Pendekar Rajawali Sakti - 74. Siluman Penghisap Darah
"Akh...!" Pendekar Rajawali Sakti terdorong ke belakang. Dadanya terkena tendangan keras Siluman Penghisap Darah!
"Hiyaaat..!"
Pada saat yang bersamaan, Pandan Wangi melompat cepat menerjang Siluman Penghisap Darah. Kipas mautnya berkelebatan mengincar bagian-bagian tubuh yang mematikan.
Pendekar Rajawali Sakti dan si Kipas Maut memang harus berjuang keras menghadapi sepak terjang Siluman Penghisap Darah!
Kemunculan Darkan ke Desa Gedangan juga sangat membingungkan. Apakah dia akan membantu Pendekar Rajawali Sakti, atau malah sebaliknya? Dan, rahasia apa sebenarnya yang disimpan Pandan Wangi?

Unduh
Pendekar Blo'on - 10

"Deng... dengarkanlah baik-baik!" kata si gadis malang terputus-putus. "Aku adalah isteri simpanan hartawan abdi banda. Tatto di tubuhku ini dia yang membuatnya. Katanya tempat penyimpanan kitab yang Maha Penting. Tempat ini dijaga siang dan malam. Bentuk tubuhku ini adalah letak penyimpanan kitab itu. Ak... ehk...!" kepala gadis malang itu pun terkulai.
Hartawan Abdi Banda selain kaya raya juga penuh keedanan. Ia mentatto tubuh isterinya. Lalu Malaikat Penderitaan mengincar sebuah kitab yang disimpan oleh hartawan itu. Kitab penting yang kelak menjadi rebutan Utusan Lima Benua. Apa yang terjadi dengan Puspita hingga ia takut hamil. Siapa yang menyebarkan Racun bunga Asmara, siapa pula Sang Maha Sesat?
Si Konyol Pendekar Blo'on sendiri dibuat bingung menghadapi persoalan yang bikin pusing ini. Apalagi ketika si gadis Ninja terserang racun Bunga Asmara. Cara mengobatinya yang lucu. Nah... apa yang terjadi...?

Unduh
Label: 2 komentar | | edit post
Reaksi: 
Joko Sableng - 23
“Nek.... Bukankah altar itu hanya sebagai pembuka makam batu?!”
“Itu jika diinjak! Tapi kalau dihancurkan, kau akan menemukan hal lain! Tapi ada satu hal yang harus kau ingat, Maladewa! Lakukan apa yang kukatakan jika kau telah mendapatkan kembali Kembang Darah Setan! Jika tidak, kau hanya akan mengalami kecewa! Karena kau tak akan mendapatkan apa-apa!”
“Nek.... Sebenarnya ada apa di sana?!”
Nyai Suri Agung gelengkan kepala. “Aku tidak bisa mengatakannya! Kau sendiri kelak akan mengetahuinya! Hanya aku bisa memastikan, jika kau telah berhasil maka kejayaan Kampung Setan akan kembali! Dan kaulah satu-satunya tumpuan dalam urusan ini!”

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Satria Gendeng - 9
"Eee.... Mana aku tahu di sini cuma tempat untuk para gadis," kata Satria Gendeng, mulai menurun nada suaranya. Sadar kalau dirinya yang salah.
Anak muda itu tersenyum-senyum kebodohan. Cengar-cengir serba salah. Sejelek anak monyet. Untung dia bukan anak monyet!
"Kalau benar begitu aku minta maaf, Nona!" ujar Satria, malu-malu.
"Aku juga minta maaf, Kang" balas Rara Lanjar, merunduk ketika mengingat peristiwa sebelumnya. Terpaksa kalimatnya terpenggal.
"Panggil saja aku Satria...," ujar Satria Gendeng. Lupa mengenalkan dirinya. "Siapa pula namamu, Nona?"
"Rara Lanjar," sahutnya perlahan.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Hina Kelana - 15
"Marilah, Buang...!" jawab Bara Seta, seraya beranjak berdiri dari tempatnya. Selanjutnya keempat orang murid Bara Seta segera mengusung keranda yang berisi jenazah si Bangkotan Koreng Seribu. Sekejab kemudian di tempat itu terlihatlah kesibukan-kesibukan untuk mengebumikan jenazah orang tua yang mereka hormati.
Keempat murid Bara Seta segera membuat sebuah lubang kubur, sementara Buang Sengketa dengan dibantu oleh Bara Seta segera merawat jenazah si Bangkotan Koreng Seribu. Saat itu di langit lepas, nampak awan hitam bergumpal dan bergulung-gulung dihembus angin tenggara.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Gila - 12
"Yea! Tembus dadamu!" teriak Dewa Pedang.
"Aha, tidak, Kecoa Busuk!" gurau Pendekar Gila.
Tusukan Dewa Pedang dapat dielakkan dengan mudah oleh Pendekar Gila. Bahkan Pendekar Gila balas menyerang dengan jurus 'Gila Terbang Menyambar Ayam'.
"Uts! Setan Alas!" maki Dewa Pedang sambil menggeser kakinya ke samping.
Mampukah Dewa Pedang membunuh Pendekar Gila? Mengapa tokoh itu sangat mendendam pada Pendekar Gila? Hingga mendirikan Serikat Serigala Merah untuk memperkuat dirinya dan menyelusup ke dalam Kerajaan Sunda Layung? Mampukah Pendekar Gila membasmi gerombolan yang menjual serbuk candu itu?!

