Tampilkan postingan dengan label Pendekar Cambuk Naga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendekar Cambuk Naga. Tampilkan semua postingan
"Kau kenal dengan perempuan penguasa Pulau Kramat itu?" tanya Klowor. "Aku hanya tahu namanya." "Lho, lantas kau ke sana mau apa? Kau ingin bertemu dengannya untuk apa?" ."O, itu rahasia...!" jawab Kartika bernada angkuh. "Sebenarnya, kita punya satu tujuan." "Kau juga ingin ke Pulau Kramat itu?" "Ya. Aku harus bertemu dengan perempuan yang bernama Nyai Katri." "Untuk apa?" "O, itu rahasia," jawab Klowor menirukan jawaban Kartika. Kartika tertawa lirih. Baru sekarang Klowor melihat dan mendengar tawa perempuan cantik itu. Oh, indah dan merdu sekali kedengarannya. Klowor benar-benar mengagumi tawa yang renyah itu. Bahkan ia sampai terbengong memandang Kartika dalam tawa yang indah itu.Unduh
"Cambukku ini...." kata Klowor. "Bukan cambuk sembarangan, melainkan cambuk pusaka." "Cambuk pusaka?! Wah, hebat juga kau diam-diam, punya urusan tentang pusaka, ya? Pusaka milikmu sendiri, maksudnya?" "Hemm... bagaimana, ya? Cambuk itu bisa dikatakan milikku, tapi bukan juga milikku. Sebab.... Begini, Ki. Aku diberi sebuah cambuk oleh orang sakti, tetapi saat ini ada yang harus kulakukan agar cambuk itu benar-benar resmi jadi milikku." "Wah, beruntung sekali kau. Cambuk apa namanya?" "Pusaka... Cambuk Naga...." suara Klowor berbisik, namun justru mengagetkan orang yang diajak bicara. Orang beruban tipis itu menatap Raden Klowor tidak berkedip. Sampai lama. "Kau,., kau main-main, ya?" "O, tidak, Ki. Aku sungguh-sungguh diberi pusaka yang bernama Cambuk Naga, dan...."Unduh
Detak-detak jantung Lanangseta seperti meledak-ledak berulangkali. Ia bergegas lari ke dalam rumah. Berseru dalam kecemasan:
"Yaaaaang...!" Ia memanggil Kirana dengan sebutan; Yang, atau Sayang. Karena, jika ia memanggil atau menyebutkan nama istrinya, maka akan terjadi hujan badai yang mengerikan, (dalam seri: Misteri Tebing Neraka).
"Yaaaang....? Apa yang terjadi...?!" Lanangseta kebingungan, bergerak dengan serba panik, karena ia tidak menemukan Kirana di dalam rumah. Bahkan Raden Klowor pun tak ada di mana-mana. Ia bergegas ke belakang rumah, oh... tak ada siapa-siapa di sana. Ia kembali lagi ke dalam dan memperhatikan barang-barang yang berantakan bagai habis dilanda gempa hebat. Nafas Lanang memburu, matanya memandang nanar. Garang. Giginya menggeletuk dengan kedua tangan menggenggam kuat-kuat. Ada dendam yang membakar darahnya. Ada kemarahan yang menyayat hatinya. Istrinya hilang, dan tak ada tanda-tanda ke mana perginya.
Unduh
Laksamana Chou ingin mengatakan sesuatu, namun ia jadi terhenti setelah melihat bahwa rompi kebal senjatanya terputus pada bagian salah satu pundaknya, dan bagian lainnya bagai disayat-sayat binatang buas. Ia cukup terbengong melihat nasib dirinya. Namun kedongkolannya pun semakin bertambah. Karena itu, ia segera menggerakkan kedua tangan, jari-jarinya menjadi kaku, dan ia segera mengibaskan kedua tangan ke depan, bersilang-silang dengan cepat. Makin lama semakin cepat sehingga gerakan itu membuatnya seperti bertangan seribu.
