Tampilkan postingan dengan label Pendekar Hina Kelana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendekar Hina Kelana. Tampilkan semua postingan
"Aku tidak percaya patung itu telah hilang, Wiku...!" katanya kemudian setelah agak lama hanya berdiam diri. Ketua perguruan Teratai Putih itu tersentak kaget. Hal ini bukan karena Wiku Swanda merasa gentar menghadapi si Tombak Perak. Namun disebabkan sikap Rahasia yang ngotot, seolah ia merupakan pemilik Patung Kematian. Padahal sejak beradunya tenaga dalam tadi, jelas-jelas Wiku tua ini dapat merasakan betapa tenaga dalam yang dimilikinya jauh berada di atas lawannya. Apakah dengan kenyataan ini Rahasia masih juga belum tahu gelagat?Unduh
Berbagai perguruan bersatu saling bahu membahu dengan perguruan lainnya. Dengan satu tujuan membasmi siluman serigala itu dalam waktu secepatnya. Namun sampai sejauh itu tanda-tanda mereka akan berhasil memusnahkan manusia siluman tersebut masih juga belum kelihatan. Bahkan kian hari usaha kalangan persilatan hanya menambah deretan angka korban manusia siluman itu semakin bertambah banyak.Unduh
Dalam perasaan yang serba tidak menentu itu, Buang Sengketa terus mengayunkan lang-kahnya. Sesekali ia pun mengerahkan ajian Sepi Angin yang selama malang melintang dalam dunia persilatan dikenal sebagai ilmu lari cepat yang tidak perlu lagi diragukan akan kehebatannya. Kini setelah mendengar kabar dan keberadaan penyebab terjadinya malapetaka itu. Hatinya telah menjadi mantap untuk segera sampai di daerah danau Sengguling, dalam usahanya menemukan seorang musuh yang menurut cerita Si Bangkotan Koreng Seribu merupakan seorang Panglima perang utama di Negeri leluhur ayahandanya.Unduh
"Pedang Kilat...?" gumam Tengkorak Putih sambil berusaha merenungi kata-kata yang baru saja diucapkan oleh pemuda bertopi lebar itu. Tetapi setelah agak lama memutar otak. Ia sendiri akhirnya menarik kesimpulan. Bahwa pada waktu-waktu sebelumnya mereka memang belum pernah bertemu atau mendengar sebuah julukan yang agak menyeramkan ini. "Pedang Kilat! Aku tidak mengenal siapapun engkau. Tapi kuharap menyingkirlah dari hadapan kami. Jika tidak aku pasti segera memberi pelajaran padamu...!" teriak Tengkorak Putih.Unduh
Sementara itu dari arah Istana Iblis kembali terdengar suara siulan yang tiada teratur. Suara itu sekarang telah diketahui oleh Buang Sengketa sebagai pembangkit orang-orang yang telah mati. Pada kenyataannya, seiring dengan suara siulan yang tiada berketentuan itu mayat-mayat bergelimpangan nampak bergerak-gerak. Bahkan tidak lama kemudian telah bangkit kembali. Tetapi anehnya sekarang mayat-mayat itu saling serang sesamanya.Unduh
"Jangan mimpi...!'' cibir Sakapala, kemudian meludah beberapa kali "Kakang Pramesta mengapa banyak basa-basi lebih baik kita ringkus saja dia!" kata yang lain-lainnya merasa sudah tidak sabar lagi. Bah-kan dua diantaranya mulai melepas senjata yang sama untuk menghadapi Sakapala "Jangan bertindak! Biarkan aku sendiri yang akan meringkusnya...!" Setelah bicara begitu, entah bagaimana rupanya Pramesta memanfaatkan kelengahan Sakapala yang hanya beberapa saat itu. Sedetik tubuhnya berkelebat, ketika Sakapala menyadari apa sesungguhnya yang akan dilakukan oleh Pramesta, semuanya terasa sudah terlambat.Unduh
.jpg)
