Tampilkan postingan dengan label Raja Naga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Raja Naga. Tampilkan semua postingan
.jpg)
"Tidak... ampun... jangan... jangan lakukan itu…" ratap si perempuan makin ketakutan. Tiba-tiba Bancak Bengek membentak, hingga si perempuan merasa jantungnya seperti copot. "Menolak keinginanku, berarti kau bersiap untuk mampus!!" "Jangan... jangan lakukan itu...," ratap si perempuan ketakutan. Wajah jelitanya seketika pias. Dia beringsut mundur. Tetapi kaki Bancak Bengek sudah menyepaknya hingga dia terguling dan tengkurap. Belum lagi si perempuan bangkit Bancak Bengek sudah menindihnya. Dirobek-robeknya kain kebaya yang dikenakan si perempuan yang menjerit-jerit ketakutan.Unduh
.jpg)
"Aku mulai dapat menebak siapa perempuan ini. Kata-kata anehnya tadi nampaknya untuk menutupi siapa dirinya dari Purwa. Dan pakaian kuning yang dikenakannya, mengingatkan aku pada bayangan kuning yang pertama kali kulihat sebelum Purwa dan Sibarani muncul." Di kejap lain Raja Naga tersentak tatkala mendengar tepukan keras yang dilakukan perempuan bertahi lalat pada tengah keningnya, yang disusul dengan menggebraknya gelombang angin dahsyat yang diiringi oleh cahaya berwarna-warni! Sadar kalau bahaya mengancam dirinya, Raja Naga memutuskan untuk mengeluarkan ilmu 'Naga Mengamuk'. Seketika tempat itu laksana diamuk seekor naga liar yang ganas.Unduh
Murid Dewa Naga itu diam-diam menarik napas masygul. "Firasat tidak enakku ini membawa kenyataan. Tentunya berita buruk itu telah menyebar. Aku terpaksa harus berbohong sekarang agar urusan tidak semakin kapiran," katanya dalam hati. Lalu dengan menindih gemuruh di dadanya, pemuda berompi ungu itu berkata, "Nek... kalau kau tanyakan aku pernah mendengar julukan itu atau tidak, kujawab pernah. Tetapi aku tidak tahu di mana orang yang kau maksudkan berada...." "Sayang sekali, sayang sekali. Padahal aku berharap kau dapat memberikan kejelasan padaku." "Apa yang hendak kau lakukan bila kau berjumpa dengannya?" tanya Raja Naga berhati-hati.Unduh
"Siapa kau?!" serunya curiga. "Astaga! Apakah kau tidak mengenaliku?" Bukannya orang yang menyerang yang berseru, tetapi orang yang berada di dipan yang bersuara, "Boma! Kaukah itu Boma?!" Raja Naga cepat mendekat. "Benar, Ratih! Aku Boma!" "Astaga!" seru orang yang menyerang tadi. "Gila! Aku tidak tahu kalau itu kau adanya, Raja Naga!" Raja Naga tertawa pelan. "Bila Ratih tak buka suara, aku pun tak akan mengenali kalian. Hei, bagaimana kabarmu?" Orang yang menyerang tadi yang bukan lain Lesmana menarik nafas pendek. Kegembiraan terbias di wajahnya. Apa yang dilakukan oleh Lesmana tadi hanyalah sebuah gerakan yang telah terlatih. Dalam keadaan seperti Ini, Lesmana memang menjadi orang yang serba curiga. Apalagi amarah masih bergolak di dadanya.Unduh
