Rajawali Emas - 11
Dua orang yang baru datang yang memang si Penabur Pasir dan Sandang Kutung adanya, mengkelap mendapati ejekan orang. Orang yang bertubuh tinggi kurus dengan mengenakan pakaian hitam gombrang dan jubah panjang mengeluarkan dengusan dalam. Sementara itu, sepasang mata memerah dengan gigi tajam meruncing milik seorang lelaki berbulu yang mendekam seperti seekor serigala, memperhatikan dari balik sebuah semak.
Dan begitu dilihatnya seorang perempuan bertopeng perak bertengger di sebuah pohon, orang penuh bulu hitam ini perlahan-lahan mundur dengan cara merangkak. Dan menyusup di balik semak. Kembali mendekap seperti seekor serigala.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Walet Emas - 9 (TAMAT)
“Keparat! Apakah kau pendekar cabul? Dan di perguruanmu hanya diajari untuk menelanjangi wanita?!” gertak Pusparini tanpa takut apa yang akan dilakukan terhadap dirinya.
Pikir Pusparini, dirinya masih mampu bertahan seandainya laki-laki itu menyerang hanya untuk menjambret kainnya. Bukankah dalam peristiwa Siluman Kedung Brantas ia mampu menggagalkan tangan-tangan yang jahil yang mencoba mencolek pantatnya dalam arena tari, dan hal itu disayembarakan?
“Ayo, cobalah jambret kainku ini!” katanya lagi.
“Tidak! Akhlakku tidak serendah itu,” jawab si laki-laki itu. “Dan aku bukan pencuri.”
“Buktinya! Senjataku telah hilang. Kau telah melarikan kuda itu. Kalau tidak kucegah, kau pasti sudah ngeblas jauh.”

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Naga Putih - 45
“Hm..., bersiap-siaplah....”
Ki Lunggara mengeluarkan kata-kata peringatan saat melihat Pulau Elang Hitam sudah terpampang beberapa belas tombak di depannya. Wilang, yang mendengar peringatan pemimpinnya, segera berpencar bersalto diikuti kawan seperahunya. Mereka memisah-kan diri dari kelompok Ki Lunggara.
“Kita berpisah, Kakang...,” ujar Wilang sebelum memisahkan diri dan bergerak ke kanan. Rupanya lelaki bertubuh sedang yang gerak-geriknya gesit itu tetap hendak melaksanakan niatnya untuk mendatangi pulau secara sembunyi-sembunyi.
Ki Lunggara hanya menganggukkan kepalanya menyahuti ucapan Wilang. Kemudian ia terus bergerak maju mempercepat laju perahunya.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Slebor - 39
Kera dan kera. Pendekar Slebor kali ini banyak berurusan dengan kata itu. Dia ditugaskan oleh seseorang yang semula dianggapnya telah meninggal, yaitu tua bangka buyutnya sendiri, untuk pergi ke pulau penuh teka-teki.... Pulau Kera. Dan mengambil Mahkota Raja Kera! Ya, semua kejadian menegangkan ini memang berawal dari benda mustika itu. Sebuah benda yang diperebutkan oleh enam orang yang menjelma menjadi monyet. Di sana, Pendekar Slebor dan sepupu jauh judesnya, Purwasih harus mengembalikan benda mustika itu kepada orang-orang yang berhak memilikinya. Mereka harus berhadapan dengan keganasan alam dan kesaktian si manusia monyet. Jika tidak....

Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Mustika Lidah Naga - 7 (SELESAI)
“Tapi kudengar ilmu perempuan itu tinggi sekali. Buktinya guru majikan kita bisa dibunuh begitu saja olehnya.”
“Iya, ya....”
“Aku malah punya penilaian lain tentang sikap majikan kita.”
“Maksudmu?”
“Kurasa majikan kita sudah menjadi taklukkan perempuan sinting itu. Mangkanya perempuan itu dibiarkan berkeliaran semaunya di dalam rumah majikan kita.”
“Ah, kalau ngomong jangan sembarangan. Kalau kedengaran sama Juragan Subali, bisa kena damprat kamu!”
“Aku berani ngomong begini kan sama kamu. Coba deh perhatikan sendiri, bagaimana sikap majikan kita pada perempuan gila itu. Kelihatannya seperti takut sekali, kan?!”

