Tampilkan postingan dengan label Pendekar Bayangan Sukma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendekar Bayangan Sukma. Tampilkan semua postingan
.jpg)
Lesmana berdiri. Menajamkan telinganya. "Ada langkah yang menuju kemari, Kang Anggada," bisiknya. Mantari juga mendengar. "Seperti langkah ratusan orang yang berbaris." Anggada mengangguk. "Ya. Dan membuatku curiga. Kita berada di kerajaan Kuripan. Tapi mau apa orang-orang itu seperti menuju kemari." Keadaan yang agak sepi, pecah dengan derap langkah yang terdengar agak keras. Kali ini seperti berpencar. Ketiganya segera waspada. Berdiri mengambil posisi dengan sigap.Unduh
.jpg)
"Dia bersembunyi di balik semak itu, Kakang...." kata Ambarwati. "Benar, Rayi... Dia tengah menyiapkan panah kembali. Dia penembak yang jitu." Orang yang sedang menyiapkan panahnya kembali itu tak lain adalah Pandu, yang sedang mengejar orang-orang yang menculik kekasihnya ke Bukit Kubur. Sebenarnya anak panah dan busur itu adalah untuk berburu, yang setiap saat terikat pada kudanya. Dan sekarang digunakan untuk menghantam kedua manusia dajal yang menculik kekasihnya. Sedangkan yang menculik itu adalah Sura Jaya dan Tugi Sama, dua orang dari Gerombolan Carok dari Barat yang ditugaskan Agung Seta untuk menculik seorang gadis yang akan dipersembahkan pada Datuk Tumbalpala di Bukit Kubur.Unduh
.jpg)
"Nyawamu akan segera menyusul istrimu, Gaok!" "Bangsat hina! Awas serangan!" jerit Gaok seraya meluncur menyerang. Kali ini dia menggunakan seluruh kepandaiannya untuk membunuh Dewi Murni. Tetapi Dewi Murni menghindari semua itu dengan mudah saja. Dia merasa tidak begitu berat menghadapi Gaok seorang. Serangan-serangannya kian dahsyat. Pertempuran kali ini menimbulkan suara bising yang amat sangat. Debu-debu beterbangan, dan daun-daun berguguran saat dua tenaga sakti berbenturan.Unduh

Dua pukulan itu mengenai sasarannya. Membuat Dewi Berbaju Putih terhuyung dan merasakan sakit yang luar biasa pada bagian tubuhnya yang terkena pukulan si Pamungkas. Si Pamungkas terbahak. "Hahaha.. kini terimalah ajalmu, Dewi Berbaju Putih!" desisnya. "Sayang, orang secantik kau harus mampus di tanganku sekarang juga!" Lalu terlihat kedua tangan si Pamungkas berubah menjadi semerah darah. Dan tatapannya pun begitu mengerikan. Dia sudah melancarkan ajian Sambar Nyawa. Tiba-tiba tubuhnya memekik keras dan meluncur ke arah Dewi Berbaju Putih yang masih sempoyongan!Unduh
Tiba-tiba terdengar suara Roro Santika, "Nenek... tolonglah saya dan anak saya... mereka orang-orang jahat, Nenek... Mereka hendak memperko.... aahh!" Kata-kata itu terpotong karena tangan Surogo sudah menamparnya hingga perempuan itu pingsan. Si Bongkok Bergigi Emas terkekeh. "Hehehe.. kini jelas sudah, kalau wanita itu memang berada di bawah kekuasaan kalian. Dan aku tak pernah menyukai perbuatan itu..." "Setan kau, Nenek peot! Kau mencari mampus rupanya!" geram Muroto seraya menyerang dengan tiba-tiba. Namun tanpa bergeser dari tempatnya berdiri, tiba-tiba Si Bongkok Bergigi Emas menggerakkan tongkat butut yang dipegangnya, ke arah ulu hati Muroto.Unduh