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Walet Emas - 7
Semakin dekat dengan tempat yang dituju, perasaan Pusparini semakin berdebar. Ingatannya tentang mimpinya bertemu dengan Pendekar Kipas Akar Wangi semakin menggigit. Apakah benar pendekar itu seperti yang dilihatnya dalam mimpi?
Padang rumput berhasil mereka lewati. Kini di hadapan mereka terdapat segugusan pohon yang membentuk hutan kecil.
“Kita harus menerobos masuk,” kata Pusparini yang tanpa ragu terus menuju ke depan. Sedangkan Mahesa Alit dan Roro Wilis masih tercekam dengan pohon-pohon yang tegak di hadapan mereka. Pohon bagaikan kaki-kaki raksasa itu memiliki sulur akar gantung yang malang melintang. Ada yang sampai menghunjam ke tanah sehingga membentuk batang baru. Dan anehnya, Pusparini seperti sudah pernah mengenal tempat itu, dengan enak saja menerobos ke dalam hutan.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Pulau Neraka - 34
"Ghraaaugkh...!"
"Dewata Yang Agung..., binatang apa ini?" desis Bayu terkejut.
Di hadapannya tiba-tiba muncul seekor binatang bertubuh raksasa! Binatang itu berbulu putih bagai kapas! Kedua kaki depannya diangkat tinggi-tinggi sambil menggerung dahsyat. Sementara di depannya, tergeletak seorang gadis cantik yang bajunya terkoyak seperti bekas dicabik-cabik.
"Siapa pun kau, lepaskan gadis itu!" bentak Bayu.
Tapi beruang putih itu malah menggerung, seakan marah mendengar bentakan Pendekar Pulau Neraka.
Siapakah gadis cantik berbaju putih yang tergeletak tidak sadarkan diri itu? Mengapa Pendekar Pulau Neraka begitu gigih hendak mengambilnya? Dan, mengapa gadis itu tiba-tiba muncul dalam keadaan pingsan, bersama seekor beruang putih...?

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Mabuk - 59
"Kita cari semampu kita. Tak mungkin kita tak berhasil menemukan negeri Kincir Bantala!"
"Seingatku, tadi Kersa Gotri berkata, kita akan menerabas hutan seberang lembah ini, memotong jalan lewat sana. Apakah kau tidak keberatan menerabas hutan lebat itu?!"
"Bersamamu tak pernah ada pekerjaan yang memberatkan bagiku. Apa pun akan kulakukan selama masih bersamamu," sambil matanya menatap lekat-lekat ke wajah Suto Sinting.
Pendekar Mabuk hanya sunggingkan senyum tipis dan keluarkan gumam lirih,
"Aneh...!" ia menahan geli dengan membuang muka ke arah lain.