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Mustika Lidah Naga - 6
Seruan itu diulang sampai tujuh kali. Dan begitu selesai berseru untuk yang ketujuh kalinya, tiba-tiba Renggimurti menjerit-jerit sambil berguling-guling di tanah. Dan akhirnya ia bangkit... berdiri dengan mata merah dan meneteskan darah! Tubuhnya menggigil, tongkatnya ditunjukkan ke arah Adipati Prabalaya sambil berkata lantang dengan suara yang lain dari biasanya, “Wahai putra Prabaseta dan Sutiresmi! Seharusnya engkau sadar bahwa pada saat ini di bawah permukaan Kawahsuling, bersemayam makhluk yang dahsyat! Dia selalu membutuhkan tujuh ratus roh ma¬nusia, untuk memperpanjang umurnya! Dia tidak akan bisa ditundukkan oleh apa pun, kecuali oleh seseorang yang memiliki pedang Saptaraga!”
Setelah berkata demikian, nenek-nenek itu terjungkal, tergeletak dan tidak sadarkan diri.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Mustika Lidah Naga - 5
Seandainya Japra pandai membaca, mungkin tidak akan semudah itu ia memberikan kitab Dasadaya tersebut. Karena kitab itu jauh lebih berharga daripada ikan-ikan yang Japra cari tiap hari.
Pada mulanya Aria Lumayung sendiri tidak menyadari betapa berharganya kitab itu. Maka setibanya di dalam purinya, kitab itu diletakkan begitu saja di bawah peraduannya
Beberapa minggu kemudian, barulah Aria Lumayung mulai membaca isi kitab itu.
Tulisan di dalam kitab itu merupakan hasil pahatan di atas lembaran kulit yang sudah disamak. Sehingga walaupun kelihatannya kitab itu sudah cukup tua, Aria Lumayung masih bisa membacanya.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Mustika Lidah Naga - 4
Senapati Prabayani memperlihatkan sebuah cupu perak.
“Apa isi cupu itu?” Aria Pamungkas mengernyitkan keningnya.
“Serbuk Kucubung Rawa,” Senapati Prabayani melayangkan senyum genit. Senyum yang sering membuat Aria Pamungkas merinding.
“Kucubung Rawa?!”
“Benar, Gusti Aria. Serbuk ini memang keras sekali. Memaksa seseorang membuka segala rahasia yang masih dipendamnya. Tapi... ia sendiri tidak akan tahan lebih dari sehari.”
“Maksudmu?”
“Setelah makan serbuk ini, orang itu akan menjawab setiap pertanyaan kita. Dan setelah mengoceh, ia akan berkelojotan... sekarat. Dan paling lama sehari ia kuat menahannya... lalu mampus!”

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Mustika Lidah Naga - 3
Prabayani bahkan menyahut, “Hamba akan memperlihatkan sesuatu yang lebih hebat daripada apa yang pernah dilakukan oleh adik hamba.”
“Maksudmu?”
“Hamba sanggup menghadapi tigapuluh prajurit pilihan.”
Aria Pamungkas terlongong. Ingin juga ia membuktikan ucapan Prabayani itu. Tapi ia tidak ingin kehilangan prajurit-prajurit pilihannya lagi. Maka sahutnya, “Aku tidak ingin melihatmu bertarung dengan manusia.”
“Kalau begitu,” kata Prabayani, “hamba persilakan Gusti Aria mengeluarkan binatang-binatang yang paling ganas. Menurut berita yang pernah hamba dengar, Gusti Aria mempunyai harimau-harimau piaraan...”
“Tidak!” potong Aria Pamungkas. “Aku tidak ingin melihatmu bertarung dengan makhluk hidup.”
Prabalaya berkata setengah berbisik kepada kakak¬nya, “Perlihatkan saja Layon Ngincir.”

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Mustika Lidah Naga - 2
Rangga yang ikut berduka menyaksikan peristiwa itu, hanya meremas-remas tangannya di ambang pintu. Dan Wikrama menghampirinya. Memegang bahunya dengan sikap memohon. “Tolonglah anak itu, Rangga. Jangan biarkan dia jadi korban kebinatangan Adipati Natajaya. Dia... dia sebenarnya bukan anakku. Tapi aku berkewajiban menolongnya. Dia adalah putri Adipati Wiralaga...!”
“Putri Adipati Wiralaga?!”
“Ya. Adipati Wiralaga adalah adipati yang tewas oleh kaki tangan Natajaya. Kemudian Natajaya diangkat menjadi adipati di Kawahsuling. Tapi... nanti sajalah kuceritakan lebih lanjut. Sekarang tolonglah dulu gadis itu... Nilamsari itu....”
“Nilamsari namanya?”
“Ya. Dia....”
Belum lagi selesai Wikrama bicara, tiba-tiba Rangga lenyap dari pandangannya!

