Tampilkan postingan dengan label Boma Gendenk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Boma Gendenk. Tampilkan semua postingan
"Pak, saya tidak dusta...." Sumitro Danurejo angkat tangan kirinya, memberi isyarat agar sang istri menghentikan ucapannya. Lalu dengan suara perlahan lelaki ini berkata. "Barusan aku juga mengalami satu keanehan. Aku mendengar suara Boma, katanya mau menolong pekerjaanku. Aku suruh dia membawa kaos yang sudah disablon ke dalam. Ke ruang tamu. Lalu kaos-kaos itu seperti melayang di udara. Aku ikuti. Ternyata kaos itu sudah berada di atas kursi ruang tamu. Anehnya aku sama sekali tidak melihat Boma."
Unduh
"Ron! Apa-apaan sih lu! Buka!" teriak Boma dari dalam.
"Udah belon?!" teriak Ronny Celepuk. "Apa yang udah?!" teriak Boma dari dalam. "Ala, belagak bodo kau!" teriak Andi. "Brengsek kau Ron! Buka buruan!" "Kesempatan Bom! Kesempatan!" teriak Rio. "Kangen... Orang kangen musti dikasihani Bom!"
Yang satu itu suka menggaruk kepala. Yang ini menowel hidung. Hik... hik... hik. Apakah aku telah menemukan anak yang selama ini aku cari-cari di Alam roh? Aku harus memastikan. Petunjuk mengatakan dia memiliki tanda kedua." "Anak setan.... Benar dia. Tanda kedua ada di tumit kanannya, Satu tahi lalat besar...."
Sinto Gendeng menggeram. Walau cuma sekilas namun dia sudah bisa menduga siapa orang yang menolong dan melarikan Si Muka Bangkai.
"Kunti Api.... Dedengkot golongan hitam itu masih gentayangan rupanya. Pasti dia yang menyuruh Si Muka Bangkai untuk mencelakai diriku...." Si nenek geleng-gelengkan kepala.
"Orang-orang dari dunia hitam agaknya telah bergerak. Anak setan itu. Aku harus segera menemuinya. Orang-orang golongan hitam sudah tahu rencana besarku. Anak itu dalam bahaya. Dirinya harus segera diisi ilmu kepandaian...."
Unduh
Sinto Gendeng, nenek sakti dari puncak Gunung Gede terpekik. Tubuhnya mencelat menghantam kios rokok hingga kios itu terbalik roboh, isinya berantakan ke mana-mana. Pasiran yang tengah ditanyai Polisi melengak kaget ketika menyaksikan apa yang terjadi dengan kios miliknya. Tanpa perdulikan petugas yang tengah menanyai, Pasiran menghambur lari ke arah kios rokoknya.
Unduh