Unduh
Label: 3 komentar | | edit post
Reaksi: 
Mahesa kelud - 10
"Orang tua edan! Kalau kau mau tahu akulah Ketua Perguruan Ujung Kulon yang baru!"
"Oho,,,?!" Lor Munding Saksana berhenti mengunyah. Dia menatap paras Kemaladewi sejurus lalu berpaling pada Udayana. "Eit sompret! Betul ini dia Ketua Perguruan Ujung Kulon?!"
Udayana menjawab cepat "Tidak! Perempuan ini pastilah istri Lutung Gila yang telah merampas kedudukan Ketua Perguruan dari tangan saudara seperguruan ku!"
"Pemuda, jadi kau salah seorang anak murid Perguruan Ujung Kulon? Kalau begitu berlututlah di hadapan Ketua mu yang baru!" perintah Kemaladewi.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Dewa Arak - 74. Panggilan Ke Alam Roh
"Nenek! Tolonglah cucumu, Nek. Tokoh-tokoh jahat datang menganiayaku dan membunuh ayah! Aku tidak mau mati sebelum membalas sakit hati ini. Bukankah Nenek dulu mengatakan agar aku menemui Nenek bila mendapat kesulitan?!" isak Arum Sari dengan suara memilukan dan terbata-bata.
Berhasilkah Arum Sari meminta pertolongan pada Nenek Mayang yang telah meninggal dunia itu? Apakah Panggilan ke Alam Roh ini bersambut? Padahal, roh Mayang sendiri telah disandera dalam sebuah kurungan! Lebih repot lagi, Nenek Mayang sendiri mati penasaran karena dendamnya tak terbalas!
Bagaimanakah Dewa Arak bisa terlibat dalam masalah yang menembus batas alam duniawi itu? Dan berhasilkah Dewa Arak menuntaskannya?!

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Dewa Linglung - 11

Terkejut Rangga Weni ketika sebuah bayangan berkelebat disertai kata-kata.
“Bagus! Pengemis hina macam begitu tak patut menjamah tubuhmu, nona!” Sekejap dia telah melihat seorang laki-laki gagah telah berdiri di hadapannya. Ketika menatap ke arah si pengemis, ternyata pengemis itu telah rebah tak berkutik. Di keningnya menancap dua buah jarum berwarna hijau. Jelas dia tewas karena jarum maut itu. Siapa lagi pembunuhnya kalau bukan laki-laki di hadapannya itu?
“Siapa kau? mengapa kau membunuhnya?” sentak Rangga Weni terkejut. Diam-diam dia memperhatikan wajah orang.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
CANDIKA - Dewi Penyebar Maut 4
Rara Sindu tahu bahwa Rakryan Mapatih hanya menggodanya. Tetapi ia tak mau mengalah. “Jika Mapatih yang agung berpikir begitu, aku akan menyuruh orang menutup pintu gerbang dan menyuruh semua orang ku untuk menghajar Tuan. Rasanya biar sesakti apa pun paling tidak Tuan akan babak-belur.” Rara Sindu betul-betul bertepuk tangan. Dan entah dari mana beberapa belas orang bermunculan. Semua bersenjata lengkap. Di halaman depan terdengar makian kedua orang pengawal Rakryan Mapatih yang ditinggal di sana untuk menjaga kuda. Juga terdengar pintu gerbang ditutup keras-keras.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Shugyosa - 4
Sesudah berpapasan dengan Nobunaga, Kojiro kini diburu. Beruntung ada Bapa Lao, yang kemudian membukakan suatu rahasia di kuil persembunyian mereka.
Mayeda Toyotomi bertekad menggulingkan Imagawa. Tazumi meminta jasa pada Daisuke Togakure, seorang ninja, untuk memata-matai sepak terjang Mayeda. Sedang Naoko terus menghasut Nobunaga untuk membunuh Imagawa saat upacara minum teh.
Bagian ini sangat menegangkan. Mengisahkan kebusukan para penguasa dan perempuan-perempuan ambisius di belakang tahta.
SEMAKIN MENGASYIKKAN!
BENAR-BENAR JANGAN DILEWATKAN!

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Putri Bong Mini - 4
"Oh, nyawa manusia mereka anggap seperti hewan yang mudah disembelih!" pikir Bong Mini ketika siuman dan melihat mayat-mayat
yang tergeletak di halaman rumahnya. "Bong Mini...!" tiba-tiba sesosok tubuh yang wajahnya berlumuran darah terbangun dan memanggil namanya dengan suara parau. Bong Mini terpekik kaget melihat wajah lelaki yang lebih mirip mayat hidup itu! Beberapa saat wajahnya ditutup dengan kedua telapak tangan! Siapakah yang bangkit dan memanggil namanya itu? Siapa pula yang telah begitu tega membunuh pasukan Bongkap, papanya, dan menghancurkan rumahnya? Benarkah semua ini perbuatan Iblis Pulau Neraka?

