Tampilkan postingan dengan label Pendekar Bodoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendekar Bodoh. Tampilkan semua postingan
"Jahanam kau, Iblis Pemburu Dosa!" geram wanita itu tiba-tiba. "Lepaskan Kusuma! Lepaskan...!" "Tenanglah! Tenanglah...!" sambut Kembang Andini sambi! memegangi lengan Bidadari Satu Hati yang hendak meloncat bangkit. Mendengar suara serak si nenek yang penuh getaran, Bidadari Satu Hati dapat menyadari keadaan. Ditatapnya lekat wajah si nenek dengan sejuta tanda tanya dan pengharapan. "Ibu Kembang Andini...." "Ya. Ini aku, Puspa Kencana...," sergap si nenek, menyebut nama kecil Bidadari Satu Hati. "Aku datang bersama Sekar Telasih. Lihat itu...." "Kau... kau tidak apa-apa, Bu...?" sahut Sekar Telasih, masih menyiratkan kekhawatiran. "Oh, Sekar... Adikmu...."Unduh
ANTARA sadar dan tidak Seno merasakan tubuhnya meluncur amat cepat, seperti ada kekuatan hebat yang mengisap ke bawah dan tak dapat dilawan sama sekali. Dia tak tahu sampai berapa lama tubuhnya meluncur turun dari permukaan tanah. Sudah berkali-kali dia mencoba memperlambat luncuran tubuhnya dengan mengatur jalan napas. Namun, usahanya itu sia-sia belaka. Tubuhnya tetap saja meluncur cepat. Tak mau menerima kematian begitu saja, Seno mementangkan kedua pergelangan tangannya, berusaha menggapai dinding lubang. Tapi, usaha itu pun tak membuahkan hasil. Dicobanya pula menekuk pergelangan kaki seraya berjumpalitan untuk dapat bergerak mendekati dinding lubang. Tapi...,Unduh
"Ha ha ha...!" tertawa lagi Sasak Padempuan. "Aku bukan hendak merebut cincin mustikamu, Suli. Bukan hendak! Tapi sudah! Cincin mustikamu sudah berada di tanganku! Ha ha ha...!" Kaget tiada terkira Danyangsuli. Apalagi, setelah dia melihat jari tengah tangan kanannya. Cincin 'Permata Kelelawar Dewa' ternyata memang sudah tak berada di tempatnya lagi! "Jahanam kau, Padempuan!" hardik wanita berparas cantik menawan Ku. "Kau memaksaku berhubungan kiranya hanya untuk mengelabui aku! Setan alas kau, Padempuan! Kembalikan cincin mustikaku! Kalau tidak, ingin kulihat sampai di mana kau punya ketebalan kulit, sampai di mana pula kau punya kekerasan tulang!" "Ha ha ha...!" tawa gelak Sasak Padempuan, mengacungkan cincin 'Permata Kelelawar Dewa' yang telah berada di jari tengah tangan kanannya. "Karena kau beberapa kali telah berbuat baik kepadaku, tak keberatan aku memberimu kesempatan untuk merebut kembali cincin mustikamu, Suli. Tapi jika gagal..., kuharap kau tidak menyesal bila terjadi apa-apa padamu...."Unduh
Untuk menghindari bahaya maut, Pendekar Bodoh berbuat serupa dengan Sasak Padempuan. Dengan menggunakan ilmu peringan tubuh 'Lesatan Angin Meniup Dingin', Pendekar Bodoh mampu melentingkan tubuhnya seringan kapas. Selamatlah jiwanya dari serbuan lidah api yang panas menyala-nyala. Namun..., tanpa disadari oleh pemuda lugu itu. Lesatan lidah-lidah api ciptaan Sasak Padempuan mendadak terhenti di belakang tubuhnya. Lalu, melesat lebih cepat untuk segera membakar tubuh Pendekar Bodoh! "Awaasss...!" teriak Bancakluka, mengingatkan. Cepat Seno menoleh. Betapa terkejutnya dia melihat lidah-lidah api yang melesat amat cepat ke arahnya. Namun, dia tak mau berkelit. Tongkat Dewa Badai dikibaskan sekuat tenaga. Wesss...! Gelombang angin pukulan muncul bak tiupan topan. Tapi, gelombang angin itu lewat begitu saja. Lidah-lidah api terus melesat tanpa tertahankan lagi! "Celaka!" desah Seno. Bergegas pemuda remaja itu merunduk seraya menggulingkan tubuhnya ke tanah. Namun tak urung, sebagian rambutnya terbakar dan menebarkan bau sangit!Unduh
Sabit Maut tahu kehebatan senjata di tangan Seno. Dia tarik senjata sabit bergagang panjangnya. Namun, walau senjata itu dapat diselamatkan, tubuh si kakek tetap saja terhempas oleh gelombang angin pukulan yang tercipta dari kibasan Tongkat Dewa Badai!
"Wuahhh...!"
Brukkkk...!
Diiringi pekik panjang, tubuh Sabit Maut jatuh terbanting tepat di sebelah kanan Cangkul Sakti yang masih duduk mengelus-elus punggung. Sementara Sabit Maut mengaduh-aduh kesakitan, Cangkul Sakti tampak terlongong bengong.