"Aku harus menyelamatkan diri!" serunya dalam hati. Seraya membuang tubuhnya ke samping kiri, Galuh Tantri menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Bersamaan bertemunya pergelangan tangan kanannya dengan pergelangan tangan kirinya, terlihat cahaya putih berkilau berulang-ulang, semakin lama semakin membesar. Tiba-tiba.... Wwrrrrr!! Dipadu dengan gemuruh angin yang tinggi, cahaya putih yang membesar itu tiba-tiba mencelat. Suara yang memekakkan telinga terdengar berulang kali. "Heeiiiii!!" seruan itu terdengar dari mulut Sekar Sengkuni yang tegak dengan mata melebar. Dilihatnya bagaimana keranjang yang melesat cepat itu, tiba-tiba saja berbelok. Asap hitam yang mengiringinya lenyap tertelan cahaya putih yang keluar dari silangan kedua tangan Galuh Tantri. Yang lebih mengejutkan, cahaya putih itu seperti memiliki mata. Berbalik dan menyergap laksana sebuah kain lebar. Plupp!Unduh
Laksana puluhan guntur yang menghantam bumi, ledakan luar biasa meletup dahsyat. Tanah muncrat setinggi empat tombak. Pepohonan menghangus. Dari muncratan tanah yang menghalangi pandangan, terlempar dua sosok tubuh ke belakang. Raja Naga cepat merangkapkan kedua tangannya di depan dada. Karena dirasakan hawa panas tinggi melingkupi sekujur tubuhnya. Di lain pihak, Kembang Darah masih terhuyung-huyung dengan bibir mengalirkan darah segar. Napasnya terputus-putus dengan sekujur tubuh terasa ngilu. Tak disadarinya kalau kain hitam yang dikenakannya telah terlepas hingga memperlihatkan bagian pangkal pahanya yang tertutup sehelai kain merah jambu. Buru-buru dikerahkan hawa murninya untuk menghilangkan rasa sakit yang tak terkira. Saat itulah Dewi Perenggut Sukma melesat cepat diiringi teriakan keras untuk menyambar Bunga Kemuning Biru yang masih dipegang Kembang Darah.Unduh
"Terkutuk! Kembalikan adik seperguruanku...," desisnya sambil menahan sakit.
"Setan muda! Aku tidak tahu kau berkata apa! Tapi yang kubutuhkan adalah.... Bunga Kemuning Biru!" geram Dewi Perenggut Sukma dengan sorot mata angkernya. Di kejap lain, tiba-tiba terlihat seringaian di bibirnya.
Setan Keris Kembar yang melihat seringaian itu sejenak mengerutkan kening.
"Aneh!" desisnya dalam hati. "Mengapa kekejamannya seperti memudar? Mengapa dia menyeringai seperti itu? Apa yang dipikirkan dan diinginkannya?"
Sebelum lelaki itu dapat menemukan jawabannya, terdengar suara Dewi Perenggut Sukma, "Setan Keris Kembar! Menyingkir dari sini untuk sementara!"
Didera rasa penasarannya untuk mengetahui arti senyuman perempuan berpakaian merah itu, Setan Keris Kembar berkata, "Mengapa kau menyuruhku menyingkir? Orang yang kita inginkan sudah ada di depan mata! Kau tinggal memeriksanya, apakah Bunga Kemuning Biru itu berada padanya atau tidak! Bisa jadi berada pada adik seperguruannya yang sejak tadi diserukannya itu!"
Unduh
Baik Pendekar Kaki Satu maupun Kala Sringgil sama-sama tak buka mulut. Masing-masing orang memperhatikan Jala Sringgil. Sesaat kemudian, Pendekar Kaki Satu berkata, "Usul yang kau kemukakan itu memang baik. Kemungkinan besar untuk meringkus pemuda itu dapat kita lakukan dengan lebih mudah. Tetapi, aku menangkap gelagat lain dari ucapan Musang Berjanggut."
Pendekar Kaki Satu menghentikan ucapannya. Lalu memandangi Kala Sringgil dan Jala Sringgil bergantian. Karena kedua orang berkepala plontos itu tak ada yang menjawab. Segera dilanjutkan lagi kata-katanya, "Musang Berjanggut mengatakan, bencana akan terjadi di Lembah Lingkar.
