. Terdengar pula langkah-langkah itu berhenti di depan pintu, lalu suara gembok yang gemeretak berbarengan dengan itu pintu pun membuka lebar. Nampaklah tiga orang memasuki ruangan. Dua orang masuk dengan membawa dua buah nampan berisi makanan. Seorang lagi berkacak pinggang sambil memainkan anak kunci.

Unduh
Pendekar Kelana Sakti - 5
Tubuh hitam itu mengejang kejang saat Ki Rondo Mayit membalut luka di sekitar tulang keringnya. Ia sengaja menahan jeritannya agar tidak keluar dari mulutnya. Kalau saja Ki Rondo Mayit tidak menahannya kuat-kuat, mungkin Wadak Keling sudah meronta-ronta.
"Tulang yang patah ini sudah ku sambung, Wadak Keling! Tapi kau jangan banyak berjalan dulu..." pesan Ki Rondo Mayit. Wadak Keling meringis meskipun rasa sakitnya sudah berkurang. Luka-lukanya nampak merembeskan darah ke kain pembalut yang melilit di betisnya.

Unduh
Pendekar Kelana Sakti - 4
Orang-orang desa Rawa Kandar menghambur buyar. Semuanya menatap bingung.... Dan tidak mengerti! Apa sebab musabab mereka sampai berkelahi di tempat ini...? Tapi mana sempat mereka memikirkan hal itu.... Sekarang mereka hanya menyaksikan sebuah perkelahian yang tidak seimbang. Mereka memang cukup mengenal siapa Kebo Dungkil dan Somat Codet, tapi untuk pemuda asing yang mengenakan pakaian bulu binatang itu, merupakan suatu hal yang menarik perhatian. Bagaimana tidak? Mereka dapat melihat gerakan pemuda itu di saat Kebo Dungkil dan Somat Codet menyerang bersamaan. Tendangan maupun pukulan mereka hanya nyeplos mengenai angin. Sedangkan si pemuda itu sendiri dapat beterbangan, bahkan berjumpalitan berkali-kali di udara menghindari serangan-serangan itu.

Unduh
Pendekar Kelana Sakti - 3


Sekali lagi Seta Wungu Menerjang deras. Lengan tungganya siap melancarkan pukulan 'Pedang Tanpa Wujud'.. Manakala Tabib Sakti belum sempat bangkit dan masih mengerang menahan sakit... Saat itu sosok Wintara berkelebat sambil menghantam. Lengan Tunggal Seta Wungu yang tadi hampir menghantam kepala... tiba-tiba saja bergeser melenceng terkena pukulan Wintara yang datang begitu keras Diam-diam Wintara merasakan tinjunya berdenyut.....

Unduh
Pendekar Kelana Sakti - 2
"Serasi juga kepala Elang perak ini dengan tali hitam.. Kalau aku mengenakannya pasti akan lebih cocok.... Lebih cocok disebut pengelana daripada sebelumnya. Kupakai saja kalung ini. Pemiliknya pun sudah mati."
Dia betul-betul mengenakan kalung itu di lehernya.

Unduh
Pendekar Kelana Sakti - 1
"Sebuah rumah sudah tidak berarti lagi bagiku, Mang.... Selama dua tahun lebih pengaruh lingkungan alam bebas telah menempa hidupku.... Dan ternyata aku menyukai adanya kebebasan... Aku khawatir di desa-desa lain masih ada suasana yang terbelenggu dengan kezaliman.... Untuk itu, aku mengemban tugas menumbangkan semua kebatilan maupun kezaliman...

Unduh