Semakin lama gerakan itu semakin cepat dan sukar diperhatikan tangan mana yang akan menyerang. Yang jelas, Laksamana Chou pun segera melesat bagaikan anak panah menuju ke arah Lanangseta.
Unduh
"Percuma saja..." ujar Jaka Bego lesu. "Badanku tak akan bisa segar. Tetap saja kurus kerempeng begini dari dulu sampai sekarang. Dulu juga ada orang yang menyuruhku minum jamu. Katanya jamu gemuk badan. Setelah kuminum beberapa gelas, badanku tetap saja kurus kerempeng, tidak bisa gemuk-gemuk juga. Malahan perutku kembung karena kebanyakan minum jamu itu."
"Ramuan ini memang tidak bisa menggemukkan badan, hanya membuat badan menjadi segar, sehat dan..."
"Bersemangat tinggi," sahut Andini seraya mengikik. Tangannya masih saja mempermainkan sesuatu pada diri Jaka Bego sehingga Jaka Bego sesekali menggelinjang dalam desis yang pendek.
"Apakah menurut kalian aku kurang mempunyai semangat hidup?" tanya Jaka Bego yang tidak paham dengan arah pembicaraan mereka.
Unduh
Prabima tak sempat menyadari kata-kata Andini. Ia sudah semakin bernafsu membunuh Ludiro dengan cincinnya. Ia menyerang Ludiro dengan hentakan tangan mengibas lagi, tetapi: "Taaarr...!" Cambuk Naga melecut tangan Prabima, dan Prabima menjerit: "Aaaaahh...!" Pergelangan tangan itu nyaris putus total. Andini segera menarik Prabima, dan segera membawa lari pemuda itu dengan tangan terkuak ngeri.
"Tangguhkan dulu, Prabima...! Tunggu saat yang baik...!" Andini kabur bersama Prabima, dan Ludiro meringis kesakitan.
Unduh
Rupanya Prabima Wardana selalu berusaha menggagalkan rencana perkawinan Kirana dengan Lanangseta; Si Pendekar Pusar Bumi yang berhak memakai gelar Malaikat Pedang Sakti. Pada saat Domas Lanangseta memburu pencuri bunga Teratai Wingit ke Pulau Kramat, Prabima menyempatkan datang bertemu dengan Kirana Sari. Ia mengharapkan Kirana mau menerima cintanya yang terpendam dari dulu. Tapi kenyataannya Kirana justru berusaha membunuh Prabima. Prabima tak mau melukai Kirana, ia hanya pergi dengan meninggalkan ancaman akan memakan bunga Teratai Wingit yang dicurinya itu. Kirana merasa kebingungan, sebab hanya orang yang memakan bunga Teratai Wingit itulah yang harus menjadi suami Kirana, agar darah Kirana bisa menyatu, dan tidak menjadi busuk dalam seminggu setelah bersebadan dengan lelaki itu.
Adapun Lanangseta, ternyata sedikit terhalang gerakannya, karena Andini, gadis manja bekas kekasih adik kembar Lanangseta itu selalu menguntitnya.
Dapatkah Lanangseta mengelak dari gairah Andini yang semakin menggila itu?
Unduh
Laksamana Chou memandang Jaka Bego dengan-kedongkolan yang masih ditahannya. Maksudnya ia ingin menyuruh Jaka Bego diam, tidak membicarakan soal gelar. Tapi Jaka Bego mengira, Laksamana ragu-ragu dalam memberikan gelar untuk Lanangseta. Makanya Jaka Bego segera menyahut lagi, "Tuan... saya rasa gelar Pendekar Pusar Perempuan itu cukup langka di dunia ini. Iya, kan...? Atau... atau, o ya, saya punya gagasan lain. Begini... bagaimana kalau kita berikan gelar baru kepadanya dengan julukan Pendekar Maha Pusar... eh, jangan-jangan... jangan itu. Ini saja, hem... Pendekar... Pendekar Malaikat Pusar. Nah, itu saja, Tuan. Saya rasa itu cocok untuk...!"
