Tampilkan postingan dengan label Pendekar Mabuk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendekar Mabuk. Tampilkan semua postingan
Perempuan itu tampak berusia sekitar tiga puluh tahun, sedangkan lawan jenisnya berusia sekitar dua puluh tiga tahun. Tetapi pemuda yang bertubuh gempal itu tampak masih hijau dalam hal bercumbu, sehingga butuh bimbingan dari si perempuan yang cukup matang dalam masalah kencan. Pemuda itu menurut saja ketika diperintahkan untuk memindahkan kecupannya ke dada si wanita. Sekalipun pemuda itu masih hijau, tapi semangatnya tampak tinggi dan menggebu-gebu, sehingga si perempuan mengerang berkali-kali menikmati keindahannya.Unduh
"Bangsat kurap! Pedang sudah anu ditawarkan sebagai anu!" geram Sawung Kuntet. Wajah tiga orang utusan Ratu Ladang Peluh itu tampak memendam kejengkelan. Mendung Merah bahkan kelihatan menyembunyikan rasa malu di hadapan Pendekar Mabuk, ia tak berani menatap langsung ke mata si murid sinting Gila Tuak itu. "Kurasa bukan hanya kita saja yang dikerahkan sebagai orang upahannya!" kata Santana sambil tersenyum kecut. "Mungkin lebih dari lima atau enam orang."Unduh
Blegam...! Ledakan dahsyat terjadi hingga mengguncangkan alam sekeliling. Beberapa pohon berukuran sedang menjadi tumbang bagaikan dihempas badai yang mengamuk. Benturan tongkat dengan bumbung tuak itu sempat menimbulkan daya rekat cukup kuat, sehingga Tulang Besi bagai bergelayutan pada tongkatnya dan kakinya menendang ke dada Suto Sinting secara beruntun. Des, des, des, des, des...! "Aaahk...!" Suto Sinting tak bisa hindari tendangan itu karena tak menduga akan mendapat serangan beruntun secepat itu.Unduh
"Indahkah kecupan tadi?" bisik Suto. "Indah sekali," jawab Mayangsita dengan berbisik pula. "Dapatkah kau melakukannya seperti yang kulakukan tadi?" Mayangsita tidak menjawab, namun ia segera mendekatkan wajahnya pelan-pelan. Lalu bibirnya mulai menyentuh bibir Suto Sinting. Tetapi lidah Mayangsita sengaja menyapu permukaan bibir itu lebih dulu. Sapuannya sangat lembut dan pelan, hingga jantung Suto menjadi bergemuruh dihujani keindahan.Unduh
"Hmmm...," Suto manggut-manggut membenarkan jawaban itu. "Mengapa Penguasa Teluk Neraka menyerang sang Adipati?" "Karena ia ingin mengawini putri sang Adipati." "Siapa nama putri sang Adipati?" "Raden Ayu Muria Wardani." "Siapa nama istri sang Adipati?" "Gusti Ayu Windurini!" "Siapa nama menantu sang Adipati?" "Raden Rama Jiwana." "Siapa nama pelayannya yang paling cantik?" "Senduk!" "Dari mana kau tahu namanya Senduk?"Unduh
GADIS itu berambut lurus sepundak. Pakaiannya berwarna jingga, ia juga mengenakan gelang dan kalung berbatu jingga. Sabuknya dihiasi batuan warna jingga pula. Agaknya gadis itu pencinta warna jingga, bahkan pedang dan sarung pedangnya dibungkus dengan kain warna jingga pula. Suto Sinting tak mungkin lupakan gadis itu, walaupun mereka bertemu dalam waktu yang tak terlalu lama.Unduh
Ctaarrr...! Cambuk merah itu dilecutkan ke arah kepala Suto Sinting yang memakai raganya Badra Sanjaya itu. Lecutan cambuk mengeluarkan sinar-sinar merah seperti jarum yang menerjang kepala Suto. Zuurrp... ! Pendekar Mabuk segera kibaskan bumbung tuaknya memutar kepala. Wuuut...! Satu kibasan membuat bumbung tuak itu menghantam sinar-sinar merah seperti jarum. Craaaps...! Blegaaar...! Pendekar Mabuk terlempar ke atas cukup tinggi akibat gelombang ledakan itu.Unduh
.jpg)
"Kau memang pemuda aneh yang sinting," gumam Rupa Setan sambil melirik sekejap lalu membuang pandangannya ke lautan lagi. Dengan memandang ke arah cakrawala ia bertanya, "Bagaimana dengan usahamu mencari Batu Tembus Jagat itu?" "Berkat doa restumu... aku berhasil." "Padahal aku tidak berdoa untukmu." "Kalau begitu, yang kudengar doa dari guruku dan orang lain. Aku salah duga!" kata Suto sambil melebarkan senyum. Si Rupa Setan masih tetap serius bagai manusia tak bisa tersenyum. "Kurasa sekarang waktunya aku mencari Dewi Kesepian. Apakah kau melihatnya berkeliaran di suatu tempat?"Unduh