"Jadi...." "Ya, tiga buah peti yang kami bawa berisi emas, permata dan berlian. Masih banyak harta yang tersisa di rumahmu. Seperti rumahmu sendiri. Kami tak berani menjualnya sebelum mendapat perintah darimu...." "Guru... mengapa Guru menjadi bersikap seperti ini? Mengapa harus menunggu perintahku? Apa-apaan guru ini? Kalian bertiga adalah guruku, orang tuaku, orang-orang yang aku hormati. Janganlah guru berkata seperti tadi...." kata Ratih Ningrum dengan nada kecewa. "Ratih...." kata Mukti. "Kami bertiga tidak bermaksud untuk mengecewakanmu. Tetapi perlu kau ingat, kami adalah tiga pengawal setia ayahmu, pembantu ayahmu. Yang secara tidak langsung juga menjadi pengawalmu, pembantumu. Ingat itu, Ratih...."Unduh
"Nyai? Apa yang telah terjadi dengan Jawinto? Siapa yang telah melakukannya?!" kata Secopati. "Aku sendiri yang melakukannya?" terdengar suara Nyai Prodo. Kali ini beraksen geram. Ketiga orang itu menjadi terdiam. Secopati memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya dan berkata. "Mengapa, Nyai? Apa salahnya dia? Bukankah dia dan Pragono sudah kuutus untuk melaporkan semua ini pada Nyai? Sementara kami di sini membangun gedung ini dan melabrak setiap desa?" "Lalu apa yang kau pikir, kan?" "Saya tidak tahu, Nyai?" "Hhh! Kau pikir dia dan Pragono tiba di tempatku seperti waktu yang kuberikan pada kalian?" "Ya." Ketiganya menyahut serempak. "Tidak!" sahut Nyai Prodo tegas. "Dia tiba di tempatku dua hari lewat dari waktu yang kutentukan dalam terluka parah." "Terluka parah? Apa yang terjadi?" tanya Secopati mewakili keheranan kedua temannya.Unduh
Nenek Berbaju Sutra terkikik lagi, seolah tak memperdulikan tatapan yang marah itu. "Karto dan Cakoro... mengapa kalian tidak mengikuti dan memenuhi permintaanku... aku teman kalian, cepat bersujudlah pada nenek itu... dia begitu sakti, Karto dan Cakoro... kalian tak akan mampu untuk melawannya... ayo cepat ciumlah telapak kaki nenek itu... Hihihi...." "Nenek peot! Kami akan mengadu jiwa denganmu!" maki Karto sambil maju menyerbu dengan tombaknya. Begitu pula dengan Cakoro. Dia pun langsung menyerbu. Kata-kata Nenek Berbaju Sutra yang mempermainkannya begitu membuatnya marah dan geram. Dia pun menghunuskan tombaknya. "Hihihi... mengapa kalian tidak mengikuti permintaan teman kalian itu? Hihihi... kalian mau mampus rupanya!" "Jangan banyak bacot, Nenek peot! Ayo, hadapi kami!" maki Karto sambil menggerakkan tombaknya ke arah perut Nenek Berbaju Sutra. "Wuuuut!"Unduh
"Kakang... sepertinya di tempat ini telah terjadi pertempuran yang amat hebat."
"Betul, Rayi.. sepertinya Perguruan kita telah diserang oleh orang-orang jahat..."
"Kakang!" memekik Ratih Ayu. "Bagaimana dengan Guru?!"
Serentak keduanya melompat dari kuda mereka dan berlari ke dalam bangunan itu. Di dalam pun terdapat banyak mayat dari murid Perguruan Cakra Buana.
Kali ini mereka tak ambil perduli. Keduanya pun berlari ke ruangan guru mereka biasa berada.
Pintu ruangan itu telah hancur berantakan. Sepertinya dihantam oleh sebuah buldozer. Di dalam ruangan itu pun terdapat banyak mayat.
"Guru!" seru Ratih Ayu cemas. Duka yang telah dialaminya seolah telah lenyap dan berganti dengan kecemasan terhadap guru mereka, Ki Borgawa Darsa.
Suaranya menggema di ruangan itu.
Tak ada bayangan Ki Borgawa Darsa muncul.
Unduh

Ki Madrim mendesah masygul. Tapi kemudian dia berkata, "Suralaga... kau lihatlah jaring yang telah jebol itu. Rupanya wanita iblis itu berhasil menjebol jaring yang terbuat dari bahan yang cukup kuat itu! Dan meloloskan diri!"
Di atas memang terdapat jaring yang telah jebol. Mau tak mau Suralaga dan Giri Lantang jadi mempercayainya. Namun bagi mereka itu bukanlah suatu kepuasan karena bisa saja Ki Madrim telah sengaja memasangnya untuk mengelabui mereka.
Seperti mengetahui apa yang tersirat di hati Suralaga dan Giri Lantang, Ki Madrim berkata lagi,
"Kalian lihatlah! Pintu itu sudah hancur oleh perbuatannya. Dan kalian lihat tombak-tombak yang menancap di dinding. Tombak-tombak itu telah menyerang Nyai Loreng!"
Unduh
Malengka Seto menggeram luar biasa marahnya. Dia mencoba bangkit. Namun kaki Moro telah menendangnya hingga dia ambruk kembali.
"Jangan... jangan ganggu istriku...." desisnya terbata-bata.
"Hahaha... kau perhatikanlah betapa baiknya kami mengajak istrimu bersenang-senang...." kata Murka Tungga sambil membuka pakaiannya.
Dan di hadapan Malengka Seto, Murka Tungga dengan buas memperkosa Nyai Asih. Lalu disusul dengan Asena. Kemudian Moro.
Malengka Seto menahan rasa sakit hati, kecewa, sedih dan marahnya. Dia merasa kecil sebagai laki-laki di mana istrinya diperkosa orang dia tak berdaya.
Dan dia tak sanggup menyaksikan adegan yang mengerikan itu. Belum lagi jeritan istrinya yang terdengar amat menyayat hatinya.
Unduh
Gunung itu ternyata berpenghuni. Mereka adalah orang-orang kejam dari Partai Tengkorak.
"Kau harus diadili menurut hukum Partai Tengkorak, Dewi!" geram Bangsapati.
Siapakah Saraswati alias Dewi Baju Kuning yang dikejar oleh dua jago dari Partai Tengkorak?
"Kala purnama tiba, ku tantang kau untuk bertarung di Gunung Tengkorak, Madewa!" seru Tunggul Petaka.
Dan pertarungan itu memang tidak dapat dielakkan lagi!
Unduh
Eyang Ringkih Dewi, tokoh hitam yang hidup ratusan tahun yang lalu, makamnya didatangi jago-jago rimba persilatan. Yang menjadi rebutan adalah sebuah Cambuk Sutra Sakti yang menjadi senjata andalan Eyang Ringkih Dewi.
Dan perebutan itu telah banyak memakan korban. Mendadak saja muncul seorang gadis yang teramat sakti dan kejam. Dia adalah jelmaan dari Eyang Ringkih Dewi yang hidup kembali.
"Aku kubuat hancur dunia ini!" seru gadis dari alam kubur itu. Dan terjadilah teror yang mengerikan!
Hanya seorang yang bisa menghentikannya, dia adalah Madewa Gumilang atau Pendekar Bayangan Sukma!
Unduh
Saat itulah dia berseru, "Racun Kelabang Putih!"
Suaranya bergetar. Menandakan keterkejutan yang cukup beralasan. Laki-laki berjubah putih itu tahu betapa keji dan ganasnya racun itu.
Di atas panggung, Ki Ageng Tapa tak kuasa menahan air matanya. Jago tua itu pun menangis terharu melihat mayat Kertapati yang mengerikan. Juga mengingat Kertapati menjadi begini karena telah menyelamatkannya.
Terdengar lagi seruan dari Adipati Wisnuwisesa "Perhatian! Mulai saat ini, Broto ku nyatakan sebagai kepala pengawal di Kadipaten! Menggantikan Kertapati yang ternyata dapat di kalahkannya! Bahkan dibunuhnya!"
Unduh
Jalan menuju ke Pacitan dikuasai oleh gerombolan yang dipimpin oleh Jedangmoro. Beberapa rombongan yang lewat sana, kalau tidak mati terbunuh lari dengan tubuh luka parah.
Pranata Kumala tak bisa menahan marahnya menyaksikan hal itu. Dia berusaha untuk memberantas gerombolan Golok Iblis. Dia pun berkenalan dengan seorang gadis yang bernama, Ambarwati. Ambarwati terkejut ketika mengetahui siapa pimpinan perampok itu yang ternyata ayahnya sendiri.
Hal itu membuatnya malu untuk berhubungan dengan Pranata Kumala, putra Madewa Gumilang. Tetapi di saat-saat genting yang menimpanya, muncul Pendekar Kedok Putih yang menolongnya.
