Dewi Sri Tanjung - 3. Kobaran Api Asmara
Empat orang murid Si Tangan Iblis yang lain menjadi pucat dan terbelalak. Bukan saja karena sekali gebrak Kaligis sudah roboh, tetapi juga karena mendengar nama Julung Pujud. Mereka sudah pernah mendengar dari cerita guru tentang tokoh sakti yang bertempat tinggal di Blambangan. Tokoh sakti yang bernama Julung Pujud itu wataknya aneh disamping kejam. Maka oleh Si Tangan Iblis dianjurkan agar mereka menjauhkan diri dari tokoh sakti tersebut, demikian pula terhadap mereka yang mempunyai hubungan dengan Julung Pujud.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Mabuk - 12
Kapal itu tergolong jenis kapal besar. Mempunyai tiang layar tiga, yang utama ada di depan. Layar lebar itu berwarna merah dengan gambar tengkorak dikelilingi tujuh mata rantai dan di atas gambar tengkorak dari warna putih itu ada gambar mahkota yang juga berwarna putih. Setiap ujung tiang layar mempunyai bendera segi tiga warna hitam dengan gambar tengkorak dan mahkota warna putih.
Bagi para tokoh dunia persilatan yang tergolong tua, mereka sangat kenal dengan kapal berciri-ciri seperti itu. Mereka tahu, bahwa kapal itu adalah kapal Siluman Tujuh Nyawa.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Pulau Neraka - 28
"Siapa mereka?" tanya Bayu.
"Orang-orangnya Kala Putih," sahut Sekar.
"Kenapa mereka mengejarmu?" tanya Pendekar Pulau Neraka lagi.
"Mereka menginginkan Pedang Kawa Hijau ini."
Bayu mengamati pedang yang tergenggam di tangan Sekar. Sekilas tadi dia memang melihat pedang itu memiliki pamor yang dahsyat dan memancarkan sinar kehijauan.
"Hmmm..., mungkinkah Ki Bangka Putung telah membuat benda itu menjadi pedang yang hebat...?" gumam Pendekar Pulau Neraka bertanya sendiri di dalam hati.
Benarkah pedang yang berada di tangan Sekar adalah Pedang Kawa Hijau? Rahasia apa sebenarnya yang terkandung dalam pedang itu? Dan mengapa orang-orang Kala Putih selalu mengejar-ngejar Sekar?

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Rajawali Emas - 2
Kening Tirta berkernyit. "Apa yang sebenarnya telah terjadi? Sejak kapan ada pajak semacam itu? Apakah dusun ini telah berubah menjadi kacau, tidak tenteram lagi seperti bayanganku dulu? Aku tahu, Juragan Lanang memang sangat dibenci karena seorang lintah darat. Tetapi persoalan dusun ini dikuasai olehnya, bahkan setiap orang yang mau mengisi perut harus kena pajak, pasti ada sesuatu yang tak beres."

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Naga Putih - 7
"Aku sangat menyesal, Guru. Aku dan adik-adik seperguruan datang terlambat," suara pelan mengandung isak itu terdengar dari mulut Bandawa.
"Tapi tenanglah kau di alam sana, Guru. Akan kubalaskan sakit hati ini!"
Perbuatan Raja Iblis dari Utara memang keterlaluan! Dia sengaja membunuhi tokoh-tokoh persilatan, guna mengundang kemunculan Pendekar Naga Putih! Apakah yang dilakukan Panji ketika mengetahui dirinya ditantang? Bagaimana pendekar muda itu membantu Bandawa dalam menumpas datuk sesat yang sangat sakti itu?!

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Dewa Linglung - 3
"Kami lihat di halaman gedung Kedipatian banyak para prajurit berkerumun. Kami penasaran ingin tahu. Ketika kami melihat kesana, ternyata ... ah, sungguh mengerikan! Hiii... Kanjeng Adipati mati tergantung di tiang pendopo. Keadaan mayatnya sungguh mengerikan se.. sekali..." Salah seorang memberi penjelasan dengan tersengal-sengal.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Romantis - 4
"Tak salah lagi," ucap Pandu Puber dalam renungan,"... itu pasti suara si Iblis Banci. Pantas kalau kau pun dikejar-kejar Raga Paksa, karena sebenarnya kau pun akan dipaksa agar menunjukkan di mana letak kuburan si Iblis Banci Itu. Bukan sekadar ingin dibunuhnya!"