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Mustika Lidah Naga - 1
Pintu rumah itu pun terbuka. Dan Rangga menghampiri pintu rumah itu. Ketika Rangga berada di ambang pintu yang terbuka itu, lagi-lagi ia melihat mayat-mayat bergelimpangan di lantai!
“Waaak! Di rumah ini juga banyak mayat! Gustiiii... apa sebenarnya yang telah terjadi?” Rangga bergegas meninggalkan rumah itu.
Lalu ia berlari ke rumah lain. Dan lagi-lagi ia menemukan hal yang sama. Hanya mayat dan mayat saja yang ditemukan olehnya.
“Seluruh penduduk Tilugalur mati! Oooh... di sana-sini mayat!” Rangga berlari-lari dalam kepanikannya.
Dan lalu ia berteriak-teriak seperti orang gila, “Mayaaat! Mayaaaat!”
Tak peduli dengan mayat istrinya yang belum dikuburkan, tak peduli dengan mayat-mayat penduduk Tilugalur yang bergeletakan di rumahnya masing-masing, Rangga berlari sekuat-kuatnya ke arah utara.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Rajawali Sakti - 79. Penyamaran Raden Sanjaya
"Aji Cakra Buana Sukma...!" teriak Rangga keras.
Seketika itu juga Pendekar Rajawali Sakti menempelkan pedangnya ke pedang milik Nini Bawuk. Tentu saja wanita itu sangat kaget, karena mendadak senjatanya terasa lengket pada pedang lawan.
Seluruh tenaga dalamnya segera dikerahkan untuk menarik pulang pedangnya. Tapi, semakin Nini Bawuk mengerahkan tenaga dalamnya, semakin banyak tenaganya tersedot.
Nah, siapakah Nini Bawuk itu? Mengapa dia bentrok dengan Pendekar Rajawali Sakti? Lalu, siapakah yang menyamar sebagai Raden Sanjaya? Mengapa dia melakukan penyamaran? Dan terakhir, bagaimana Pendekar Rajawali Sakti harus memenuhi tantangan seorang tokoh sakti di Lembah Naga?

Unduh
Pendekar Blo'on - 12
Kenyataan nasib Patih Luragung sangat buruk. Ia tercebur ke dalam telaga panas beracun hanya karena menjalankan perintah Sang Maha Sesat. Maha Sesat membuat jebakan dengan menyamar sebagai kawan-kawan Pendekar Blo'on. Pertapa Seribu Abad akhirnya datang membantu. Di dalam lingkungan kerajaan kacau karena masing-masing pihak sudah tidak dapat lagi membedakan mana kawan, mana 1awan. Tokoh Anak Langit akhirnya muncul juga. Apa yang terjadi pada raja Lalim Durjana? Abdi Banda, Raja Tega dan Lima Utusan Akherat? Mampukah orang ini selamat dari Anak Langit? Inilah petualangan yang mengerikan Si Konyol!

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Joko Sableng - 25
Pada akhirnya, Kiai Lidah Wetan keluar dari Kampung Setan dan berkelebat ke arah barat. Agak jauh meninggalkan Kampung Setan, tiba-tiba Kiai Lidah Wetan mendengar suara ledakan lalu ditingkah dengan terdengarnya gelakan tawa. Terakhir sayup-sayup telinganya mendengar suara kambing. Yang membuat Kiai Lidah Wetan memutuskan untuk melihat apa yang terjadi, suara kambing itu sangat keras dan terus menerus! Hingga tanpa pikir panjang lagi Kiai Lidah Wetan berkelebat ke arah datangnya suara kambing.
“Baik! Kau tak mau mendengar peringatanku! Tunggulah di tempatmu sampai giliranmu sampai!” Kiai Laras buka suara lagi. Jubah Tanpa Jasad bergerak memutar menghadap Setan Liang Makam.
“Aku tak memerintah mu berhenti! Atau kau ingin mampus sekarang?!”