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Siluman Ular Putih - 8
Sepasang mata bulat Datuk Wanoro makin berkilat-kilat penuh kemarahan. Dua sosok yang kini berdiri tak jauh dari tempatnya berusia sekitar empat puluh tahun. Mereka mengenakan jubah berwarna merah darah. Yang sebelah kanan adalah lelaki bertubuh tinggi besar. Wajahnya kasar penuh benjolan kecil. Sepasang matanya tajam. Hidungnya besar dengan kumis lebat melintang. Rambutnya panjang sebahu. Ia tak lain dari Badar Angin.
Sosok di sebelah Badar Angin juga lelaki berjubah merah darah. Tubuhnya kurus kering seperti orang berpenyakitan. Rambutnya panjang keriting dengan kulit hitam legam. Wajahnya tanpa kumis dan jenggot. Siapa lagi tokoh ini kalau bukan Badar Topan?

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Pedang Siluman Darah - 9
Mertuanya dibunuh, kekasihnya diculik, sedangkan dirinya diburu hingga jatuh ke jurang...
"Lepaskan ! Lepaskan aku!"
"Hua, ha, ha... Kau tak bakal mampu manis. Kau harus ikut aku!"
"Percuma kalian mengejarnya, dia bukan tandingan kalian!"
Apa yang dilakukan Kardika setelah mendapatkan Ajian Wesibeni? Bagaimanakah kerajaan Bayalor yang terombang-ambing oleh pemberontakan? Untuk lebih jelasnya, silahkan ikuti kisah ini...

Unduh
Pendekar Naga Putih - 40
Semaraknya suasana pesta di perguruan Gelang Terbang, tiba-tiba menjadi area pertumpahan darah! Kejadian itu berawal dari tewasnya beberapa tamu yang terdiri dari tokoh persilatan. Mereka tewas setelah meminum air yang disediakan pihak tuan rumah! Berbarengan dengan itu, tiba-tiba muncul dua sosok bayangan putih yang langsung membantai murid-murid perguruan! Apakah sebenarnya yang tengah terjadi di Perguruan Gelang Terbang? Mengapa kedua sosok bayangan putih itu melakukan pembantaian yang sangat sadis? Siapakah mereka?!

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Komik WS - 2A

Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Kindo - 2
Takut-takut Kanti melangkah mengikuti Kindo. Anak lelaki ini menolong Kanti melompati jendela lalu menyusul masuk. Ketika masuk ke dalam menara dilihatnya patahan dan pecahan-pecahan kayu berantakan. Potongan-potongan kayu itu ada berupa tangan dan kaki manusia. Ada seperti kepala dan bagian tubuh orang.
"Ada apa tadi...?" tanya Kindo pada Kintani.
"Aku menjulurkan kepala di jendela. Lalu ada dua tangan menarik ku masuk. Hampir aku celaka kalau tidak lekas berdiri. Aku berhadapan dan diserang orang-orangan kayu. Orang yang membuat merancangnya pasti luar biasa. Boneka kayu itu bisa menyerang seperti manusia sungguhan!"

Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Kindo - 1
AKU SATRIA MUDA PERKASA
SIAP MENGARUNGI BAHAYA
TABAH DALAM SEGALA DERITA
IMAN DALAM SEGALA SENGSARA

AKU PENDEKAR MUDA PERKASA
TIADA HARI TANPA TANTANGAN
BERKELANA MEMBELA KEBENARAN
SIAP TEGAKKAN KEADILAN

Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Bayangan Sukma - 10
Eyang Ringkih Dewi, tokoh hitam yang hidup ratusan tahun yang lalu, makamnya didatangi jago-jago rimba persilatan. Yang menjadi rebutan adalah sebuah Cambuk Sutra Sakti yang menjadi senjata andalan Eyang Ringkih Dewi.
Dan perebutan itu telah banyak memakan korban. Mendadak saja muncul seorang gadis yang teramat sakti dan kejam. Dia adalah jelmaan dari Eyang Ringkih Dewi yang hidup kembali.
"Aku kubuat hancur dunia ini!" seru gadis dari alam kubur itu. Dan terjadilah teror yang mengerikan!
Hanya seorang yang bisa menghentikannya, dia adalah Madewa Gumilang atau Pendekar Bayangan Sukma!

Unduh
Pendekar Slebor - 33
Tiga dara jelita sama-sama mencintai Pendekar Slebor. Mereka juga sama-sama mengejar pendekar urakan itu, dan diantara mereka rupanya telah tertanam rasa saling pengertian. Tak ada pertikaian di antara mereka. Tak ada darah yang tumpah. Dan tentunya persoalan asmara ini membuat Pendekar Slebor mati kutu dan juga tidak mengerti! Apalagi selain persoalan tersebut, seorang tokoh berjuluk Dewa Api
berhasil memaksa Pendekar Slebor untuk melupakan sesaat masalah gadis-gadis itu. Kekejaman dan tingginya ilmu Dewa Api mampu membuat Pendekar Slebor lintang pukang. Bagaimanakah Pendekar Slebor mengatasi seluruh masalah yang menguras tenaga dan pikirannya ini? Dan siapa yang akhirnya berjodoh dengan sang Pendekar?