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Roro Centil - 2
Nama Roro Centil si Pendekar Wanita Pantai Selatan telah menjadi pembicaraan di mana-mana. Bahkan pendekar sampai ke beberapa tempat. Kehebatan ilmunya yang amat mengerikan, dan kemunculannya yang bagaikan menjelma di kalangan Rimba Hijau, membuat kaum penjahat mulai menjadi kebat-kebit hatinya. Tentu saja hal itu membuat kekhawatiran, karena periuk nasinya telah terancam kepunahan.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Mahesa Kelud - 4. Mencari Mati Di banten
"Keparat! Laknat terkutuk! Rasakan pembalasanku! Manusia atau setan sekali pun aku tidak takut! Muridku dibunuh! Keris hijau pemberianku dibikin patah! Dibikin sumpung! Kelak akan kupatahkan batang leher manusia itu! Siapa?! Siapa yang melakukan ini semua?!" Kakek-kakek ini melangkah ke pintu. Kedua tangannya diletakkan di pinggang. Pandangannya beringas. "Hai setan bukit! Jin hutan dan seribu satu makhluk kasar serta halus yang mendiami bukit Jatiluwak ini! Jawab! Siapa yang membunuh muridku?! Siapa yang menghinakan senjata warisanku?! Jawab...!"

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pengemis Binal - 4
Setelah menjalani upacara pemulihan dengan tumbal 40 perawan, Ratnasari yang telah sangat tua itu berhasil menjadi muda kembali! Lalu dengan ilmu pemikat asmaranya, dia mengadu domba tokoh-tokoh muda jajaran atas. Selanjutnya, Ratnasari pun menggempur istana kerajaan dan ingin merebut tahta. Beruntung ketika tokoh-tokoh kerajaan yang berilmu tinggi itu nyaris kalah, muncullah Kapi Anggara, Raka Maruta, dan Pengemis Binal!
Tetapi, bagaimana dengan Suropati alias si Pengemis Binal sendiri ketika dirinya terkena ilmu 'Asmara Penggoda' dari wanita pemuja setan itu? Apalagi, Pengemis Binal mudah terpikat wanita cantik!

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Dewa Arak - 39. Misteri Dewa Seribu Kepalan
Bresss...!
Benturan keras antara dua pasang lengan yang sama-sama mengandung tenaga dalam tinggi terjadi. Akibatnya, tubuh Memedi Tangan Api dan Palasena sama-sama terjengkang.
Palasena terpaksa harus bertempur menghadapi Memedi Tangan Api dalam usahanya mencari jejak Dewa Seribu Kepalan, yang telah membunuh ayahnya! Padahal, Dewa Seribu Kepalan adalah tokoh aliran putih, sama seperti orang tua Palasena.
Benarkah Dewa Seribu Kepalan yang membunuh ayah Palasena? Mengapa tokoh itu sangat sulit dijumpai? Dapatkah Palasena mengungkap Misteri Dewa Seribu Kepalan? Dan, bagaimana tindakan Dewa Arak menghadapi persoalan yang penuh misteri ini?

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Gento Guyon -2
Usapan yang dilakukan Bocah Tua ternyata membuat Ki Rekso Monggo Jolodo terbebas dari totokan Pemacul Iblis. Tapi untuk melakukan pengejaran rasanya sudah tak berguna. Karena dia menyadari di samping ilmu kesaktian Bocah Tua itu pasti memiliki ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat sempurna.
Akhirnya dia hanya berlutut dan menangis di depan tulang belulang yang bertumpuk di hadapannya.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Pedang Siluman Darah - 2
Keluarganya terporak poranda oleh kelakuan Tumenggung yang menginginkan dirinya. Setelah diperkosa, Tumenggung tidak mau menjadikan dirinya isteri....
Begitu juga dengan suaminya, menolak untuk menerima kembali. Hal itu menjadikan tekanan jiwa, yang menyeretnya untuk sekaligus terjun ke dalam. Dia memberikan kepuasan pada setiap lelaki yang kemudian dibunuhnya.
"Wanita sinting! Apa perlumu datang ke mari?"
"Apa yang telah diperbuat suamiku padamu...?"
Apa yang bakal terjadi dengan Tumenggung Tambak Yasa? Bagaimana pula dengan Dewi Kalandasan? Silahkan mengikuti kisah ini!