Unduh
"Nah, sekarang apa tujuanmu ke mari?" tanya Wijaya.
"Aku akan menikah dengan seorang gadis, dan mas kawinnya adalah bunga teratai dari dalam goa ini."
Wijaya Buana tertawa, "Aku tahu, aku tahu...! Itu yang namanya teratai Wingit."
Lanangseta terperanjat sedikit, nama teratai itu sama persis dengan nama rumah Kirana. Lalu apa sebenarnya hubungan antara bunga teratai yang ada di goa tersebut dengan rumah kediaman Kirana itu? Lanang tak sempat berpikir panjang lebar karena Gopo telah menggeret tangannya seraya berkata, "Mari kutunjukkan tempatnya...! Bunga teratai itu adalah satu-satunya bunga yang tumbuh di dalam goa ini. Letaknya di tengah telaga yang kuselami dulu itu. Nah, mari kubawa kau ke sana. Tapi, o, ya... sebaiknya kau tetap harus meminta ijin kepada Sekar Pamikat lebih dulu, sebab ia pernah melarangku mengambil bunga tersebut sekalipun aku kagum terhadap keindahan bunga itu."
Unduh
Lanangseta sebenarnya ingin mengetahui siapa Jaka Bego itu? Mengapa sekarang jadi lengket kepadanya dan selalu mengikutinya? Apa yang dicari oleh Jaka Bego itu? Tetapi agaknya Lanangseta belum mempunyai waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu. Dia masih membiarkan Jaka Bego mengikutinya terus, seakan mendampinginya ke mana saja. Dan tenaganya masih bisa dimanfaatkan untuk disuruh ini-itu oleh Lanangseta. Ia bagai ingin mengabdi kepada Pendekar Pusar Bumi yang sudah menyandang gelar Malaikat Pedang Sakti. Sepanjang tidak terlalu menjengkelkan dan tidak membuat keributan, Lanang masih membiarkannya.
Unduh
Kerinduan, cinta, birahi, ternyata mampu menghancurkan diri seseorang jika tak mampu mengendalikannya. Dan kehancuran itulah yang sedang melanda kekasih Pendekar Pusar Bumi, yang menyandang nama asli Lanangseta. Hal ini bermula dari kemunculan Prabima Wardana pemuda yang mengenal ciri-ciri Lanangseta, bahkan hafal betul dengan gelar kehormatan Domas, yang diberikan oleh kakek buyut Lanangseta itu. Siapa pemuda tersebut? Mengapa ia memiliki ilmu serupa dengan Kirana Sari? Bahkan ilmu badai Kirana dapat dihentikan dengan satu kali sebutan:
"Syalindra...!"
Dan badai itu pun berhenti seketika. Lanangseta tak sempat meninggalkan pemuda tampan. Jarum beracun menyerangnya. Hanya satu jarum yang menusuk kaki, namun membuat kaki itu menjadi....
Pemuda misterius Prabima Wardana itu, ia mengenal betul tentang Kirana Sari dan keluarganya
Unduh
"Kalau kau melawanku tanpa pedang itu, kau akan kalah. Aku punya ilmu silat lebih tinggi dari kamu. Kau bisa mempelajari ilmu itu, kalau kau mau bertarumg denganku memakai pedangmu. Kuajarkan dulu semua ilmuku, dan kalau sudah habis, baru kita bertarung. Kujamin kau pasti menang...."
"Jadi apa kemauan Kakek sebenarnya?"
"Mati...! Bagiku mati itu indah!"
Pendekar Pusar Bumi, atau Lanangseta masih belum bisa memahami apa sebenarnya keinginan kakek tua itu. Si Tongkat Besi. bersikeras mendesak Domas Lanangseta untuk membunuhnya memakai Pedang Wisa Kobra, tetapi Lanangseta tidak mau melakukan hal itu. Ada pekerjaan lain yang lebih penting yang harus dilakukan, yaitu menghancurkan Tebing Neraka, dan mencari bunga teratai Goa Malaikat. Itulah mas kawin buat Kirana Sari.
