Jaka Sembung - 11
Wori si Pendekar Bumerang, Umang Pendekar Lengan Tunggal dan istrinya Mirah, berhasil dikuasai ahli-ahli sihir yang jahat sehingga mau berbuat apa saja apabila diperintahkan. Mereka ditugaskan untuk membunuh sahabat-sahabatnya sendiri.
Wan Da I dan konconya Womere dibantu anak buahnya menjadi bertambah kuat, apalagi setelah berhasil memperalat Porofesor Van Leinen dan kawannya Simon. Dua orang asing ini mampu membuat bom yang siap menghancurkan kerajaan Pampani.
Si Gila dari Muara Bondet dan kawan-kawannya harus bekerja keras untuk membantu Pampani menundukkan lawan-lawannya.
Bagaimana ilmu silat murni menghadapi ilmu sihir dan senjata dari barat yaitu bom? Ikutilah cerita lengkapnya dalam buku ini. Seruuuuuu!!!

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Gento Guyon - 13
"Apa kau lihat tua botak kalau diriku yang cantik ini punya tampang seperti gembel? Sial betul dirimu ini. Kepala sampai botak begini mungkin rambutmu rontok memikirkan untung melulu sepanjang hari!" dengus Puteri Pemalu. Lalu dia dorong kepala bapak botak hingga membuat si orang tua hampir terjengkang.
Para tetamu tak dapat menahan geli mendengar ucapan dan tingkah si gadis. Apalagi sebelum mendorong orang dia usap-usap kepala bapak kedai beberapa kali.
Puteri Pemalu Sendiri bersikap acuh. Dia mengambil satu keping uang emas, uang itu dilemparkan di atas meja. Hanya lemparan biasa tapi membuat keping emas yang dilemparkannya amblas ke dalam kayu meja.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Hina Kelana - 18
"Peringatan buat kalian yang lain untuk jujur mengikuti segala perintahku!" kata Singalodra sambil putar pandangan ke seluruh ruangan. "Kalau kataku harus pertahankan sesuatu, maka nyawa kalian taruhannya dan jangan kembali dengan nyawa melekat di tubuh walau untuk alasan apa pun. Beda kalau kuperintahkan kalian untuk merampok atau menculik perempuan-perempuan cantik. Kalian wajib menyelamatkan selembar nyawa kalian bila musuh terlalu tangguh untuk dihadapi. Ingat baik-baik hal itu!"
Setelah orang-orang yang berada di situ angguk-anggukkan kepala, Singalodra segera menyuruh mereka untuk keluar. Kecuali si Iblis Ular Hijau yang selalu berada di sampingnya.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Roro Centil - 11
"Hehehe... Berikan padaku bocah itu, murid ku... !". Teriak si Setan Hitam tiba-tiba. Entah mengapa manusia ini jadi kepingin ikut-ikutan menyiksa.
"Baik, guru...! Sambutlah! Tapi jangan kau bunuh dia, guru!" Teriak Rekso Jiwo. Sekali gerakkan tangan, tubuh Pramana kembali melayang ke udara. Akan tetapi sebelum si Setan Hitam sempat menanggapinya, tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan dengan gerakan bagaikan kilat menyambar tubuh pemuda itu. Dan selanjutnya dengan gerakan yang sekali, telah membawanya berkelebat cepat sekali. Hingga sebentar saja sudah lenyap.
Adapun si Setan Hitam jadi terkejut bukan main, karena tahu-tahu tubuhnya terhuyung dua tindak. Kiranya di saat lengannya sudah bergerak untuk menyambuti tubuh pemuda itu, tiba-tiba segelombang angin halus tapi bertenaga besar, telah membuat tubuhnya terdorong.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Gila - 15
"Durjana biadab, kau harus mati di tanganku...!" sengit suara Arum Sari.
"Ha ha ha.... Rupanya kau ketagihan, Arum. Kemarilah, aku akan memberimu kepuasan...!" jawab Galapati sambil tersenyum genit.
"Kurang ajar! Mampus kau! Hea...!" Arum Sari segera membabatkan pedangnya ke tubuh Galapati.
Srrrt! Kipas berwarna ungu sudah berada di tangan Galapati.
Mampukah Arum Sari menuntut balas Galapati yang meninggalkannya begitu saja setelah mendapatkan seluruh tubuhnya? Siapakah sebenarnya Galapati? Bagaimana Pendekar Gila harus mengatasi Durjana Berparas Dewa yang bersenjatakan Kipas Iblis Racun Kelabang Ungu itu?