Unduh
Pendekar Blo'on 2
"Dewi Bulan... jika ku pandang wajahmu, hati ku pun bergetar. Apakah bulan di atas sana secantik dirimu? Mega-mega putih, apakah kau juga tidak tahu siapa gadis berkerudung putih itu? Engkau tidak tahu, aku lebih buta lagi. Engkau bingung, aku pun juga sangat bingung. Sana bingung sini bingung. Akhirnya kita bingung-bingungan. Ha ha ha.... gila betul!" kata Pendekar Blo'on.
Siapakah Dewi Kerudung putih, dapatkah Pendekar kocak dan konyol ini menuntut balas atas kematian orang tuanya? Bagaimana nasib Katai Muka Merah? Dan juga musuh-musuh besar Pendekar Blo'on?

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Rajawali Sakti - 169. Dewa Mata Maut
"Nisanak, maafkan aku. Namaku Pranaja. Aku sama sekali tidak bermaksud mengganggumu...," usik pemuda yang mengaku bernama Pranaja berusaha bersikap ramah.
Namun si Kipas Maut sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan gadis itu terus menggebah kudanya.

Unduh
Joko Sableng - 11
"Kalau saja urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan Saraswati, tanganku sudah tak sabar ingin segera mengakhiri napasmu!" desis Tengkorak Berdarah sambil tengadah. "Lalu sampai kapan aku harus menunggu, hah?! Dan urusan apa yang menghambat sampai pertemuan ini jadi berlarut-larut?!"

Unduh
Label: 2 komentar | | edit post
Reaksi: 
Walet Emas - 2
Guntur menggelegar. Masing-masing telah siap untuk mencabut senjata. Ketegangan berkembang. Detik demi detik berlalu. Tetapi begitu mereka akan mencabut golok, tiba-tiba terdengar suara tawa yang menggema lantang. Suara itu mampu mengalahkan suara derai air hujan, dan semakin jelas terdengar mendekati mereka. Sesosok tubuh berkelebat. Kedua Orang yang hendak menyabung nyawa itu mencelat dari tempatnya masing-masing begitu bayangan hitam menerjang di tengah-tengah mereka.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Mabuk - 7
Si Gila Tuak melayangkan pandang ke arah Betari Ayu yang mulai berwajah sendu. Si Gila Tuak tahu, di dalam hati Betari Ayu tersimpan duka kala Suto sebutkan nama Dyah Sariningrum. Karena, si Gila Tuak pun tahu bahwa Betari Ayu menyimpan rindu dan cinta untuk Suto Sinting. Tapi agaknya Betari Ayu lebih berjiwa mengalah dan tak mau memperlihatkan rasa kecewanya.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Dewi Sri Tanjung - 2. Si Tangan Iblis
Ahhh....! tidak urung tiga orang bocah ini kaget dan berseru tertahan. Tidak pernah terpikir dalam benak tiga bocah ini musuh besarnya adalah tokoh sakti Majapahit.
Memang baik Gajah Mada maupun Nala menanjak hampir berbarengan. Gajah Mada oleh jasa-jasanya kemudian diangkat menjadi Mahapatih Majapahit, sedangkan Panglima Nala diangkat menjadi Panglima Angkatan Laut.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Rajawali Emas - 1
"Kraaakh...!"
Terdengar suara keras yang membedah angkasa. Bahkan sampai menggetarkan lembah tempat si bocah berada. Dan ini membuat kepalanya mendongak. Matanya menangkap satu bayangan raksasa di angkasa. Begitu cepatnya, sehingga yang tertangkap hanyalah bayangan penuh warna keemasan.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Naga Geni - 2
Rasakan tambang maut ini! Kau telah lancang merubuhkan Sura Welang, tapi sekali ini nyawamu akan hilang ditangan Tambangan! - Gagak Bangah berusaha menangkis serangan tambang itu, tapi sayang kalah cepat. Meski ia sudah menundukkan kepala tak urung ikat kepalanya tersambar jatuh oleh sambaran tambang itu, sampai wajahnya merah saking marah dan malunya.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Kembar - 2
"Aku akan menantang pertarungan dengan Rata Cumbu Laras, Ayah!" geram Raka Pura. "Izinkan tanganku berlumur darah untuk mencabut jantung Ratu Cumbu Laras dan meremas-remasnya, Ayah!" ujar Soka Pura dengan kulit wajah kemerahan. Pendekar Kembar, Raka dan Soka, sangat dendam pada Ratu Cumbu Laras!