Unduh
"Ceritakan!" sahut Resi Hitam, lalu berkata pada Ratu Tongkat Ular, "Tubuhmu sudah tidak seindah dulu. Sudah peot. Dan sepasang bukitmu yang dulu montok dan enak kusedot, sekarang tinggal seperti pepaya busuk! Tapi... aku masih tetap mau menikmati tubuhmu...."
Gelegak amarah Ratu Tongkat Ular sudah sampai ke ubun-ubun, tetapi tetap ditindih kemarahannya.
Datuk Bunaeng segera menceritakan apa yang telah terjadi di Perguruan Laba-laba Perak. Diceritakan juga kemungkinan akan hadirnya Langlang Benua.
Resi Hitam mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Aku pernah bertarung dengan Langlang Benua dan tak seorang pun di antara kami yang memenangkan pertarungan itu. Hingga saat ini aku belum tahu siapakah yang lebih hebat antara aku dengannya. Hemm... rasanya boleh juga untuk bertarung lagi dengannya."
Unduh
"Hemmm... mengapa si pencuri justru, melemparkannya kepadaku? Apa maksudnya?"
Sambil menatap kalung itu, Raja Naga melompat turun. Cukup lama dia terdiam memikirkan kemungkinan yang terjadi, sampai kemudian kepalanya menegak. Sorot matanya kian angker karena kedua matanya membuka lebar.
"Astaga. Jangan-jangan.., si pencuri hendak melimpahkan tanggung jawabnya kepadaku! Terkutuk! Aku harus...”
"Lihat! Di tangannya tergenggam kalung Laba-laba Perak! Jelas dia pencurinya!" seruan keras itu mendadak saja terdengar,
Unduh
Pemuda berompi ungu yang memiliki pandangan angker itu kembali ke desa Karang Bambu. Setelah mendengar apa yang dipercakapkan antara Gayang Lumajang dengan Ratu Segala Bidadari, Boma Paksi merasa kalau memang dia harus kembali ke desa Karang Bambu. Dia merasa pasti kalau orang yang entah siapa saat ini sedang ditunggu oleh Ratu Segala Bidadari akan tiba di desa itu.
Ditelusuri pasar yang ramai. Kalau sebelumnya kehadirannya tidak terlalu dipedulikan, kali ini orang-orang yang berdagang dan membeli di pasar, memperhatikannya. Raja Naga tersenyum berulang-ulang. Dia harus bersikap wajar agar tidak memancing kesalah-pahaman.
Unduh
"Kraaakk!"
Suara tulang patah terdengar cukup keras, menyusul tubuhnya meluncur terdorong oleh keranda yang tiba-tiba melesat dan menghantam punggungnya tadi.
Braaakkk!
Wajah serta dadanya kontan remuk begitu menghantam sebuah pohon.
Wuuungg!!
Keranda itu melesat berbalik dan jatuh lagi di hadapan Keranda Iblis setelah menyusur tanah.
Di lain pihak, Ratu Tanah Terbuang tersenyum puas. Dia juga tidak menyangka akan berjumpa dengan adik seperguruan gurunya. Ini merupakan satu kesenangan tersendiri.
"Paman...," panggilnya sambil merangkapkan kedua tangannya di depan dada. Meskipun suaranya sopan, tetapi tatapannya tetap mengandung kecurigaan.
Unduh
Blaaaarrr!!
Putaran angin hitam itu berpentalan ke sana kemari! Beberapa pohon yang tumbang terseret jauh. Berhamburannya angin hitam disertai muncratan tanah menambah kepekatan tempat itu hingga sangat sukar ditembus oleh pandangan. Suara gerengan dari mulut si perempuan bertelanjang dada yang telah dikuasai oleh ilmu hitam milik Sangga Langit, terdengar sangat keras disusul dengan tanah yang bergetar-getar hebat!
Rupanya perempuan bertelanjang dada itu sudah menjejakkan kaki kanan kirinya dengan kegusaran tinggi di atas tanah. Secara tiba-tiba tubuhnya melayang ke depan. Jotosannya meluncur cepat.
Desss!!