Kakek pendek gemuk itu sangat terkejut bercampur heran. Dia dan saudara seperguruannya adalah dua tokoh tua yang telah punya nama besar di rimba persilatan. Tapi, kenapa menghadapi seorang pemuda yang tampak masih bau kencur saja, mereka mudah sekali dirobohkan?
Unduh

"Benarkah itu?" seru Pendekar Bodoh, melonjak girang.
"He he he.... Aku tak bohong! He he he.... Tapi, ada syaratnya...."
"Apa?"
Setan Bodong cuma tertawa. Seno nyengir kuda.
Pemuda lugu itu tak tahu apa yang ada di benak Setan Bodong. Namun, dia tetap percaya bila Setan Bodong bermaksud baik kepadanya. Hanya saja, dia menjadi tak sabaran setelah melihat si kakek terus tertawa beberapa lama.
"Kenapa kau tertawa terus, Pak Tua? Ayolah! Cepat katakan apa syarat yang kau minta...," desak Pendekar Bodoh kemudian.
Setan Bodong masih saja tertawa terkekeh-kekeh. Pusarnya yang berupa gumpalan daging tampak bergerak-gerak tiada henti. Namun, setelah melihat tatapan Pendekar Bodoh yang penuh pengharapan, akhirnya dia berkata
Unduh
Sebentar kemudian, Dewa Geli melihat sepasang kaki putih mulus yang berdiri di dekat kepalanya. Sepasang kaki itu berdiri tegak dan tak bergerak-gerak. Pemiliknya sama sekali tak mau mengeluarkan suara.
Terkejutlah Dewa Geli bagai disambar petir. Setelah dia mengarahkan pandangan ke atas, tahulah dia bila pemilik sepasang kaki itu tak lain dari Putri Budukan!
"Celaka! Celaka!" keluh si bocah dalam hati.
"Ha ha ha...!" mendadak Putri Budukan tertawa bergelak-gelak. "Kini, kau tahu kehebatanku, bukan? Kau tahu pula kepintaran ku, bukan? Ha ha ha...! Kau telah termakan pukulan 'Sihir Penjerat Arwah'. Sebentar lagi, cairan darahmu akan menjadi anugerah kejayaan ku! Ha ha ha...!"
Unduh
mengkhawatirkan keselamatan Pendekar Bodoh.
Gelombang angin pukulan yang luar biasa dahsyat tiba-tiba meluruk deras tanpa dapat dibendung lagi. Tiupan angin bercampur racun yang keluar dari mulut Setan Selaksa Wajah kontan lenyap tanpa bekas. Lalu, terdengar suara berdebuk keras. Tubuh sang katak raksasa Adiguna yang sebesar gajah terlontar jauh, kemudian jatuh berdebam dan tak bangun-bangun lagi. Satwa tunggangan Setan Selaksa Wajah itu mati dengan dada jebol, tembus sampai ke punggung!
Sementara, Setan Selaksa Wajah berhasil menyelamatkan diri dengan meloncat turun dari leher Adiguna.
Unduh
"Seno.... Seno...," mendadak lelaki bertopeng menyebut nama kecil Pendekar Bodoh. Tapi karena suaranya amat pelan, tak ada orang lain yang dapat mendengarkannya. Tak juga Pendekar Bodoh yang sebenarnya punya indera pendengaran amat tajam.
"Seno.... Seno...," sebut lelaki bertopeng lagi. "Wajah pemuda itu mirip sekali.... Yah! Mirip sekali! Benarkah dia Seno Prasetyo, putra Dewi Ambarsari...?"
Unduh
"Tak kusangka! Sungguh aku tak menyangka!" ujar Karapak setelah sampai di rumah berdinding bilah-bilah papan. "Aku tak menyangka bila kau punya kepandaian sehebat itu, Seno. Ketika bertemu denganmu, aku menduga kau hanya seorang pesilat biasa yang tak punya kepandaian apa-apa. Kiranya, kau adalah murid Dewa Dungu yang sangat termasyhur tiga puluh tahun silam. Sungguh aku tak menyangka...."
Seno yang duduk di hadapan Karapak tampak nyengir kuda. "Kakek jangan terlalu memuji. Aku takut nanti kepalaku membengkak besar...," sergahnya. "Aku pun tak menyangka bila Kakek dan istri Kakek adalah sepasang pendekar bergelar Sepasang Nelayan Sakti. Sungguh aku juga tak menyangka, Kek...."
Unduh
Tersenyum Kemuning mendengar ucapan Seno yang terkesan amat lugu dan jujur. "Maukah kau kuberi gelar?" tawarnya.
Seno nyengir lagi. "Boleh," sambutnya.
Kemuning menatap lekat wajah Seno yang tampak kebodoh-bodohan. Lalu sambil tersenyum, dia berkata, "Kau pantas memakai gelar Pendekar Bodoh."
"Pendekar Bodoh?" Seno menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ya! Pendekar Bodoh!" seru Kemuning seraya menjejak tanah, berkelebat pergi.
"Hei! Tunggu...!"
Seno berteriak lantang untuk mencegah kepergian Kemuning, tapi tubuh si gadis terus berkelebat, hingga hilang dari pandangan.
Tinggallah Seno cengar-cengir seorang diri. Sambil berjalan perlahan, dia menggumam.
"Pendekar Bodoh.... Aku Pendekar Bodoh...? Ya. Ya, aku Pendekar Bodoh...."
Unduh