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Satria Gendeng - 11
DUA puluh dua tahun lalu, datang seorang lelaki tua kepada mendiang Ki Arga Pasa. Dia menitipkan seorang bayi perempuan kecil. Karena ketua Perguruan Belalang Putih itu tak pernah dikarunia seorang anak pun dari kandungan istrinya, maka dengan suka cita, dia dan istrinya pun menerima titipan mungil itu.
Selain bayi, lelaki tua juga menitipkan satu kitab di dalam peti kayu.
Malam waktu itu. Si lelaki tua diterima Ki Arga Pasa dan istrinya di ruang pendapa perguruan yang belum begitu lama dibangun. Saat itu, muridnya masih terhitung dengan jari. Salah seorang di antara mereka adalah Palguna, bocah kecil telantar yang dipungut oleh Ki Arga Pasa di kotaraja Pajajaran.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Hina Kelana - 19
"Bocah, siapakah kau ini? Begitu berani mencampuri urusan dedengkot Kuburan Iblis...!" membentak Nyai Plasik setelah memandang tajam pada si pemuda beberapa saat lamanya.
"He... he... he...! Aku cuma pengelana kok. Namaku kukira tak penting bagimu pula iblis jelek sepertimu tak perlu tahu lebih banyak siapa aku ini!" jawab Buang Sengketa mencemooh. Maka habislah sudah kesabaran yang dimiliki oleh Nyai Plasik. Kemudian tanpa berkata-kata lagi Nyai Plasik dan muridnya langsung menyerang pemuda keturunan Raja Ular Piton Utara ini dengan pukulan-pukulan beracun yang sangat ganas. Kini pemuda itulah yang menjadi pelampiasan kemarahan Nyai Plasik. Buang sadar betapa tiada guna mempergunakan Jurus Kesabaran 'Koreng Seribu' apalagi dia sendiri sempat melihat betapa telengasnya manusia muka rusak itu.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Gila - 17
Dengan Pedang Lembayung merah, Joko Galing diharapkan menjadi pendekar pembela kebenaran. Tetapi sejak bertemu Nyi Mas Lindri, perangainya berubah. Dia malah menjadi pimpinan Serikat Iblis.
"Celakalah kau, Joko Galing! Celakalah kau...!" maki Ki Mandra sambil mengelakkan serangan muridnya yang murtad itu.
"Tutup mulutmu, Tua Keparat!" dengus Joko Galing sengit, dan terus menyerang gurunya dengan Pedang Lembayung Merah.
Beruntung, dalam keadaan terdesak, Pendekar Gila datang membantu lelaki tua itu. Bagaimanakah nasib Ki Mandra selanjutnya? Lalu, bagaimana pula nasib Serikat Iblis yang di pimpin Nyi Mas Lindri dan pengkhianat Joko Galing?

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Pulau Neraka - 35
"Serahkan keris itu padaku, Kisanak!" sentak Dewi Beruang Putih.
"Maaf, aku harus menyerahkan pada pewarisnya," tolak Bayu tegas.
"Aku Pewaris Keris Naga Emas itu!" Pendekar Pulau Neraka tahu kalau Pewaris Keris Naga Emas adalah seorang gadis bernama Intan Kumala. Tapi, Dewi Beruang Putih ini juga bernama Intan Kumala!
Benarkah gadis itu pewaris yang asli? Bagaimana cara dia membuktikannya pada Pendekar Pulau Neraka untuk mendapatkan keris pusaka itu?
Lalu, siapakah perempuan tua yang mengaku bernama Ratu Mayat Bukit Setan itu? Apakah kehadirannya akan membantu Dewi Beruang Putih? Atau malah sebaliknya?