"Kematian yang sangat menyedihkan, dilakukan oleh tangan yang sama...! Tapi jangan sekali-kali engkau mempunyai prasangka yang bukan-bukan kepada kami. Aku hanya ingin membantumu, dan mencari siapa sesungguhnya yang melakukan teror dengan cara di luar batas ini...!" kata si pemuda berusaha meyakinkan. "Pertama-tama yang ingin kutanyakan padamu, siapakah yang memberi perintah untuk melakukan penangkapan atas diri Datuk Empat...?" Panglima Nawang nampaknya kurang senang dengan pertanyaan yang diajukan oleh si pemuda. "Kau bukan seorang mantri penyidik. Sobat...! Pertanyaan yang kau ajukan itu rasanya tidak berguna sama sekali...!" geramnya.Unduh
.jpg)
Wanti Sarati dan Duwur saling berhadapan, laki-laki bertubuh raksasa itu nampak semakin pucat wajahnya. Tetapi lain halnya dengan Wanti Sarati. Gadis ini kelihatan masih tenang-tenang saja, meskipun hatinya mulai diliputi perasaan tegang. "Guru...! Perbuatan yang mana lagi akan kau tempuh untuk menyengsarakan semua orang. Kedatanganku kemari bukanlah untuk mempertaruhkan kehormatan orang lain sebagai jaminan keselamatanku. Tak pernah terbayang dalam anganku untuk bertindak sepengecut itu. Hidupku tidak ada artinya bila dibandingkan dengan sekian banyak jiwa yang tercabik-cabik kehormatannya oleh ulah murid kesayanganmu itu...! Aku rela mati demi membantu nisanak ini, daripada aku harus menuruti keinginanmu yang keji...!" tukas Duwur merasa tidak mempunyai pilihan lain.Unduh
.jpg)
"Sudah kukatakan Geluk Emas itu tak ada di tanganku, kalaupun ada masakan aku mau memberikannya pada kalian begitu saja, hek... hik...hik...! Sudah jelas kalian hanyalah sebang-sanya perampok tengik yang pantas untuk di gebuk...!" ejek Nyai Pamekasan sambil tergelak-gelak. Mendapat ejekan sedemikian rupa, kedua laki-laki gemuk yang memiliki julukan Gendewa Maut ini menjadi gusar. Sambil bersiap-siap membangun serangan kembali. Salah seorang di antara mereka yang memiliki jambang dan kumis yang begitu lebat, membentak: "Kurang ajar! Kau memang tidak bisa diajak berdamai. Jalan satu-satunya yang paling baik buatmu adalah mampus...!"Unduh
"Zsssss...!"Unduh
Ular raksasa jejadian ini mendesis-desis, air liur berlelehan dari lidahnya yang menjulur panjang dan bercabang. Selanjutnya dengan gerakan yang sangat cepat, ular itupun menjulurkan tubuhnya. Bagian kepala dengan disertai bunyi mendesis, nampak menyambar ke arah tubuh Lukita Sari. Gadis bertopi caping ini menyambutnya dengan satu pukulan yang disertai dengan pengerahan setengah dari tenaga dalam yang dimilikinya.
Tapi alangkah kagetnya pemuda itu manakala melihat bahwa kedua bayangan itu melesat dengan cepat. Padahal dia telah kerahkan separuh ilmu lari cepatnya, tapi kedua bayangan itu tak juga terkejar. Dengan geram dia mengerahkan seluruh kekuatan untuk mengempos ajian Sepi Angin. Tubuhnya melesat cepat bagai sliweran angin yang berhembus kencang. Dengan mengambil jalan memutar, dia bermaksud menjebak pengintai itu. Setelah dirasa bahwa kedua bayangan itu tertinggal jauh, Buang Sengketa menunggu dari sebuah cabang pohon yang menurut perkiraannya pastilah dilalui kedua orang itu.Unduh
"Kelana...! Tolong...! Toloooong...!" teriak satu suara. Pemuda itu mengenali betul siapa yang mengeluarkan suara itu. Datangnya dari arah bayangan yang sedang berkelebat. Hatinya mulai was-was. Apa yang terjadi pada Tanjung Sari? Apakah dia dalam keadaan bahaya? Bayangan itu hampir tersusul oleh Buang Sengketa. Kini dia dapat melihat dengan jelas. Tanjung Sari sedang dipanggul oleh seseorang bertubuh pendek. Tak jelas rupa orang itu dari belakang. Tapi ilmu larinya sungguh hebat luar biasa. Dan pemuda itu terpaksa mengerahkan ajian Sepi Angin sampai tingkat yang tertinggi. Kalau tak tersusul dalam beberapa saat ini, sudah bisa dipastikan gadis itu yang berteriak-teriak ketakutan akan dibawa orang itu ke tempatnya, dan pemuda itu hampir setengah yakin bahwa orang itu bersarang di sekitar danau yang selalu ditutupi asap itu.Unduh