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Raja Petir - 10
"Raja Petir! Kau jangan bermimpi ingin mendapatkan benda-benda pusaka yang berada di tanganku!" ucap Dewa Petir lantang.
"Tidak, Dewa Petir! Kau harus menyerahkan senjata pusaka yang dicuri itu!" pinta Jaka tegas.
Kini, kedua tokoh muda yang sangat sakti itu siap bertarung memperebutkan warisan Raja Petir! Siapakah yang akan keluar sebagai pemenang? Dan, siapa sesungguhnya Dewa Petir? Apa tujuannya memiliki pusaka yang menjadi hak Raja Petir?
Dalam kisah ini, hadir pula sesosok gadis jelita yang mengganggu ketentraman hati Jaka. Bagaimanakah Raja Petir harus mengungkapkan perasaan hatinya pada gadis jelita yang berjuluk Dewi Payung Emas itu? Dan, apa tanggapan gadis jelita itu sendiri...?

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Kembar - 10
"Panji Doyok adalah orang yang mencuri kitab pusaka keluarga kami," jelas Ayunda pada Soka Pura. "Padahal kitab Jayasakti tak boleh dimiliki dan dipelajari oleh orang yang bukan keturunan dari Eyang Buyut Gardamoyang."
"Lalu bagaimana jika Panji Doyok sampai mempelajari isi kitab itu? Apa akibatnya?" tanya Soka Pura.
"Dia akan menjadi korban kitab itu!"

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Naga Geni - 18
Dari arah kabut terdengarlah teriakan I Jembrana, “Kalian unggul hari ini. Tapi jangan keburu bangga. Tunggulah lain saat nanti!”
Ngurah Jelantik hanya dapat menggeretukkan giginya mendengar ancaman musuhnya tadi. Kalau hanya menurutkan nafsu amarah saja, mungkin ia sudah akan lari sendirian mengejar mereka.
Akan tetapi kemudian iapun insaf, bahwa musuh dapat berbuat lebih leluasa dari balik kabut itu tanpa dapat diketahui lebih lanjut oleh pihaknya. Dengan demikian, tidak mustahil bila pengejaran itu dilanjutkan, musuh sudah siap memberondongkan senjata-senjatanya sehingga akan menimbulkan banyak korban.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Bodoh - 5
Sebentar kemudian, Dewa Geli melihat sepasang kaki putih mulus yang berdiri di dekat kepalanya. Sepasang kaki itu berdiri tegak dan tak bergerak-gerak. Pemiliknya sama sekali tak mau mengeluarkan suara.
Terkejutlah Dewa Geli bagai disambar petir. Setelah dia mengarahkan pandangan ke atas, tahulah dia bila pemilik sepasang kaki itu tak lain dari Putri Budukan!
"Celaka! Celaka!" keluh si bocah dalam hati.
"Ha ha ha...!" mendadak Putri Budukan tertawa bergelak-gelak. "Kini, kau tahu kehebatanku, bukan? Kau tahu pula kepintaran ku, bukan? Ha ha ha...! Kau telah termakan pukulan 'Sihir Penjerat Arwah'. Sebentar lagi, cairan darahmu akan menjadi anugerah kejayaan ku! Ha ha ha...!"

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Jodoh Rajawali - 10
Setelah merenungi firasat hatinya, Yoga berkata, "Rasa-rasanya, ucapanmu itu bisa ku percaya. Aku minta maaf, karena diperdaya oleh Raja Tipu, walau untuk itu aku harus kehilangan uang tiga sikal."
Setan Sibuk tertawa tanpa suara. Lalu, ia menjentikkan jarinya hingga berbunyi; klik...! Dan Rangkasok berkata,
"Raja Tipu ingin balas dendam kepada kami, tapi ia tak mampu dan memanfaatkan dirimu dengan mengadu domba seperti itu. Padahal menurut ku, kau bisa saja langsung menuju ke arah selatan dan di sana kau bisa temukan Bukit Kematian yang mempunyai tanah peternakan berisi buaya. Karena Iblis Mata Genit gemar memakan daging buaya. Kau tahu, buaya itu ganas dan galak. Kalau...."