.jpg)
Perempuan itu muncul di pintu ruangan setelah Suto dan Rumbani terkulai saling bertumpuk. Wajah perempuan itu memancarkan kebencian terhadap Rumbani, namun begitu menatap ke arah Suto, kebencian itu berubah menjadi sinis-sinis bergairah. "Kau memang menyakitkan hatiku, tapi untuk sementara ini aku tak ingin memusnahkan dirimu. Kau harus kumanfaatkan lebih dulu sebagai pelayan cintaku. Setidaknya kau harus tahu seberapa tinggi kekuasaan dan ilmuku, Panji Klobot!"Unduh

Maka bebas sudah pintu itu dari ancaman maut. Pendekar Mabuk dapat keluar dengan aman. Sampai di luar, bumbung tuak tadi dibuka lagi dan sinar merah dikeluarkan dari bumbung tersebut dengan satu sentakan kaki dan hembusan napas batin. Claaaasss...! Blegaaarr...! Suto kaget sendiri, karena tak menyangka sinar merah itu menghantam ujung salah satu pohon cemara merah. Pohon itu hancur menjadi serbuk hitam dalam sekejap. "Mudah-mudahan ledakan ini tak membuat Nirwana Tria curiga dan kembali mengurungku dengan caranya yang aneh," ujar batin Pendekar Mabuk yang segera melesat tinggalkan tempat tersebut.Unduh
"Iya...," jawab Taring Naga sambil memberanikan diri mencium pipi Awan Setangkai. "Ah, kau sudah mulai nakal lagi," ucap Awan Setangkai sambil tertawa kecil. "Apakah kau juga buta karena sinar putih tadi?" "Iya...," jawab Taring Naga lagi dalam suara mendedah supaya suara aslinya tidak diketahui. "Oh, Suto... rupanya kau sudah tak sabar lagi, ya?" bisik Awan Setangkai sambil membiarkan wajah pemuda itu mendusal di dadanya, ia justru tertawa cekikikan disiram kebahagiaan. Taring Naga menjadi semakin bergairah ketika Awan Setangkai berbisik kembali, "Dapatkah kau mencari semak-semak yang aman, Suto?"Unduh
"Berbahaya, Gusti. Kita akan menjadi mangsa empuk bagi akar-akar setan." Dahi Pendekar Mabuk berkerut tajam. "Apa maksudmu, Cong!" "Kita tadi melalui ladang 'Akar Setan', Gusti. Hanya saja karena tadi masih ada cahaya matahari, maka Akar Setan belum muncul dari kedalaman tanah. Akar Setan hanya akan tumbuh dan menjerat mangsanya hingga terpotong-potong apabila tak ada sinar matahari." "Astaga! Hampir saja aku lupa tentang Akar Setan itu, Cong!" "Saya memaklumi, karena Gusti Pangeran baru saja sembuh dari sakit ingatan."Unduh
Klik, klik...! Kusir Hantu menjentikkan jarinya seperti memanggil ayam. Tiba-tiba Hulubalang Iblis terjungkal ke belakang dalam gerakan melambung jungkir balik. Wuuut...! Jlegg...! Ia bisa menapakkan kaki dengan tegak di tanah. Tapi segera tersentak mundur bagai ada tenaga pendorong yang sangat kuat. Wut, wut, wut, wut...! Bheek...! Punggungnya menabrak pohon besar. Kepalanya pun terbentur pohon tersebut. Duuhk...! Bruuurrr...! Daun-daun berguguran, pertanda benturan itu cukup keras dan bertenaga dalam besar. Hulubalang Iblis tersentak mendelik, mulutnya ternganga dan semburkan darah segar. Buuuwwrrss...!Unduh
Kadal Ginting mengangkat tubuh Bulan Sekuntum yang berlutut satu kaki. Namun ketika ia hendak memegang tubuh itu, tiba-tiba matanya memandang gerakan aneh yang sangat menarik perhatian. Sebuah benda bergerak di rerumputan dengan pelan-pelan mendekatinya. "Ular! Ular nagaa...!" teriak Kadal Ginting sambil melonjak kaget, tak sadar menghambur ke dalam gendongan Resi Pakar Pantun. Plook...! Sang Resi pun bergerak secara naluriah, tangannya segera menyambar tubuh Kadal Ginting yang kurus, hingga ia bagaikan sedang menggendong cucu kesayangannya. "Apa-apaan kau ini!" sentak sang Resi sambil menyentakkan tubuh Kadal Ginting. Tubuh itu jatuh terbanting dan masih berteriak ketakutan. "Ular naga, Eyang...! Ular nagaa...!" sambil menuding ke arah benda yang bergerak. Sang Resi memandang ke arah benda itu dan terlonjak kaget secara tak sadar langsung latah.Unduh
"Aku ingat, dia pernah kulihat menyelinap di belakang puri pemujaan. Aku semakin yakin, dia orang Selat Bantai, Suto!"
"Jika benar dia orang Selat Bantai, apa pendapat mu selanjutnya, Kabut Merana?" tanya Suto Sinting dengan rasa ingin tahu cukup besar dan menggelisahkan hatinya.
"Jika benar dia seorang Selat Bantai, sebaiknya jauhilah dia, Suto! Jauhi semua orang dari Selat Bantai."
"Jelaskan alasanmu, Kabut Merana."
"Kau sedang menjadi bahan buruan orang-orang Selat Bantai. Penguasa Selat Bantai yang bernama Nyai Ratu Cendana Sutera sedang membutuhkan darah ksatria muda. Sasaran utamanya adalah dirimu, Suto. Sebab mereka tahu, kau adalah seorang pendekar muda yang berilmu tinggi."
"Untuk apa dia mencari seorang ksatria muda?"
Unduh

"Ratu Remaslega masih ada keturunan dari Istana Laut Kidul. Kakeknya dulu bekas 'abdi dalem' di Istana Laut Kidul. Karenanya pihakku menjalin hubungan baik dengan orang-orang Istana Laut Kidul. Payung Serambi alias Ratih Kumala itu adalah salah satu dari tiga duta Istana Laut Kidul. Kesaktiannya sangat tinggi, karena sebagai duta ia dibekali berbagai ilmu gaib dari Nyai Kandita, sang Ratu Laut Kidul."
"Ooo... dia seorang duta?!" gumam Pendekar Mabuk sambil manggut-manggut.
"Biasanya orang-orang Istana Laut Kidul tak mau campuri urusan orang lain. Mereka hanya bertindak jika ada pihak luar yang ingin membuat onar suasana Istana Laut Kidul."
Unduh
"Siapa yang menyerangnya?!" pikir Suto Sinting sambil berusaha memandang keadaan sekeliling. Tapi tak ada bayangan manusia yang berdiri di sekitar tempat itu.
"Ah, persetan dengan penyerangnya itu! Tuak harus kuminum lebih dulu supaya mengembalikan tenagaku!"
Glek, glek, glek...!
Tiga teguk tuak sudah cukup menyegarkan tubuh Pendekat Mabuk. Tenaganya yang pulih secara sedikit demi sedikit itu membuatnya lekas bangkit berdiri dan memandang ke arah jatuhnya Setan Rawa Bangkai. Tampak kepala Setan Rawa Bangkai tersumbul dari ketinggian semak ilalang.
Unduh
"Aku sudah berusaha meminta tolong kepada beberapa tokoh tua untuk pulihkan keadaanku agar menjadi seperti sediakala. Tetapi tidak ada satu orang pun yang mampu melepaskan kekuatan sihir Selir Dewani, musuhku itu. Lalu kuingat seorang tokoh perempuan sakti yang sudah lama mengasingkan diri; yaitu Bidadari Jalang. Kudengar Bidadari Jalang pernah menyandang gelar: Ratu Sihir Sejagat. Aku bermaksud ingin menemuinya dan meminta bantuan beliau untuk pulihkan kembali keadaanku, tapi sayang aku tak pernah tahu di mana Bidadari Jalang berada."
Pendekar Mabuk menggumam pendek, lalu berkata, "Beliau ada di pengasingannya, di Lembah Badai."
Unduh
"Kita cari semampu kita. Tak mungkin kita tak berhasil menemukan negeri Kincir Bantala!"
"Seingatku, tadi Kersa Gotri berkata, kita akan menerabas hutan seberang lembah ini, memotong jalan lewat sana. Apakah kau tidak keberatan menerabas hutan lebat itu?!"
"Bersamamu tak pernah ada pekerjaan yang memberatkan bagiku. Apa pun akan kulakukan selama masih bersamamu," sambil matanya menatap lekat-lekat ke wajah Suto Sinting.
Pendekar Mabuk hanya sunggingkan senyum tipis dan keluarkan gumam lirih,
"Aneh...!" ia menahan geli dengan membuang muka ke arah lain.
Unduh
"Iya, iya... tapi sabar dulu!" sentak Pendekar Mabuk dengan suara berbisik. "Kita lihat dulu siapa yang unggul dalam pertarungan ini dan apa persoalan yang mereka pertarungkan sebenarnya?!"
Kedua perempuan itu saling mencabut pedang masing-masing. Sraaang...! Kemudian keduanya sama-sama lakukan lompatan menyerang, dan tubuh mereka saling bertemu di udara.
"Heeaaat...!"
Trang, trang, trang, trang...!
Weess...! Craass...!
Sumbaruni berhasil menyambar lambung Peluh Setanggi dengan pedangnya. Lambung itu pun robek dan Peluh Setanggi mendaratkan kakinya saling memunggungi dengan mendekap luka menggunakan tangan kirinya. Darah merembes basah dari sela-sela jari yang digunakan mendekap luka.
Unduh