"Chaaat...!" Dengan tiada mengerahkan kekuatannya, si nenek ceking menyentakkan senjatanya. Pedang terlepas, tubuh Bidadari Pedang Maut terguling-guling dengan wajah pucat seputih kain kapan. Namun perempuan ini segera pula bangkit, lalu memandang tajam pada Buang Sengketa yang tetap tegak di tempatnya sambil cengengesan. "Bocah berperiuk! Siapakah engkau ini...?" tanya ketua Perguruan Kerudung Biru tanpa merasa malu. "Untuk apa kau tanyakan namaku, nenek pikun...!" tukas si pemuda bersungut-sungut. "Ah... kau masih marah dengan segala tindakanku tadi...?" "Mungkin saja tidak! Tapi karena engkau hampir saja membelah kepalaku, sudah selayaknya kalau aku marah...!" Sambutnya ketus. "Hemm...! Maafkanlah aku...! Karena aku telah berperasangka buruk padamu. Penampilanmu yang tidak meyakinkan itu membuat aku mencurigaimu...!"Unduh
Ketika Pendekar Hina Kelana sedang melamun seorang diri di atas pohon itu. Tiba-tiba pendengarannya yang tajam mendengar suara isak tangis. Sayup-sayup kedengarannya. Pemuda itu nampak menyapu pandang ke arah sekelilingnya. Tapi dia belum melihat adanya orang lain di sekitar tempat itu. Namun ketika Buang Sengketa menoleh ke arah lain, maka terlihatlah sesosok tubuh berjalan tersaruk-saruk dengan wajah tertunduk, sekali dua perempuan itu menyeka air matanya yang bergulir di pipi. Melihat keadaan perempuan itu, Buang dapat memastikan pastilah dia seorang anak orang berada. Tapi yang membuat si pemuda merasa keheranan mengapa perempuan itu, berkeliaran di tempat yang sunyi seorang diri? Padahal selain binatang buas. Bukan tak mungkin sewaktu-waktu orang jahat berkeliaran pula di tempat itu. Sejauh itu, sungguh pun hatinya diliputi oleh rasa keingintahuan, namun dia masih tetap berada di tempatnya. Hingga pada akhirnya terdengar juga suara si wanita: "Kakang Andika....! Begitu tega kau meninggalkan diriku, aku menyadari sikapku yang dulu padamu. Tapi mengapa kini kau malah pergi begitu saja...?" rintih si gadis, dengan dada terasa menyesak.Unduh
"Gila! Meskipun aku masih mampu menguasai diri, tapi sampai di manakah daya tahanku. Sekarang ini saja aku mulai merasakan ada hawa aneh yang secara terus menerus menguasai jiwaku. Dan mungkin, gadis ini mengalami kejadian yang lebih hebat lagi dariku. Sebaiknya ku kerahkan hawa murni untuk membuyarkan pengaruh iblis yang telah merasuki jiwaku ini...!" Batin pemuda itu. Kemudian secara perlahan pemuda itu mulai mengerahkan tenaga dalamnya untuk membuyarkan pengaruh aneh yang sedang menguasai jiwanya. Namun setelah berulangkali dia mencoba, usahanya itu tidak juga mendatangkan hasil. "Celaka! Apa yang telah terjadi dengan diriku?" Dalam keadaan kebingungan akibat pengaruh aneh itu. Tiba-tiba Andini dengan suaranya yang lirih dan hampir-hampir tak terdengar berkata kembali.
Unduh
Sambil melepaskan pukulan 'Si Hina Kelana Merana' yang memancarkan cahaya merah berkilauan itu, ilmu Lengkingan Pemenggal Roh turut menyertainya. Pukulan pamungkas yang dilepaskan si pemuda terpecah menuju keempat penjuru mata angin. Sungguh pun pukulan itu menjadi tak sehebat andai dilepaskan secara utuh tetapi lengkingan ilmu Pemenggal Roh, memang terasa banyak membantu. Terbukti kosentrasi lawan menjadi terganggu sehingga tak dapat melakukan pukulan susulan lagi.
"Buuuuummm...!"