Dari bubungan tanah yang menghalangi pandangan, terlempar satu sosok tubuh deras ke belakang.
Unduh
"Orang tua... biarlah aku yang akan menangani urusan Patung Darah Dewa...."
"Kau tak tahu apa yang sedang kau hadapi."
"Aku telah memahaminya."
"Tetapi hanya sebagian kecil yang dapat kau pahami, karena aku sendiri tak memahaminya. Satu satunya orang yang memahami urusan ini adalah Kiai Gede Arum. Tetapi dia telah tewas akibat racun yang dilakukan oleh Ratu Dayang-dayang yang merupakan muridnya dan juga adik seperguruanku...."
Raja Naga tersenyum.
"Biarlah aku yang menangani urusan ini. Bila aku tak mampu melakukannya, aku akan mencarimu untuk meminta bantuan...."
Mendengar kata-kata itu Peramal Sakti tersenyum.
Unduh
PEMUDA bersisik! Kemunculanmu boleh menggetarkan hati manusia pincang itu! Tetapi jangan berharap aku akan kecut menghadapimu!" seru si bayangan kuning setelah berhasil menguasai keseimbangannya. Kedua tangannya terasa ngilu bukan main. Segera dialiri tenaga dalamnya untuk menghilangkan rasa ngilu itu.
Raja Naga yang tadi sudah cepat bergerak untuk mematahkan serangan Dayang Kuning pada Pengemis Pincang, merandek pelan. Tatapannya tetap angker.
"Kau terlalu ringan tangan rupanya!"
"Manusia pincang itu telah melakukan tindakan busuk terhadap saudara seperguruanku?! Apakah tak patut bila kubalas memperlakukannya dengan tindakan yang sama?!" bentak Dayang Kuning sengit.
Unduh
Gelombang angin yang seketika membuat tempat itu diamuk badai, terus menghantam! apa saja yang ada di sekitarnya. Pepohonan tumbang terseret, ranggasan semak pecah rengkah dan tanah membubung tinggi. Kiamat kecil telah datang!
Pengemis Pincang sudah merunduk dengan mengerahkan tenaga dalamnya. Raja Naga merebahkan tubuh di atas tanah dan menamengi diri dengan tenaga dalam. Pemuda dari Lembah Naga itu sebenarnya bisa menahan gelombang angin yang mengarah padanya, tetapi bila dilakukannya itu berarti keberadaannya di sana akan diketahui oleh Pengemis Pincang dan Demit Merah. Makanya dia memutuskan untuk merebahkan tubuh saja!
Unduh
"Jangan banyak omong! Kau telah memfitnah, Boma!"
"Yang kukatakan adalah sebuah kebenaran! Dadung Bongkok telah menjejali pikiranmu dengan sebuah penjelasan palsu! Dia telah memutarbalikkan kenyataan!"
"Selama ini aku sangat menghormati guruku, karena kebaikannya yang telah merawatku selama enam belas tahun! Dia adalah pengganti kedua orangtuaku yang tak pernah kukenal!"
"Kau tahu bagaimana kau bisa menjadi muridnya?!"
Unduh
"Kau telah membunuh dua sahabatku! Rasanya, aku memang berhak untuk mencabut nyawamu sekarang!"
"Jangan berbangga dulu dengan apa yang kau lakukan barusan!" sambut Hantu Menara Berkabut dingin. Dia masih tetap kering, karena sosoknya seperti terpayungi yang menghalangi derasnya butiran hujan.
Unduh
"Ketegaran bocah ini luar biasa. Dia paham apa yang dikatakan ibunya, kalau dia tak akan pernah lagi melihat ayahnya mulai besok. Tetapi dia dapat bersikap tenang. Ah, rupanya... pencarianku selama bertahun-tahun memang harus kusudahi. Bocah itulah yang kucari selama ini, bocah yang hadir dalam mimpi-mimpiku. Tetapi... apakah Dewi Lontar mau menyerahkannya kepadaku?"
Unduh