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Mabuk - 61
"Siapa yang menyerangnya?!" pikir Suto Sinting sambil berusaha memandang keadaan sekeliling. Tapi tak ada bayangan manusia yang berdiri di sekitar tempat itu.
"Ah, persetan dengan penyerangnya itu! Tuak harus kuminum lebih dulu supaya mengembalikan tenagaku!"
Glek, glek, glek...!
Tiga teguk tuak sudah cukup menyegarkan tubuh Pendekat Mabuk. Tenaganya yang pulih secara sedikit demi sedikit itu membuatnya lekas bangkit berdiri dan memandang ke arah jatuhnya Setan Rawa Bangkai. Tampak kepala Setan Rawa Bangkai tersumbul dari ketinggian semak ilalang.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Dewa Arak - 80. Misteri Gadis Gila
"Pertanyaan yang hendak ku ajukan adalah, di mana adanya Iblis Buta, Kek?!"
Arya hampir terlontar, ketika melihat Peramal Gendeng malah tertawa bergelak hingga terbatuk-batuk. Meski heran, pemuda ini tidak mengajukan pertanyaan lagi. Ditunggunya hingga kakek itu sendiri yang memberi jawaban.
"Luar biasa! Mengapa begitu banyak tokoh persilatan yang mencari-cari Iblis Buta?! Mengapa tidak ada seorang pun yang mencari-cariku?! Apakah orang buta itu memiliki wajah yang lebih tampan daripada aku?!"
Arya tak tahan untuk tidak tersenyum mendengar ucapan-ucapan Peramal Gendeng. Tapi senyumnya langsung lenyap, ketika melihat wajah Peramal Gendeng langsung berubah.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Dewa Linglung - 13
"Ssst..! ada seseorang membuntuti kita di sebelah kanan hutan. Jangan-jangan si laki-laki berbaju kulit harimau itu yang membuntuti kita!" bisik Nanjar. Gaman Seto berpaling ke arah yang ditunjuk Nanjar dengan mulutnya yang dimonyongkan.
"Kulihat sesosok bayangan menyuruk ke dalam gerombolan ternak disana itu!" Nanjar kembali berbisik. Wajah Gaman Seto berubah tegang dan tampak membesi. "Bagus! kalau benar dia aku akan menangkapnya hidup-hidup. Dia telah mempermainkan aku!" Berkata Gaman Seto dengan geram.
"Manusia busuk! keluarlah kau dari tempat persembunyianmu!"
"Whuut! Pras..!

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
CANDIKA - Dewi Penyebar Maut 6
Wara Hita alias Dewi Candika semakin lengkap persiapannya untuk merebut kembali keagungan leluhurnya. Atau paling tidak membalas dendam. Nagabisikan mengisinya dengan ilmu, Juru Meya melindunginya dengan pasukan dan dana... Semua hampir siap, saat gelora nalurinya sebagai gadis muncul. Ia pun ingin merasakan kehangatan cinta seorang pemuda. Siapakah pemuda yang patut dipilihnya?
Sementara itu Sinom dan Ki Mahendra mulai turun tangan untuk mengacaukan semua!

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Shugyosa - 6
Intrik serta pengkhianatan terus berlanjut. Nobunaga, Imagawa, Tazumi, serta Naoko berebut pengaruh untuk jadi penguasa. Sesudah pembakaran yang mengerikan, Nobunaga menyerbu Suruga. Tak terduga serangan ini jadi awal kekalahannya.
Saburo Mishima bertemu Mayumi, tokoh wanita paranormal yang luar biasa. Benih cinta tumbuh meski Saburo tahu Mayumi seorang ninja.
Bagian ini sangat menarik. Bukan hanya perebutan kekuasaan, tetapi juga romantisme serta pengorbanan.
INDAH. EKSOTIS. DAN MEMPESONA!
JANGAN ANDA LEWATKAN!

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Putri Bong Mini - 6
"Siapa yang menewaskan istriku?" bentak Kidarga kalap. "Bong Mini!" "Hah?!" semua yang hadir di situ menjadi tegang mendengar nama Bong Mini. Seorang gadis kecil yang selama ini dicari-cari, malah ternyata telah membunuh Nyi Genit! "Tangkap gadis itu, hidup atau mati!" perintah Kidarga pada Baladewa. Baladewa pun segera mengumpulkan pasukannya dan berangkat mencari Bong Mini, gadis mungil yang telah menewaskan istri pimpinan Perguruan Topeng Hitam. Nah, bagaimana sikap Bong Mini ketika melihat pemuda yang pernah menyatakan cinta kepadanya menjadi pengikut Perguruan Topeng Hitam? Dan kini ingin menawannya?! Apakah gadis mungil itu akan melawan pengkhianatan Baladewa?

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Siluman Ular Putih - 10
Wuttt! Wuttt!
Plakkk! Plakkk!
Dua kali Dewa Langit mampu menahan tongkat di tangan Peramal Maut dengan telapak tangannya. Sementara Peramal Maut sama sekali tidak menduga kalau Dewa Langit berani menangkis serangan-serangan tongkatnya hanya menggunakan tangan kosong. Dan hebatnya lagi, justru telapak tangan kanannya yang terasa bergetar hebat! Sementara tangan Dewa Langit seperti tak terpengaruh sama sekali.
Geraham Peramal Maut menggeletak mengungkapkan kemarahannya. Kedua pelipisnya bergerak-gerak, diamuk oleh amarah menggelegak. Kemudian....
"Terimalah pukulan ‘Gada Akhirat’-ku ini! Heaaat...!"

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Pedang Siluman Darah - 11
"Wuuut...!" tangan manusia kelelawar bergerak menyerang. Jari-jarinya yang berkuku runcing dan tajam, menyambar ke arah musuh-musuhnya. Seketika ketiga orang lelaki itu melompat, mengelakkan serangan itu sembari tebaskan golok. Namun dengan cepat, manusia bermuka kelelawar tepiskan serangan itu. Matanya makin memerah, garang penuh rasa membunuh.
"Setan!" memaki salah seorang dari ketiganya. "Rupanya dia iblis yang selalu menjarah kampung kita. Dialah yang telah mencuri keempat puluh bayi."
"Benar, memang kata orang-orang yang melihat pencuri bayi itu orang ini!" menambah temannya.
"Jangan kita biarkan ia lolos!"
Dengan penuh keberanian, ketiga orang yang merupakan keamanan kampung segera menyerang kembali.

Unduh
Pendekar Naga Putih - 44
“Hei, kau orang tua! Dengarlah! kau tadi sudah menghina kami. Dan itu tidak bisa dimaafkan! Kemudian, ada lagi orang yang menghina kami secara lebih kasar. Dan kau pun memintakan ampun untuk mereka dengan janji akan memberi apa yang kami minta. Sekarang, aku minta ketegasan darimu. Sungguh-sungguhkah ucapanmu barusan?” tanya pengemis muda berwajah kurus itu dengan suara lantang.
“Benar.... Benar...,” sahut pemilik kedai makan itu cepat, sambil mengangguk-anggukkan kepala dengan wajah agak berseri. Pemilik kedai itu sengaja mengucapkannya jelas-jelas, dengan harapan permintaannya tadi dikabulkan.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Komik WS 3A



Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Bayangan Sukma - 12
Malengka Seto menggeram luar biasa marahnya. Dia mencoba bangkit. Namun kaki Moro telah menendangnya hingga dia ambruk kembali.
"Jangan... jangan ganggu istriku...." desisnya terbata-bata.
"Hahaha... kau perhatikanlah betapa baiknya kami mengajak istrimu bersenang-senang...." kata Murka Tungga sambil membuka pakaiannya.
Dan di hadapan Malengka Seto, Murka Tungga dengan buas memperkosa Nyai Asih. Lalu disusul dengan Asena. Kemudian Moro.
Malengka Seto menahan rasa sakit hati, kecewa, sedih dan marahnya. Dia merasa kecil sebagai laki-laki di mana istrinya diperkosa orang dia tak berdaya.
Dan dia tak sanggup menyaksikan adegan yang mengerikan itu. Belum lagi jeritan istrinya yang terdengar amat menyayat hatinya.

Unduh
Pendekar Slebor - 38
Lamaran yang datang dari Penguasa Gunung Mambang, merupakan awal petaka yang menimpa Ranjani, penguasa Ngarai Sejuta Madu yang cantik jelita! Ngarai Sejuta Madu yang sunyi dan indah pun berubah menjadi ajang berdarah yang datang dari orang-orang golongan sesama. Pendekar Slebor yang kebetulan bertandang ke sana harus mengalami peristiwa pelik itu. Petaka Lamaran Berdarah bukan hanya akan merenggut nyawa Ranjani, tetapi juga Pendekar Slebor! Sebab, fitnah yang disebarkan Penguasa Gunung Mambang telah berpengaruh pada tokoh-tokoh persilatan! Fitnah apakah yang berhubungan dengan Lamaran Berdarah tersebut?

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Rajawali Sakti - 78. Perawan Dalam Pasungan
"Kau...?" "Hik hik hik...!"
Belum lagi Ki Rampak berbuat sesuatu, dia sudah menjerit. Lehernya tersambar sebilah golok hitam yang berkelebat sangat cepat! Laki-laki tua itu langsung terkapar berlumuran darah. Lehernya terpenggal hampir buntung!
Beberapa orang yang sempat melihat tewasnya Ki Rampak, merasa yakin kalau pembunuh misterius itu adalah Ni Angki. Seorang gadis yang dipasung, karena dianggap gila dan sering mengganggu.
Benarkah Ni Angki bisa melepaskan diri dari pasungannya? Dan sekarang membantai orang-orang yang telah memasungnya bertahun-tahun? Atau, ada pelaku kedua yang memanfaatkan keadaan ini?!

Unduh