Bumi bagai dilanda selaksa gempa. Perkampungan orang-orang cacat menjadi porak poranda. Sementara pohon-pohon yang berada di sekitar tempat itu tampak bertumbangan, pasir dan debu mengepul ke udara, membubung tinggi dan membuat suasana di sekitarnya menjadi samar-samar. Mayat-mayat kaum cacat yang tergeletak di sekitar pertempuran berpelantingan ke segala penjuru. Sementara tubuh lawan-lawan si pemuda tercampak entah ke mana. Dengan susah payah pemuda itu berusaha membebaskan diri dari kungkungan tanah yang menjepit tubuhnya.
Unduh

Dialah Sepasang Walet Merah yang akhir-akhir ini mencuat namanya di kalangan persilatan karena sepak terjangnya yang membuat setiap orang menjadi ciut nyalinya karena kesadisan setiap tindak tanduknya. Mereka kini memang boleh berpuas hati dengan adanya sepasang Batu Walet Merah di tangannya. Mereka memang pantas memiliki ambisi untuk membentuk sebuah partai besar dalam rimba persilatan di wilayah Selatan. Tidak ada satu hambatan apa pun terkecuali mereka masih merasa bingung untuk menentukan markas mereka untuk hari-hari selanjutnya. Saat itu, Sepasang Walet Merah sedang berkasak masyuk dengan kekasihnya. Tampak Dewi Ratna Juwita sedang duduk dalam pelukan Bagas Salaya. Tangan pemuda itu tak henti-hentinya merambat kian ke mari pada bagian tubuh si gadis yang sesungguhnya masih merupakan kakak tirinya sendiri. Sesekali si gadis merintih manja, dan di lain saat membalas pelukan itu dengan hangat, (Maklum selain terkutuk mereka juga merupakan orang yang paling sesat). Lalu di saat lain mereka terlibat percakapan serius.
Unduh
"Bocah, siapakah kau ini? Begitu berani mencampuri urusan dedengkot Kuburan Iblis...!" membentak Nyai Plasik setelah memandang tajam pada si pemuda beberapa saat lamanya.
"He... he... he...! Aku cuma pengelana kok. Namaku kukira tak penting bagimu pula iblis jelek sepertimu tak perlu tahu lebih banyak siapa aku ini!" jawab Buang Sengketa mencemooh. Maka habislah sudah kesabaran yang dimiliki oleh Nyai Plasik. Kemudian tanpa berkata-kata lagi Nyai Plasik dan muridnya langsung menyerang pemuda keturunan Raja Ular Piton Utara ini dengan pukulan-pukulan beracun yang sangat ganas. Kini pemuda itulah yang menjadi pelampiasan kemarahan Nyai Plasik. Buang sadar betapa tiada guna mempergunakan Jurus Kesabaran 'Koreng Seribu' apalagi dia sendiri sempat melihat betapa telengasnya manusia muka rusak itu.
Unduh
"Peringatan buat kalian yang lain untuk jujur mengikuti segala perintahku!" kata Singalodra sambil putar pandangan ke seluruh ruangan. "Kalau kataku harus pertahankan sesuatu, maka nyawa kalian taruhannya dan jangan kembali dengan nyawa melekat di tubuh walau untuk alasan apa pun. Beda kalau kuperintahkan kalian untuk merampok atau menculik perempuan-perempuan cantik. Kalian wajib menyelamatkan selembar nyawa kalian bila musuh terlalu tangguh untuk dihadapi. Ingat baik-baik hal itu!"
Setelah orang-orang yang berada di situ angguk-anggukkan kepala, Singalodra segera menyuruh mereka untuk keluar. Kecuali si Iblis Ular Hijau yang selalu berada di sampingnya.
Unduh
Kala itu Buang Sengketa sudah tiada memperdulikan kata-kata Warok, sebagai jawabannya, serta merta dia meraba pinggangnya. Kemudian laksana kilat, dia cabut pusaka Golok Buntung yang pamornya sangat menghebohkan itu. Jago istana Muara Panjang merasa tersirap darahnya begitu melihat sinar merah menyala yang terpancar dari pusaka di tangan Buang Sengketa. Bahkan mendadak dia dapat merasakan betapa udara di sekitar tempat itu berubah menjadi dingin luar biasa. Bahkan baik Warok, maupun Ambarwati yang baru saja menyelesaikan pertarungan dengan prajurit-prajurit kerajaan dan saat itu menonton pertarungan tak begitu jauh dari tempat itu terpaksa mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengusir hawa dingin yang terasa menggigit sampai ke tulang sumsum.
Unduh