Bagaimana dengan gerombolan Golok Iblis? Bagaimana dengan percintaan antara Pranata Kumala dan Ambarwati!? Siapakah Kedok Putih sebenarnya?
Unduh
Kehadiran Ki Ageng Jayasih alias majikan Gunung Muria, membangkitkan beberapa dendam dari orang-orang gagah, Di antaranya Madurka, salah seorang saudara seperguruannya.
"Sejak dulu sifatmu selalu pembangkang, Madurka."
"Hhh! Urusanku, Jayasih! Kau tak perlu ikut campur!"
"Ketahuilah, bahwa sikap dan sifat itu adalah sifat iblis!"
Pertarungan kedua saudara perguruan itu luar biasa sengitnya. Sementara Madewa Gumilang pun tertawan oleh orang-orang sakti yang telah menyandera anak dan istrinya.
Bagaimana dengan pertarungan antara Ki Ageng Jayasih dan Madurka? Bagaimana dengan nasib Madewa Gumilang? Loloskah dia dari cengkeraman maut yang sudah di ambang pintu?
Unduh
Secara perlahan perguruan Topeng Hitam pimpinan Paksi Uludara yang beralih pada Madewa Gumilang semakin menjulang namanya. Hal ini membuat banyak perguruan-perguruan silat lainnya menjadi iri. Salah satunya adalah Perguruan Cakar Naga.
"Kita hancurkan perguruan Topeng Hitam, sekaligus kita bunuh Madewa Gumilang!" kata Resi Sendaring dengan nafsu membunuh yang berapi-api.
Mulailah teror demi teror terjadi di Perguruan Topeng Hitam. Hingga munculnya seorang Kakek Sakti dari Gunung Muria yang turun gunung untuk mencari muridnya yang durhaka dan Keris Naga Merah miliknya yang dicuri muridnya.
Siapakah musuh dalam selimut di perguruan Topeng Hitam? Siapakah Kakek Sakti dari Gunung Muria itu sesungguhnya? Dapatkah dia menemukan murid durhakanya?
Unduh
"Laki-laki yang bernama Madewa Gumilang itu harus kalian bunuh! Terutama istrinya yang bernama Ratih Ningrum!"
Saat itu muncul seorang tokoh cantik yang kejam, yang berjuluk Dewi Penyebar Maut. Dia tak segan-segan untuk membunuh dan menyiksa dengan kejam. Dewi itu memiliki beberapa anak buah yang tak kalah tangguhnya.
Dendam cinta yang tak terbalas, membuat Dewi Penyebat Maut semakin buas dan merajalela. Dengan segala cara dia menteror keluarga Madewa Gumilang.
Siapa sesungguhnya Dewi Cantik Penyebar Maut itu? Mengapa dia begitu telengas menjatuhkan tangan pada siapa saja? Dan apa tindakan Madewa Gumilang setelah mengetahui siapa sesungguhnya Dewi Cantik Penyebar Maut?
Unduh
Cinta kadang menimbulkan malapetaka dan dendam. Tak urung kejadian itu menimpa beberapa orang. Sedangkan yang menjadi sasarannya adalah Madewa Gumilang.
"Laki-laki itu tak pantas untuk hidup!"
"Perempuan yang mendampinginya itu harus dimusnahkan!"
"Dia adalah laki-laki yang tak punya perasaan pada wanita yang mencintainya!"
Siapakah orang yang mencinta itu? Mengapa dia sangat menderita akibat cintanya sehingga menimbulkan rasa sakit hati dan dendam sedalam lautan? Mengapa itu terjadi? Apa yang akan menimpa Madewa Gumilang?
Unduh
Merah wajah Madewa mendengar ejekan itu. Didengarnya lagi perkataan Buntoro, "Kau tidak akan sempat membunuh Selendang Merah, karena ajalmu ada di tanganku. Nah, kesempatan terakhir sebelum kau mampus, ketahuilah, akulah yang mengadukan hubunganmu dengan Biparsena! Aku cemburu padamu, Madewa. Aku mencintai Ratih Ningrum. Dan aku siap menyingkirkan sainganku dengan jalan apa pun!" Kini Madewa mendengus. Geram. Rupanya ini biang keladi dari semua ini. Pantas Biparsena bisa tahu hubungannya dengan Ratih Ningrum.
Unduh