Tetapi orang-orang Tebing Neraka bukan orang-orang kacangan yang mudah dirobohkan.
Unduh
Jika manusia melihat raganya berjalan di luar sukma, sungguh merupakan penyiksaan yang teramat berat. Begitu pula yang dialami seorang gadis: Sekar Pamikat yang bergelar Pendekar Cambuk Naga. Roh yang ada dalam tubuh cantik itu, bukan rohnya sendiri, melainkan suatu kejahatan ilmu Giling Sukma dari Nawang Puri. Ia harus merebut kembali raganya. Ia ingin membuktikan kepada seluruh orang di rimba persilatan, bahwa ia mempunyai raga yang patut dibanggakan.
Tapi mungkinkah ia dapat melakukannya? Jika ia melukai Nawang Puri yang memakai raganya, apakah bukan berarti ia melukai dirinya sendiri?
Mau tidak mau, Sekar Pamikat harus menerima kehadiran Lanangseta, seorang pemuda yang punya gelar Pendekar Pusar Bumi. Pemuda inilah yang akan menikah dengan Nawang Puri, namun ia tidak tahu bahwa yang ia cintai itu adalah raga dari Sekar Pamikat, yang dikenal dengan sebutan Pendekar Cambuk Naga.
Unduh
Pendekar Cambuk Naga kali ini dihadapkan pada suatu tantangan yang membakar darah: calon suaminya Pendekar Pusar Bumi diculik menjelang saat perkawinan berlangsung. Ludiro tak dapat tinggal diam sejak kepergian Sekar Pamikat dalam upaya merebut kembali calon suaminya. Ludiro sempat memperoleh keterangan, bahwa penculiknya adalah Peri Sedang Bangkai. Di mana dan siapa Peri Sendang Bangkai itu? Hanya Penghulu Badra yang niengetahuinya, tapi sebelum tuntas keterangan terluncur dari mulutnya, Penghulu Badra telah terbunuh oleh anak buah Peri Sendang Bangkai. Ludiro memburu pembunuh itu. Namun ia terpaksa berhubungan dengan seorang putri Panglima Kerajaan Sebrang: Andini. Ia juga mencari kekasihnya yang juga diculik oleh Peri Sendang Bangkai.
Lalu apa sebenarnya yang terjadi di Sana? Untuk apa Sendang Bangkai menculik pendekar-pendekar perkasa? Bagaimana bisa kalau seorang pendekar perkasa dicuilik oleh seorang perempuan?
Unduh
Goa itu menjadi incaran sekelompok orang tertentu. Pendekar Pusar Bumi berada dalam goa tersebut, sehingga ia terpaksa mendapat dua tuduhan: sebagai pemilik goa, dan sebagai pelanggar wilayah goa suci. Pendekar yang tampan rupa itu terpaksa berhadapan dengan seorang perempuan anggun berilmu tinggi, yang mengaku leluhurnya hilang secara misterius di wilayah goa itu, di Bukit Badai.
Siapa nama perempuan berilmu tinggi itu? Ini yang menjadi masalah bagi Pendekar Pusar Bumi. Nama itu ternyata mempunyai arti yang cukup penting dan sangat berbahaya jika diucapkan sewaktu-waktu. Sayang perempuan anggun berilmu tinggi itu tak sanggup menunjukkan di mana tempat Sekar Pamikat menghilang, dan kenapa tubuh Pendekar Maha Pedang sirna begitu saja di dalam goa tersebut.
Pendekar Pusar Bumi mengambil kesimpulan, bahwa goa tersebut tak lebih dari sekedar tempat yang menjengkelkan. Penuh teka-teki yang menjenuhkan.
Unduh