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Kelana Sakti - 8
Gondok dan Gundik ikut melangkah ke luar meskipun mereka masih menahan sakit. Keduanya melangkah di belakang Gindek. Suara-suara mereka terdengar terus oleh Wintara setelah mereka jauh meninggalkan bangunan itu, barulah Wintara turun dari para. Kakinya hinggap di lantai tanpa bersuara.
Matanya menatap tiga orang kerdil yang makin lama makin jauh melangkah.
"Terlalu lancang bila ikut campur urusan mereka. Tapi justru yang ku khawatirkan adalah diri Tapak Welang. Tentunya ketiga kurcaci-kurcaci itu sudah berhadapan dengan Tapak Welang. Mungkin juga dengan Alap-alap Bukit Busung Kawu." kata Wintara dalam hati. Ia sudah tidak melihat lagi tiga manusia kerdil.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Mata Keranjang - 10
"Bayimu lain daripada yang. lain. Tunjung Kuning. Kelak, dia akan menjadi seorang sakti yang tiada tanding...!" ujar Restu Canggir Rumekso pada Putri Tunjung Kuning. Mengetahui kalau bayi itu titisan dedengkot dunia hitam, Restu Canggir Rumekso seperti menemukan sesuatu yang diidamkan
dalam hidupnya. Dan dengan segala ilmu yang dimiliki, ia didik sang anak menjadi seorang yang hebat dan kejam! Lalu digiringnya anak itu untuk melampiaskan dendamnya!
Bagaimanakah sikap Pendekar Mata Keranjang 108 menghadapi anak yang
mempunyai titisan darah terkutuk, dan kemunculannya menebarkan hawa maut di mana-mana?

Unduh
Raja Naga - 10
"Hemmm... mengapa si pencuri justru, melemparkannya kepadaku? Apa maksudnya?"
Sambil menatap kalung itu, Raja Naga melompat turun. Cukup lama dia terdiam memikirkan kemungkinan yang terjadi, sampai kemudian kepalanya menegak. Sorot matanya kian angker karena kedua matanya membuka lebar.
"Astaga. Jangan-jangan.., si pencuri hendak melimpahkan tanggung jawabnya kepadaku! Terkutuk! Aku harus...”
"Lihat! Di tangannya tergenggam kalung Laba-laba Perak! Jelas dia pencurinya!" seruan keras itu mendadak saja terdengar,

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Rajawali Emas - 10
"Terima kasih atas pesan mu, Orang Tua."
Belum lagi selesai suara Tirta terdengar, sosok Mata Malaikat sudah berkelebat cepat meninggalkannya.
"Luar biasa gerakan orang tua berjuluk Mata Malaikat itu. Apa yang dikatakannya tadi jelas merupakan sebuah petunjuk. Hmmm.... Sebaiknya, ku panggil Bwana sekarang. Dengan cara menungganginya kemungkinan aku bisa dengan segera melewati Hutan Seratus Kematian dan Padang Seratus Dosa untuk tiba di Goa Seratus Laknat."
Namun belum lagi Rajawali Emas melakukan maksudnya, tiba-tiba saja satu gelombang angin panas menderu dengan kecepatan luar biasa.
"Heeiiii!!" seru Tirta sambil membuang tubuh ke samping.
Blaarrr!!


Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Cambuk Naga - 10
Prabima tak sempat menyadari kata-kata Andini. Ia sudah semakin bernafsu membunuh Ludiro dengan cincinnya. Ia menyerang Ludiro dengan hentakan tangan mengibas lagi, tetapi: "Taaarr...!" Cambuk Naga melecut tangan Prabima, dan Prabima menjerit: "Aaaaahh...!" Pergelangan tangan itu nyaris putus total. Andini segera menarik Prabima, dan segera membawa lari pemuda itu dengan tangan terkuak ngeri.
"Tangguhkan dulu, Prabima...! Tunggu saat yang baik...!" Andini kabur bersama Prabima, dan Ludiro meringis kesakitan.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pengemis Binal - 11
"Tuan Putri, pergilah! Cepat...!" teriak Pengemis Binal dengan muka merah. Puyer perangsang yang dicampurkan Dewa Guntur ke dalam makanan telah menghancurkan akal sehat Suropati alias si Pengemis Binal. Pendekar muda yang telah kehilangan seluruh kepandaiannya itu mendisis-desis tak karuan. "Aku... aku tak bisa pergi dari sini, Suro.... Aku ditotok...!" jawab Putri Rani terbata-bata. Dirinya memang ditotok oleh Dewa Guntur dan sengaja digeletakkan di atas kapal itu untuk memancing birahi Pengemis Binal! Bagaimanakah nasib Pengemis Binal dan Putri Rani selanjutnya? Dan, berhasilkah Dewa Guntur membunuh Pengemis Binal yang sudah tak berdaya itu?

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Sepasang Pedang Mustika 4 (TAMAT)
“Tak ada yang curang, Ki Kunarpo Ludiro. Aku belum jatuh di tanah dan kini aku masih bisa hinggap kembali di atas panggung ini, maka dengan demikian berarti aku belumlah kalah.”
“Huahaaaaa... huahaaaa... huahaaaa... baiklah kalau demikian.” Bersama dengan ucapannya ini kembali tangan Ki Kunarpo Ludiro diulurkan ke muka. Kali ini bukannya bersifat mendorong lagi, akan tetapi menghantam ke arah ulu hati.
“Ayaaaa...!” Teriak Ki Sardulo Seto dengan terkejut. Tak disangkanya sama sekali kalau lawannya ini menghendaki kematiannya. Dengan demikian maka Ki Sardulo Seto berlaku tambah hati-hati.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Sepasang Pedang Mustika 3
Sewaktu tegang-tegangnya, tiba-tiba terdengarlah teriakan Klabangsongo dan Baurekso, “Paman, biar kami membantumu!”
Mendengar ini bukan main terkejutnya hati Ambarsari dan Birowo. Tetapi keduanya tak dapat berpikir lebih jauh lagi. Sebab tahu-tahu pedang Klabangsongo telah membabat leher, dan tongkat Baurekso menyambar ulu hati.
Tetapi ketenangan Ambarsari dapatlah kita kagumi. Sebab, datangnya serangan maut ini tidak menjadikan murid Anggraeni menjadi gugup, tetapi dengan cepat ia mengangkat rantai yang dipegangnya dan dipegang oleh Tengkorak Hitam itu ke atas hingga lehernya terbebas dari babatan pedang Klabangsongo. Untuk menangkis tongkat Baurekso, ia menggerakkan tangan kanannya yang memegang pedang.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Sepasang Pedang Mustika 2
“Baik, anak muda, aku tak akan menyesal kalau harus mati di tanganmu. Tetapi hati-hatilah kau menghadapi jagoku ini!” seru Pendeta Selotirto dengan masih bersikap tenang-tenang saja.
“Mari, Tunggul Wulung, kita mulai!” seru Dendapati.
“Nanti dulu! Kau beritahu dulu siapa namamu?” sela Tunggul Wulung sambil memasang kuda-kudanya.
“Aku Dendapati!” serunya sambil melancarkan serangan ke arah dada. Tetapi cepat Tunggul Wulung menggeser kakinya dan meloncat ke samping. Melihat serangan pertamanya gagal maka kembali Dendapati mengayunkan kakinya ke arah perut lawan.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Sepasang Pedang Mustika 1
“Dan kau Tunggul Wulung, harus menurut nasehat kakakmu,” seru kakek itu kepada muridnya yang kedua.
“Baik, Bapa!” jawab Tunggul Wulung sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Keesokan harinya kedua murid Mliwis Putih itupun mulai menjalankan syarat yang diberikan oleh gurunya. Baskara dan Tunggul Wulung berusaha sedapat-dapatnya untuk menunaikan tugasnya dengan baik. Mereka mengekang nafsu yang menggelora di dalam hatinya. Setiap matahari condong ke barat mereka berdoa lalu membenamkan tubuhnya di dalam lobang. Begitu seterusnya mereka itu menjalankan perintah gurunya. Setelah segala macam syarat mereka jalankan maka Bas¬kara dan Tunggul Wulung lalu menghadap gurunya.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Walet Emas - 8
“Bedebah! Aku tak bisa mengendalikannya lagi. Cincin itu telah hancur!” terdengar suara di tengah rongga gua. Sosok tubuh itu tidak diterangi cahaya sedikit pun sehingga penampilannya selalu dalam naungan bayangan. Sedangkan cahaya obor yang menyala tidak meneranginya karena terhalang oleh sebuah ‘stalagmit’.
“Sudahlah, Kebo Parud. Hentikan saja permainan yang kekanak-kanakan itu,” terdengar suara yang diiringi langkah kaki mendekatinya.
Ya. Inilah Kebo Parud yang menjadi buronan. Dan orang yang mendekati itu berwajah keriput, tanda dari usia tuanya yang melebihi usia manusia normal.
“Aku akan memberi pelajaran kepada pendekar wanita bernama Pusparini itu,” jawab Kebo Parud yang tangannya kini tinggal sebelah.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Naga Putih - 43
“Yeeaatt...!”
Pembunuh bermuka putih bergerak melesat sambil memutar-mutar golok bergeriginya sedemikian rupa. Suara mengaung tajam mengiringi datangnya serangan orang sesat itu.
Pada saat yang hampir bersamaan, pembunuh bermuka merah telah pula membuka serangan dengan bandul berduri di tangannya. Senjata itu siap meluncur ke arah batok kepala Pendekar Naga Putih. Kalau saja senjata itu sampai mengenai sasarannya, otak Panji pasti akan berceceran di tanah.
Demikian pula halnya dengan Cakar Setan. Senjata cakar baja di tangannya berdecit-decit saat tokoh sesat itu bergerak maju dari arah depan Panji. Senjata itu terus bergerak kian kemari dengan kecepatan yang sulit ditangkap dengan mata biasa. Kilatan cahayanya yang tertimpa sinar rembulan membuat pandangan lawan akan sulit untuk menangkap dari mana datangnya serangan sepasang cakar baja itu.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Slebor - 37
Kehadiran Putri Samudera dengan senjata batu karang emasnya cukup menggemparkan. Terutama tekadnya untuk membunuh Sultan Mangkunegoro. Pendekar Slebor yang tiba di sana, kali ini benar-benar harus mengeluarkan segenap kemampuannya untuk menandingi Putri Samudera. Karena selain jelita dan memiliki ilmu yang tinggi, kecerdikan Putri
Samudera pun luar biasa. Campur tangan yang dilakukan oleh Pendekar Slebor, membawanya ke alam yang lebih mengerikan. Dan ia sadar kalau Putri Samudera ternyata murid dari Eyang Dewi Samudera. Siapakah sebenarnya Putri Samudera yang memiliki dendam setinggi langit pada Sultan Mangkunegoro itu?

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Rajawali Sakti - 77. Misteri Naga Laut
"Benar, Den. Paman lihat sendiri, naga itu muncul dari dalam laut!" ujar Paman Ardaga bersungguh-sungguh.
Rangga dan Pandan Wangi hanya mengangguk-angguk saja mendengar keterangan tersebut. Memang sulit dipercaya, kalau di Laut Utara ini muncul seekor naga raksasa berwarna hijau!
Bukan hanya Paman Ardaga saja yang pernah melihat, tetapi hampir semua penduduk desa nelayan di sini juga pernah melihat Naga Laut itu muncul. Celakanya, setiap kali muncul, naga itu selalu mengambil korban wanita-wanita muda!
Lalu, benarkah di dunia ini ada Naga Laut? Bagaimana Pendekar Rajawali Sakti harus memecahkan Misteri Naga Laut yang sangat berbahaya itu?

Unduh
Pendekar Blo'on - 11
Ternyata urusan semakin bertambah rumit. Kehadiran Lima Utusan Akherat yang mencari surat Kedamaian Dunia membuat raja Ujung Dunia Marah. Bala tentara di kerahkan di pimpin oleh seorang Panglima haus darah, kebal senjata kebal pukulan.
Dunga mempergunakan peledak. Manusia sadis dari Sampuran Harimau ikut mendukung. Kemudian muncul Raja Kodok, hartawan Abdi Banda lari terbirit-birit. Sang Maha Sesat mengatur siasat. Malaikat Penderitaan tidak tinggal diam.
Walah, si konyol Pendekar Blo'on pusing tujuh keliling. Bagaimana nasib para Utusan itu? Dapatkah Suro menyelamatkan Puspita Sari? Bagaimana usaha Patih Luragung yang pergi ke Bukit Kematian???.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Satria Gendeng - 10
"Aku hampir tak percaya kalau orang bertopeng Arjuna itu merebut kitab rahasia milik ayahku, setelah sebelumnya dia menyelamatkan aku dari tangan Manusia Makam Keramat!" geramnya. "Aku tak tahu apa maksudnya dengan semua itu...."
"Ssttt!"
Kedongkolan Rara Lanjar dijegal desis mulut Satria Gendeng. Mata anak muda itu menatapnya tanpa berkedip. Sementara wajahnya tampak mengeras.
"Ada orang datang...," bisiknya, memperingati Rara Lanjar.
Perempuan yang semula sedang meruntunkan kegusaran melalui mulut mungilnya kali ini mencoba menajamkan pendengaran. Belum lagi niatnya terlaksana, selantun suara siulan berirama amat tajam mendadak tercipta.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Joko Sableng - 24
Wuutt! Wuutt!
Dua gelombang dahsyat menderu ganas. Kiai Tung-Tung terkesiap. Dia buru-buru tarik pulang kedua tangannya yang hendak menyambar caping Malaikat Jagal Manusia. Kedua tangannya serta-merta disentakkan ke depan.
Blamm!
Gelegar keras terdengar saat gelombang dari ke dua tangan Malaikat Jagal Manusia bentrok dengan gelombang yang keluar dari kedua tangan Kiai Tung-Tung.
