Gento Guyon - 18
Mendengar ucapan Iblis Edan sang dara jadi tercenung. "Kau mengenalnya. Atau mungkin gurumu punya silang sengketa dengan adipati?" "Tidak tahu. Guruku cuma pernah mengatakan, hendaknya aku jangan memberi hati bila bertemu dengan orang Purbolinggo itu." Mutiara Pelangi yang masih merupakan keponakan bekas adipati Purbolinggo yang lama menatap wajah Iblis Edan. Dalam hati dia berkata. "Nasib paman Karma Sudira sampai saat ini aku tidak tahu. Dua anaknya yang raib ketika penyerbuan prajurit kerajaan ke kadipaten saat paman memimpin Purbolinggo jika hidup tentu sudah sebesar pemuda ini. Sayang aku sendiri saat itu juga masih kecil. Mungkin sekarang masih belum terlambat jika kutelusuri jejak kedua putra paman."
Unduh
Pendekar Hina Kelana - 25
"Kelana...! Tolong...! Toloooong...!" teriak satu suara. Pemuda itu mengenali betul siapa yang mengeluarkan suara itu. Datangnya dari arah bayangan yang sedang berkelebat. Hatinya mulai was-was. Apa yang terjadi pada Tanjung Sari? Apakah dia dalam keadaan bahaya? Bayangan itu hampir tersusul oleh Buang Sengketa. Kini dia dapat melihat dengan jelas. Tanjung Sari sedang dipanggul oleh seseorang bertubuh pendek. Tak jelas rupa orang itu dari belakang. Tapi ilmu larinya sungguh hebat luar biasa. Dan pemuda itu terpaksa mengerahkan ajian Sepi Angin sampai tingkat yang tertinggi. Kalau tak tersusul dalam beberapa saat ini, sudah bisa dipastikan gadis itu yang berteriak-teriak ketakutan akan dibawa orang itu ke tempatnya, dan pemuda itu hampir setengah yakin bahwa orang itu bersarang di sekitar danau yang selalu ditutupi asap itu.
Unduh
Pendekar Kembar - 15
"Karena kau telah menyelamatkan nyawaku, maka menurut hukum adat Suku Kano kau berhak mendapat hadiah, yaitu menikah denganku!" ujar Nilawesti. "Bagaimana kalau aku menolak tantangan mesra tersebut?" tanya Soka Pura, Pendekar Kembar bungsu. "Aku akan merasa tersinggung. Karena penolakan berarti penghinaan, dan bisa jadi kau akan dibunuh oleh pamanku atau para pengawalnya!" jelas Nilawesti. "Edan!" seru Soka Pura.
Unduh