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Rajawali Sakti - 73. Perempuan Siluman
"Uts...!"
Pendekar Rajawali Sakti cepat-cepat memiringkan tubuhnya, ketika tiba-tiba dari arah belakang, berkelebat sesosok bayangan hitam! Ternyata, seorang perempuan tua berbaju hitam dan penuh tambalan menyerangnya secara gelap!
"Siapa kau...?" desis Rangga.
"Hik hik hik...!"
Pendekar Rajawali Sakti bertanya-tanya sendiri di dalam hati. Mungkinkah wanita tua ini yang disebut Perempuan Siluman? Apakah dua orang peronda yang tergeletak itu juga adalah korbannya?
Lalu, siapa sebenarnya Perempuan Siluman itu? Mengapa dia selalu membutuhkan darah segar untuk kelangsungan hidupnya...?!

Unduh
Jaka Sembung - 9
"Tak salah lagi! Dia tentu orang yang menyuruh pelayan warung itu untuk meracuni ku!" gumam Parmin dalam hati sambil mempercepat larinya, tetapi tubuh Ki Burik telah menghilang ditelan kegelapan malam. Tinggallah Parmin seorang diri di atas bubungan rumah penduduk sambil termangu-mangu dan sesaat kemudian ia telah kembali ke tempat di mana mayat Wangsa tergeletak dan dengan perasaan terenyuh dibopongnya mayat Wangsa yang berlumuran darah ke tempat di mana Parmin tadi berteduh.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Gento Guyon - 11
"Aku sebenarnya seorang bidadari kayangan." Menerangkan si gadis dengan suara merdu dan enak didengar. Berlagak sok tahu Gento Guyon yang sempat kaget mendengar jawaban si gadis berkata. "Aku memang sudah menduga gadis secantikmu pasti berasal dari Kayangan. Di dunia ini mana ada gadis secantik dirimu. Tapi... sebenarnya kayangan itu ada di mana?"

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Hina Kelana - 14
"Ha... ha... ha...! Asal kau tahu saja siluman keparat! Pukulan Iblis Beracun yang mengenai tubuhmu selama ini tak seorang pun mampu bertahan hidup, lebih dari dua pekan. Kau boleh kebal terhadap berbagai jenis senjata, namun di kolong jagad ini tak seorang pun manusia yang dapat menghadapi satu-satunya ilmu sesat yang sangat langka itu....'"
Siluman Harimau penjelmaan Rajenta menggerung, di kibas-kibaskannya ekor untuk memberi kekuatan baru agar dapat bangkit kembali.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Roro Centil - 9
"Hi hi hi... hi hi... Aku sudah tahu siapa kau, mengapa masih juga menutupi wajahmu...? Lebih baik kau lekas-lekas minta ampun padaku, dan lepaskan aku! Kalau tidak, roh ku akan keluar untuk mencabut nyawamu...! Hi hi hi... hi hi... Terkejut laki-laki bertopeng ini, Kata-kata itu tentu saja membuat ia ragu. Apakah benar orang yang di tawanya ini telah mengetahui dirinya? Agaknya mendengar gertakkan Roro itu, nyali si manusia bertopeng ini, jadi kendur menyusut. Ia menduga gadis itu mempunyai ilmu hitam. Namun tiba-tiba wajahnya jadi berubah sinis

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Gila - 10
"Ayolah, Anak Tampan?! Bukankah kau memerlukan kehangatan?" rayu Ratu Siluman Tengkorak Darah sambil menggandeng tangan Pendekar Gila dan mengajak ke singgasananya,
"Kakang Sena, jangan lakukan itu!" teriak Mei Lie bergerak mengejar. Tetapi, sebelum dirinya berhasil mendekati Sena dan Ratu Siluman, Mei Lie telah dihadang dua anggota Gerombolan Tengkorak Darah.
Pendekar Gila pun tidak menghiraukan kehadiran Mei Lie. Dia terus berjalan menuju singgasana bersama Ratu Siluman.
Bagaimanakah kelanjutannya? Apa yang akan terjadi pada diri Pendekar Gila yang telah dikuasai pengaruh iblis? Mampukah Mei Lie menolong kekasihnya untuk keluar dari Kerajaan Tengkorak Darah?

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: