Tampilkan postingan dengan label Djokolelono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Djokolelono. Tampilkan semua postingan

Tara akhirnya jatuh ke tangan sepasang orang sakti yang agak sinting—Mahendra dan Sinom. Ia benar-benar jatuh dari ketinggian tebing jurang Grawah dan disambut oleh Sinom dan Mahendra. Akibat siksaan dan perlakuan saat ia berada di Trang Galih, serta kekeliruan Ki Mahendra dan Ni Sinom, Tara menjadi sedikit linglung. Tetapi Tara juga mendapat banyak kemajuan dari keduanya. Sampai kemudian pengembaraan mereka mencapai Sendang Ampal. Dan Sinom merebut kekuasaan dari pimpinan perampok di tempat itu, Kiai Sendang.Unduh
Madri yang mukanya rusak oleh pukulan berpasir dari Rakryan Mapatih Kuripan, memutuskan untuk kembali bangkit—walaupun kemungkinannya untuk kembali memiliki berbagai ilmu kesaktian sangat tipis baginya. Dan Gemut, alias Tun Kumala, terpaksa mengikutinya. Sementara itu Wara Hita yang telah berkuasa di Uteran tak sabar akan garis siasat yang dibuat Nagabisikan, Sang Guru. Ia ingin bergerak menguasai Wilwatikta secara terang-terangan sekarang, dengan Uteran sebagai modal pertama. Ia pun memanggil seluruh pasukannya dari Trang Galih. Sebuah rombongan kecil yang dipimpin Wara Huyeng mendapat kesulitan di Sendang Ampal—di mana kemudian Tara, Kiai Mahendra, dan Nyai Sinom kembali muncul.Unduh
Wara Hita sedang berada di persimpangan jalan. Pikirannya kalut. Sudah benarkah jalan yang ditempuhnya selama ini? Ataukah ia hanya permainan nasib belaka? Ia tak bisa lagi sepenuhnya percaya pada gurunya, yang selalu mengulur-ulur waktu untuk melakukan tindakan besar dan malah kini tertarik pada seorang gadis berkulit jingga—Tari. Tidak. Wara Hita memutuskan untuk tidak lagi mengikuti semua nasihat gurunya. Ia harus bertindak sekarang dan sesuka hatinya! Lepas dari tilikan Sang Guru—yang berusaha menyembuhkan Tari—Wara Hita kembali mengibarkan bendera kekejamannya.Unduh
Kelompok buyut daerah selatan mulai berontak. Terutama dengan dukungan utusan Dewi Candika, Jalak Katenggeng. Pasukan Uteran memang hancur, tetapi secara misterius barisan bawah tanah yang ditanam Jalak Katenggeng pun lenyap. Sementara korban berjatuhan, Tun Kumala menemukan pengalaman baru. Di saat yang sama, Wara Hita alias Dewi Candika terus merindukannya... dan Tari tiba-tiba merasa cemburu pada Sang Buyut, guru Ahireng. Bagaimana ini semua bisa terjadi?Unduh
Ini kisah Tun Kumala. Ia memang lolos dari rangkulan Wara Hita alias Dewi Candika yang agaknya sangat tertarik pada dirinya. Itu merupakan pengalaman pahit baginya. Untuk pertama kalinya ia melihat darah tertumpah dan kemauan hebat saling bentur. Namun ia tak bisa lari dari ini semua. Di sebuah desa kecil ia masih terlunta-lunta di antara bentrokan ambisi-ambisi itu.Unduh
Pada saat tubuhnya melesat dari tanah, si Tangan Satu memutar tubuh untuk menghindari serangan lawan dan menghantam Sindura dengan sepenuh tenaga. Sebaliknya si Jubah Hitam saat itu juga tampak gugup dan menyia-nyiakan kesempatan emas untuk mematikan lawan dan malah berpaling untuk menghadang se¬rangan si Tangan Satu pada Sindura!
“He!” Sindura berseru terkejut. Serangan si Tangan Satu itu begitu dahsyat dan cepat. Ia mencoba meng¬hindar namun tak urung ia merasa betapa pukulan itu akan sanggup masuk dan menghantamnya. Ia masih sempat berteriak, “Singa Bramantya!” sebagai tanda pengenal sesama murid Panembahan Megatruh. Namun dadanya telah mulai sesak oleh hawa panas pukulan Bhirawadana, dan hampir ia roboh. Saat itulah hantaman si Jubah Hitam datang untuk menghadang kelanjutan pukulan si Tangan Satu.
Unduh

TIBA-TIBA saja langit gelap.
Dua bayangan berdiri di tepi bengawan.
Seorang dengan tubuh tertutup jubah gelap seluruh tubuhnya. Jubah itu berlambaian ditiup angin dingin. Si Buyut.
Dan seorang pria setengah umur yang dalam kegelapan tampak tak menunjukkan tanda-tanda berasal dari kasta ksatria. Bahkan mirip seorang saudagar. Aria Sampana.
Dan di balik semak-semak, Ahireng menahan napas.
“Aku tak tahu daerah ini terlarang... maafkan aku,” kata Aria Sampana merendah membungkuk-bungkuk. Ahireng mengernyitkan mata di kegelapan. Betulkah itu orang yang tadi memergoki gerakan Peksayomaya-nya?
“Aku tidak melarangmu. Aku hanya ingin tahu. Kau datang dari arah sana. Dan kau mengaku tak bertemu seorang pun. Kau dusta. Dan aku paling tidak suka pendusta,” kata si Buyut.
Unduh
Wara Hita alias Dewi Candika semakin lengkap persiapannya untuk merebut kembali keagungan leluhurnya. Atau paling tidak membalas dendam. Nagabisikan mengisinya dengan ilmu, Juru Meya melindunginya dengan pasukan dan dana... Semua hampir siap, saat gelora nalurinya sebagai gadis muncul. Ia pun ingin merasakan kehangatan cinta seorang pemuda. Siapakah pemuda yang patut dipilihnya?
Sementara itu Sinom dan Ki Mahendra mulai turun tangan untuk mengacaukan semua!
Unduh
Terjadi guncangan di Tasik Arga, pusat perguruan tempat Resi Rhagani, Sindura, dan lainnya pernah menimba ilmu. Dua tokoh utama sumber ilmu itu, Ki Megatruh dan Sinom, bentrok karena suatu soal sepele. Nyai Rahula, istri Ki Megatruh, mengawali perjalanan untuk mencari cara membalas sakit hati pada Sinom.
Sementara itu, Tari harus dimasukkan ke dalam Sumur Hitam dan mempertahankan nyawanya dari Ki Gong, seekor ular raksasa, sementara Rara Sindu dalam petualangannya sebagai Tun Kumala dipaksa untuk menemui Wisti, alias Wara Hita, alias... DEWI CANDIKA!
Unduh
Rara Sindu tahu bahwa Rakryan Mapatih hanya menggodanya. Tetapi ia tak mau mengalah. “Jika Mapatih yang agung berpikir begitu, aku akan menyuruh orang menutup pintu gerbang dan menyuruh semua orang ku untuk menghajar Tuan. Rasanya biar sesakti apa pun paling tidak Tuan akan babak-belur.” Rara Sindu betul-betul bertepuk tangan. Dan entah dari mana beberapa belas orang bermunculan. Semua bersenjata lengkap. Di halaman depan terdengar makian kedua orang pengawal Rakryan Mapatih yang ditinggal di sana untuk menjaga kuda. Juga terdengar pintu gerbang ditutup keras-keras.
Unduh
Perjalanan Tari sampai ke Kuripan. Dan ia mengalami peristiwa yang mungkin mengubah jalan hidupnya. Seorang ksatria hidung belang telah meruntuhkannya untuk dijadikan salah satu hiasan di tempat Emban Layarmega, yang menyediakan hiburan bagi para pria iseng di zaman itu.
Sementara itu angin maut Dewi Candika mungkin telah tiba pula di Kuripan saat seorang ksatria lain, Ra Sindura, ingin membaktikan diri.
Unduh
PADEPOKAN Rahtawu runtuh. Resi Rhagani merasa akan terlalu banyak memakan korban jika memaksa diri untuk tetap mempertahankannya. Korban yang jelas tidak perlu. Jika memang Dewi Candika memendam dendam pada dirinya—dan sanak keluarganya, pihak lain tak perlu ikut berkorban. Ia memerintahkan semua isi Rahtawu untuk meloloskan diri turun gunung dan lenyap. Hanya Tari yang tak sempat mendengar perintah ini. Hatinya terlalu terguncang oleh peristiwa yang menimpa Tara—saudara seperguruan yang paling tidak telah menarik perhatiannya. Akibatnya ia tertinggal. Ia tak tahu ke mana yang lain telah pergi. Ia hanya berteman dengan Anengah, yang menaruh perhatian padanya. Ia berkenalan dengan Tantri, si bocah aneh yang makin aneh saja. Dan untuk kesekian kalinya ia harus bersinggungan dengan tangan-tangan kejam Dewi Candika.
Suara cekikikan canda ria tujuh orang gadis remaja di air telaga yang sedingin air sewindu, di sudut terpencil punggung Gunung Rahtawu, seakan menjanjikan kisah yang berlimpah dengan keriaan dan kebahagiaan. Tetapi ternyata ini adalah awal kehancuran Padepokan Rahtawu, beserta seluruh siswa-siswanya. Lebih dari itu, jagat pengaruh Wilwatikta mulai diguncang oleh hempasan gelombang dendam. Sebuah nama muncul di percaturan. Suatu rasa ketakutan mulai merayap menerkam. Sebab... Dewi Candika mulai berkeliaran. Dan dia adalah dewi penyebar maut.
Siapa dia, dari mana dia, mengapa dia begitu membenci semua tokoh di istana Wilwatikta...? Anda dapat mengikuti detak ketakutan mereka yang akan jadi korbannya. Anda dapat merasakan kehangatan cintanya. Anda pun dapat membencinya dengan dendam yang sedalam lautan.
Kisah silat kembali ke sosok kisah yang betul-betul bisa Anda nikmati dalam kisah ini... saat matahari kejayaan Majapahit mulai condong ke rembang kegelapan malam.