Sosok Malaikat Jagal Manusia tersurut satu tindak. Demikian juga sosok Kiai Tung-Tung. Paras masing-masing orang berubah.
“Ternyata kau memiliki ilmu juga, Anak Manusia! Tapi jangan harap apa yang kau miliki bisa merubah nasib yang ku tentukan!” sentak Malaikat Jagal Manusia.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Hina Kelana - 17
Kala itu Buang Sengketa sudah tiada memperdulikan kata-kata Warok, sebagai jawabannya, serta merta dia meraba pinggangnya. Kemudian laksana kilat, dia cabut pusaka Golok Buntung yang pamornya sangat menghebohkan itu. Jago istana Muara Panjang merasa tersirap darahnya begitu melihat sinar merah menyala yang terpancar dari pusaka di tangan Buang Sengketa. Bahkan mendadak dia dapat merasakan betapa udara di sekitar tempat itu berubah menjadi dingin luar biasa. Bahkan baik Warok, maupun Ambarwati yang baru saja menyelesaikan pertarungan dengan prajurit-prajurit kerajaan dan saat itu menonton pertarungan tak begitu jauh dari tempat itu terpaksa mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengusir hawa dingin yang terasa menggigit sampai ke tulang sumsum.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Gila - 14
"Siapa kau?!" bentak Ki Anggastra.
"Ukh ukh ukh!" Gadis berpakaian biru kehitaman itu langsung menyerang Ki Anggastra.
Crab! "Wua!" Ki Anggastra memekik keras ketika senjata itu menghujam ke lehernya.
Desa Kembang Tebu pun gempar. Satu persatu dari kelima orang yang pernah terlibat dalam pembakaran sepasang suami istri Gagar Blarak ditemukan mati. Dan, Ki Anom Purbo lah yang pernah melihat pelaku pembunuhan itu.
Apakah Ki Anom Purbo akan menjadi korban selanjutnya? Siapa sebenarnya gadis bisu yang menjadi momok dari semua pembunuhan itu? Lalu, apa yang akan dilakukan Pendekar Gila terhadap gadis bisu yang penuh misteri itu?!

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Pulau Neraka - 33
"Kau berhutang nyawa padaku, Pengkhianat! Terimalah kematianmu...," desis gadis cantik berbaju putih itu.
"Heh...?! Siapa kau?" sentak Ki Laksa terkejut.
Tapi gadis berbaju putih itu tidak menjawab. Tiba-tiba saja dia langsung menyerang....
"Mampus kau! Hiyaaat..!"
"Uts...!" Ki Laksa benar-benar terkejut menerima serangan dari seorang gadis yang tidak dikenalnya. Bahkan, dia tidak mengerti, mengapa gadis itu menyebutnya sebagai pengkhianat.
Segudang pertanyaan terus menghantuinya. Dan, pertanyaan ini semakin bertambah saat munculnya Tiga Pengemis Sakti.
Siapakah Tiga Pengemis Sakti itu? Apa hubungannya dengan gadis berbaju putih itu? Dan, bagaimana tindakan Pendekar Pulau Neraka dalam hal ini?!

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: