Tampilkan postingan dengan label Gento Guyon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gento Guyon. Tampilkan semua postingan
"Kalau bukan lalu apa?" "Iblis Awan Hitam. Aku merasa berhutang nyawa padamu karena kau telah menyelamatkan aku dari tangan kejam Pengemis Nyawa. Yang membuatku heran mengapa kau menolongku? Padahal sebelumnya diantara kita satu sama lain tidak saling kenal." Ujar sang pangeran. Kakek angker berkening bolong menyeringai sinis, kemudian dongakkan kepala, lalu tertawa tergelak-gelak. Setelah puas mengumbar tawa kemudian si kakek berkata. "Pangeran Sobali bukankah sebelumnya aku sudah mengatakan punya suatu kepentingan denganmu?" ujar si kakek.Unduh
Tak ayal lagi Pengemis Nyawa jatuh terbanting. Sambil semburkan sumpah serapah si kakek cepat gerakkan tongkatnya ke permukaan tanah. Braak! Tanah berderak. Berpegangan pada tongkat saktinya Pengemis Nyawa dapat bertahan, walau tidak urung pakaian kuningnya robek di beberapa bagian. "Pengemis Nyawa, bukankah aku sudah mengatakan kepadamu agar meninggalkan puncak gunung Kawi ini secepatnya?" "Aku baru mau pergi setelah dapat memenggal kepalamu!" sahut Pengemis Nyawa sinis. "Kalau begitu lakukanlah jika kau mampu!"Unduh
"Lain kali aku pasti membawa hadiah yang Mbah minta." Si kakek manggut-manggut. "Sekarang katakan apa yang harus aku lakukan. Menyantet orang sampai mati, memelet seorang puteri atau mengobati orang sekarat?" "Bukan... bukan itu Mbah." Ujar Tangan Besi. "Pangeran Sobari meminta pada Mbah agar sudi membantu kami mendapatkan benda sakti mandra guna. Konon menurut laporan mata-mata kami, benda itu ada di hutan Pacitan. Jika Mbah berhasil mendapatkan benda langka itu Pangeran Sobari berkenan memberikan sebidang tanah di Blitar, berikut rumah termasuk istri. Mbah juga akan diangkat menjadi tumenggung.Unduh
Dalam keadaan menunggu seperti itu agaknya menimbulkan rasa bosan bagi si nenek. Perempuan renta ini lalu pejamkan matanya. Tetapi itupun tidak berlangsung lama. Mata setan si nenek terbuka kembali begitu pendengarannya yang tajam mendengar suara berkeresekan seperti benda yang diseret dan dibawa lari cepat. Suara itu datangnya jelas dari arah gua. Agaknya biarpun belum tahu siapa orang yang datang ke gua itu, namun dia punya pendengaran yang baik. Terbukti si nenek kemudian nampak sunggingkan seulas senyum kemenangan.Unduh
Ternyata mereka bukan hantu, atau dedemit yang baru saja keluar dari dalam perut bumi. Mereka adalah dua orang perempuan. Yang satunya berupa seorang nenek berpakaian serba hitam, wajah angker rusak mengerikan. Di kedua sudut bibir mencuat sepasang taring, Lidah terjulur panjang seperti lidah anjing. Sedangkan hidungnya hanya berupa rongga besar, sumplung seperti bekas diterabas senjata. Selain itu di bagian dadanya yang terbuka nampak berlubang besar, hangus menghitam seperti bekas terkena senjata tajam yang dibakar.Unduh
Gento terdiam, dia memandang ke arah gadis raksasa berpakaian serba kuning itu. Mata si pemuda berkedap kedip mencoba mengenali. Walau pun saat itu dia dilanda perasaan kaget setengah mati, demi melihat siapa kakek yang berada di dalam pondongan gadis raksasa Gento jadi menggerutu. "Sialan... kakek berjanggut kambing itu adalah Tabib Setan sahabatku. Ah, bagaimana dia bisa akrab dengan anak raksasa ini? Beruntung benar kakek konyol itu. Dia duduk dekat dada. Pasti sesekali dia sempat mengintip dan memandang keindahan bukit. Tidurnya kujamin jadi nyenyak bersandar pada dada gadis raksasa tidak ubahnya tidur dikasur empuk."Unduh
.jpg)
Kekesalan gadis berpakaian putih ini pada gadis yang bernama Nyi Sekar Langit bukan kepalang. Seandainya dia tahu Nyi Sekar Langit yang semula berupa seorang nenek tua berwajah buruk itu sesungguhnya adalah seorang gadis cantik jelita. Tentu dia tak akan mengizinkan Gento membantu gadis itu. Gara-gara Nyi Sekar Langit, gadis berpakaian putih merasa dirinya diabaikan. Dalam pandangannya Pendekar Sakti 71 Gento Guyon nampaknya lebih tertarik pada gadis jelita itu. Entah mengapa dia begitu marah pada Nyi Sekar ketika melihat gadis itu memandang Gento dengan mata berbinar.Unduh
.jpg)
"Kalau Angin Pesut memang berusaha memusnahkan ilmu di tubuhnya, aku percaya dia bertobat. Tanpa ilmu kita dengan mudah dapat membunuhnya dan mengambil barang-barang pusaka yang pernah dirampasnya!" "Tapa Gedek, enak saja kau bicara. Rupanya kau belum dengar, Angin Pesut tak sanggup memusnahkan ilmu yang dia miliki. Jika dia sendiri tak sanggup memusnahkan ilmu yang ada pada dirinya apa kau mengira kita bakal sanggup membunuhnya?" "Ha ha ha. Jika kita datang ke selatan Kotagede dengan menempuh jalan seorang diri. Kurasa tak satupun dari kita yang bakal dapat keluar dari tempat itu dalam keadaan hidup. Tapi aku yakin jika kita berlima bersatu padu gabungkan kekuatan, masakan kita tak mampu membunuh iblis itu." ujar Tapa Gedek.Unduh
.jpg)
"Siapa bangsat tua ini? Tenaga dalamnya tidak berada di bawahku. Jika tidak kuhabisi dia secepatnya, bukan mustahil aku tidak dapat membunuh Nyi Sekar!" membatin perempuan itu dalam hati. "Ha ha ha. Binatangku selamat. Tapi bambuku hangus nyaris tidak bersisa." kata si kakek. Sejurus dia memandang ke depan. Sepasang matanya berkedip-kedip. Enak saja dia berucap. "Perempuan cantik tapi keji. Bagaimana ini urusannya. Bambuku sudah kau hanguskan. Untuk memanggul binatang ini aku membutuhkan alat, kalau kuminta salah satu tanganmu yang mulus itu apakah boleh?"Unduh

Wajah Nyi Arianti merona merah. Mulutnya cemberut, ketika si kakek menatap ke arahnya dia membuang muka ke arah lain. "Ha ha ha. Rupanya marah dia." Nyi Sekar menahan senyum. Nyi Besinga dan Nyi Artawanti ikut pula tersenyum. "Tak usah berkecil hati, Nyi Arianti. Kakek gendeng ini otaknya memang kurang waras, jadi harap kau mau memakluminya!" hibur Nyi Besinga. Nyi Arianti si jelita yang berbadan sedikit pendek diam tak menanggapi. Sebaliknya Gentong Ketawa kembali usil. "Gadis jelita kau jangan besar hati mengira aku suka padamu. Terus-terang aku tak begitu tertarik pada seorang gadis pemarah.Unduh
"Eeh.... aku ingin bertemu dengan adipati. Apakah kalian semua adipati Purbolinggo? Mengapa banyak amat?" "Kami bukan adipati. Aku kepala penjaga disini. Harap kau suka memperkenalkan nama, katakan apa yang menjadi tujuan setelah itu cepat menyingkir jika tidak mau mendapat kesulitan!" "Ha ha ha. Hanya kepala penjaga tapi galaknya seperti seorang raja saja. Kalau kau penjaga, aku yang buruk ingin memperkenalkan diri. Aku ini setan.... Setan Sableng. Ha ha ha!" ujar si pemuda lalu tertawa. Menyangka orang mempermainkan dirinya, kepala penjaga yang bernama Halimun menjadi sangat marah sekali. "Pemuda kurang ajar, kami bukan orang yang bisa kau ajak bersenda gurau. Tidak usah banyak bicara apa tujuanmu datang kemari?"Unduh
Mendengar ucapan Iblis Edan sang dara jadi tercenung. "Kau mengenalnya. Atau mungkin gurumu punya silang sengketa dengan adipati?" "Tidak tahu. Guruku cuma pernah mengatakan, hendaknya aku jangan memberi hati bila bertemu dengan orang Purbolinggo itu." Mutiara Pelangi yang masih merupakan keponakan bekas adipati Purbolinggo yang lama menatap wajah Iblis Edan. Dalam hati dia berkata. "Nasib paman Karma Sudira sampai saat ini aku tidak tahu. Dua anaknya yang raib ketika penyerbuan prajurit kerajaan ke kadipaten saat paman memimpin Purbolinggo jika hidup tentu sudah sebesar pemuda ini. Sayang aku sendiri saat itu juga masih kecil. Mungkin sekarang masih belum terlambat jika kutelusuri jejak kedua putra paman."Unduh
"Ha ha ha. Kau tentu pernah mendengar gadis bernama Mutiara Pelangi bergelar Puteri Kupu Kupu Putih? Gadis itulah yang kuinginkan menjadi istriku.!" kata si kakek. Mendengar penjelasan orang tua itu, Suryo Lagalapang tercengang, dia berjingkrak kaget dan surut satu tindak ke belakang. Apa yang diinginkan oleh kakek itu sungguh tak pernah diduganya sama sekali. Bagaimana dia kenal dengan gadis yang dimaksudkan si kakek. Nama gadis itu beberapa tahun yang lalu sempat menggetarkan dunia persilatan. Selain cantik, ilmu serta kesaktian yang dimilikinya memang sangat tinggi. Tapi bukan itu yang di khawatirkan oleh Suryo Lagalapang. Bagaimanapun gadis yang diinginkan oleh si kakek masih merupakan keponakan Karma Sudira, bekas Senopati kerajaan sekaligus adipati Purbolinggo yang kini meringkuk didalam penjara Ladang Wadas Cimangu.Unduh
Tendangan dan pukulan yang dilancarkan gadis itu menghantam benteng pertahanan yang dibuat oleh Raja Pengemis. Si gadis jadi tercekat ketika merasakan bagaimana pukulan serta tendangan yang dilakukan seolah menabrak satu benteng yang sangat kokoh. Selagi si gadis di buat tercengang dengan kenyataan yang dihadapinya, Raja Pengemis susupkan tangannya. Tangan meluncur ke arah perut lawan. Lalu... Desss! Deees! Puteri Pemalu keluarkan keluhan panjang. Dua pukulan mendera perutnya, membuat gadis ini jatuh terguling-guling sambil muntahkan darah segar. Melihat kejadian itu Pendekar Sakti Gento Guyon berseru. "Walah paman Raja Pengemis. Begitu tega kau terhadap calon istrimu. Sudah tak pernah kau urus kini kau malah menyakitinya." "Pemuda sinting. Semua ini kulakukan semata-mata hanya untukmu, tolol!" "Oh kalau begitu aku harus berterima kasih padamu."Unduh
"Malaikat, walah tobaaat aku. Pondokku habis, harta benda ludes dihantam petir. Habis sudah semua, Walah... bagaimana ini? Kemana aku harus cari selamat. Duh Gusti... apa dosa hamba Mu ini. Kalau aku memang banyak dosa mohon dimaafkan. Oh... tobat... aku takut... Petir-petir, kalau mau menyambar jangan dekat-dekat sini. Aku suka kagetan...!" ratap sosok yang ternyata adalah seorang kakek tua penuh rasa takut. Belum lagi ratap takutnya terhenti, tak jauh dari si kakek kilat kembali menyambar, petir menggelegar. Hingga bukan saja membuat si kakek bertambah kecut, tapi kencingnya pun terpancar.
Dut! Dut! Dut!
"Walah tobat, hancur sudah kencingku, waduh... waduh tak tertahan sudah kentutku. Sialan, sungguh sialan. Beginilah kalau jadi orang suka kagetan." Cepat sekali si kakek pergunakan tangan untuk mendekap aurat serta ujung punggungnya agar kencing dan kentutnya tidak keluar lebih banyak lagi.
Unduh

"Kau sudah tahu namaku, sekarang ceritakan tentang pemuda itu!" pinta si gadis, tanpa mereka sadari kini keduanya menjadi akrab seolah mereka tidak ubahnya seperti orang yang sudah bersahabat lama saja. Sebaliknya Gento juga mengakui gadis yang mengaku bernama Roro memang cantik. Wajahnya bulat lonjong, berambut hitam panjang berpakaian ungu. Selain itu dia juga sangat lincah dan enak diajak bicara. Mudah akrab, namun penuh rasa curiga.
"Panji Anom," Pendekar Sakti Gento Guyon membuka ucapan. "Pemuda itu memiliki kesaktian tinggi, dia cerdik, licik banyak akal juga sangat berbahaya. Terus-terang saat ini aku khawatir dengan kemunculannya." Kata si pemuda. dia lalu menuturkan tentang pertemuannya dengan Panji Anom sampai kemudian murid Begawan Panji Kwalat itu terluka dan dilarikan oleh seseorang yang hingga sampai saat ini belum diketahui siapa adanya. Mengenai pertemuan Gento dengan Panji Anom dapat diikuti dalam Episode Bidadari Biru. "Sekarang aku tambah khawatir lagi dengan munculnya Perampas Benak Kepala."
Unduh
"Apa kau lihat tua botak kalau diriku yang cantik ini punya tampang seperti gembel? Sial betul dirimu ini. Kepala sampai botak begini mungkin rambutmu rontok memikirkan untung melulu sepanjang hari!" dengus Puteri Pemalu. Lalu dia dorong kepala bapak botak hingga membuat si orang tua hampir terjengkang.
Para tetamu tak dapat menahan geli mendengar ucapan dan tingkah si gadis. Apalagi sebelum mendorong orang dia usap-usap kepala bapak kedai beberapa kali.
Puteri Pemalu Sendiri bersikap acuh. Dia mengambil satu keping uang emas, uang itu dilemparkan di atas meja. Hanya lemparan biasa tapi membuat keping emas yang dilemparkannya amblas ke dalam kayu meja.
Unduh
Ki Anjeng Laknat tercekat, mata mendelik sedangkan tubuh kucurkan keringat dingin.
"Kun... Kunti jangan main-main dengan senjata itu. Kau hendak berbuat apa?" tanya si kakek, suaranya bergetar dilanda ketakutan. Dia sadar jika si nenek menggunakan pedang untuk mencelakainya, jelas ini bisa membahayakan keselamatan jiwa, karena saat itu tangan dan kakinya dalam keadaan terikat.
Di depan sana Kunti Menak tertawa tergelak-gelak. Tawa lenyap, dengan mata mendelik dia menghardik. "Siapa yang main-main dengan tongkat pedang. Dasar tua bangka pikun. Beratus kali menipuku, kau perdayai aku dengan cinta palsumu. Kini Mawar Pelangi telah tiada. Dia mati harapanku lenyap. Menanti janjimu hanya satu kedustaan saja.
Unduh
"Aku sebenarnya seorang bidadari kayangan." Menerangkan si gadis dengan suara merdu dan enak didengar. Berlagak sok tahu Gento Guyon yang sempat kaget mendengar jawaban si gadis berkata. "Aku memang sudah menduga gadis secantikmu pasti berasal dari Kayangan. Di dunia ini mana ada gadis secantik dirimu. Tapi... sebenarnya kayangan itu ada di mana?"
Unduh
"Kurang ajar, berapa banyakkah ruangan rahasia di dalam Kuil Setan ini. Mungkin aku harus mencarinya di tempat lain," fikir Panji Anom sambil menggerutu tak karuan. Dia bermaksud memasuki ruangan yang terdapat di sebelahnya. Ketika sampai di depan pintu, langkahnya mendadak jadi terhenti karena dia mendengar suara hancurnya benda-benda keras seperti dibanting yang kemudian disusul dengan suara teriakan amarah seseorang.
"Benda pusaka itu bagaimana bisa raib jika tidak dicuri oleh seseorang? Jahanam keparat siapa yang melakukan semua ini? Bintang Penebar Petaka... oh, siapakah yang telah mengambilnya?"
Unduh