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Raja Naga - 2
"Kau telah membunuh dua sahabatku! Rasanya, aku memang berhak untuk mencabut nyawamu sekarang!"
"Jangan berbangga dulu dengan apa yang kau lakukan barusan!" sambut Hantu Menara Berkabut dingin. Dia masih tetap kering, karena sosoknya seperti terpayungi yang menghalangi derasnya butiran hujan.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Rajawali Sakti - 20. Penyair Maut
"Siapa mereka?" tanya Rangga sambil membantu Kumbara berdiri. "Mengapa mereka mengeroyokmu?"
"Mereka orang-orang Raden Glagah. Mereka pikir aku ini si Penyair Maut. Aku memang penyair, tapi aku tidak pernah membunuh orang," sahut Kumbara seraya menyeka darah di mulutnya.
"Lalu mengapa mereka mengejarmu terus?"
"Aku sendiri tidak tahu."
Benarkah Kumbara tidak tahu? Bukankah dia yang selama ini berkeliaran dan selalu membunuhi orang-orang Raden Glagah? Kali ini Pendekar Rajawali Sakti beraksi karena perasaan iba di hatinya. Mampukah Rangga mengungkap tabir si Penyair Maut? Yang selalu meninggalkan syair berdarahnya pada secarik daun lontar?!

Unduh
Dewa Linglung - 2
"Hei! bocah gendeng! kau gunakan ilmu tenaga dalam Inti Es secara berlebihan! celaka....! kau bisa mampus!" teriak si kakek terkejut. Serta merta dia gerakkan lengannya menghantam ketubuh pemuda itu.
Buk!
Akan tetapi menjerit si kakek ini. Tubuhnya terlempar kebelakang beberapa tombak dan terkapar tak berkutik. Apakah yang terjadi? Ternyata tubuh si Raja Siluman Naga seketika menjadi beku dan tampak sekujur tubuhnya dilapisi oleh es.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Si Tolol - 5
Patung Ratu Shima kini jatuh ke tangan Dewi Tatoo, pendekar wanita misterius yang tidak pernah mengenakan pakaian. Ia bertekad memusnahkan patung tersebut karena patung itulah yang menyebabkan penderitaan dan duka laranya.
Dewi Tatoo membuat sebuah Patung Ratu Shima tiruan dengan bantuan Jaka, seorang ahli ukir dari Jepara.
Siapakah sebenarnya si Dewi Tatoo? Apa penderitaannya sehingga ia bermaksud memusnahkan patung tersebut? Padahal justru banyak pendekar yang berhasrat memilikinya walaupun nyawa sebagai taruhannya!

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Satria Gendeng - 4
"Kenapa kau mengira kalau salah seorang murid perguruan kami memiliki Kail Naga Samudera, Orang Tua?" tanya Pancasona lebih jauh, setelah seluruh cerita tentang Kail Naga Samudera terlintas di benaknya.
"Aku curiga, pemuda itu akan memperdalam jurus-jurus cemeti di perguruan ini! Lagi pula, bukankah guru besarnya sudah lama memimpikan benda itu untuk dijadikan senjatanya?!"

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Hina Kelana - 3
"Wee... bocah nakal, kau telah kencing di atas kepalaku...?" nenek peot menjadi geram. Sebaliknya Wanti Sarati malah tertawa gelak-gelak.
"Nenek ini lucu! Tadi nenek bilang aku disuruh nyanyi di telingamu, eeh sekarang kok malah marah-marah...!"
Katanya mau nyanyi, bukah mau kencing...?" Nenek peot semakin sewot. Masih dengan sesungging senyum di bibirnya Wanti Sarati meleceh: "Ibu bilang kalau mau kencing itu, katanya menyanyi! Nenek saja yang sudah pikun...!"

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Roro Centil - 1
"Celaka…! Aku harus cepat menolongnya sebelum terlambat..!" Desisnya penuh kekhawatiran. Dan... berkelebatlah laki-laki berbaju putih itu tinggalkan tempat itu. Tubuhnya melesat cepat sekali, lalu sebentar kemudian lenyap dibalik perbukitan. Tiba-tiba dari ujung jalan tadi, muncul lagi serombongan pasukan lasykar Kerajaan. Suara derap kaki-kaki kuda kembali menyibak keheningan. Ternyata rombongan yang tadi, akan tetapi kini cuma lima ekor kuda yang mendatangi.

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Raja Petir - 2
"Akulah anak Sempani, Kisanak! Kau ingat Sempani?!" bentak Jaka Sembada disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. "Dua puluh tahun silam kalian telah menghancurkan keluargaku! Bersama dengan Gandewa, si Setan Botak! Kalian masih ingat itu?"
Kelopak mata Barrot dan Jatianom tak berkedip menatapi sosok pemuda berpakaian kuning keemasan di hadapannya. Dua dari empat anggota Setan Goa Mayat itu tidak percaya pada pendengarannya sendiri!
Bagaimanakah tindakan Raja Petir terhadap Empat Setan Goa Mayat? Lalu, bagaimana pula sikap pendekar muda itu ketika berhadapan dengan Gandewa, yang telah membunuh ayah kandungnya?! Apakah Jaka menuruti permintaan ibu kandungnya, untuk memaafkan Gandewa?

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Jaka Sembung - 3
Seorang iblis telah muncul dan berhasil mempengaruhi penduduk desa di sekitar gunung Sembung untuk menyembahnya dan ingkar dari ajaran agama. Kiai Haji Subekti Ahmad sendiri sampai bingung memikirkan para penduduk desa yang telah ingkar dari keimanannya.
Bergola Ijo sebenarnya adalah seorang raja rampok yang sangat ganas, dan seorang antek kumpeni pula. Dengan licik ia berhasil membelok-kan kepercayaan dan agama masyarakat setempat yang lantas menganggapnya sebagai dewa.
Parmin sudah barang tentu tak dapat menerima keadaan ini. Jiwa kependekarannya terpanggil. Dari cerita inilah julukan pendekar dari gunung Sembung alias Jaka Sembung melekat pada diri Parmin Sutawinata, murid Ki Sapu Angin!

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pengemis Binal - 3
Gadis-gadis cantik yang dipimpin Sekar Mayang itu menculik para perawan. Mereka memang sedang mengumpulkan tumbal 40 perawan untuk kebangkitan Ratnasari yang telah berumur 150 tahun! Di antara mereka yang diincar adalah Ingkanputri dan Anjarweni. Sementara itu, Pengemis Binal yang mengetahui hal ini, berusaha keras untuk menggagalkan rencana Sekar Mayang alias si Bidadari Lentera Merah! Dasar Pengemis Binal, segala cara ditempuhnya, termasuk merayu dan mencumbu Puspita, seorang dari dara-dara cantik itu, demi menangkap si Bidadari Lentera Merah!

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Rajawali Sakti - 16. Rahasia Kalung Keramat
"Kau tidak salah lihat?" tanya Wanapati penasaran sekali.
"Benar! Dewi Cempaka sendiri juga melihat Rangga memakai kalung segitiga itu!" Balung Gading menegaskan jawabannya.
"Heran...!" gumam Wanapati sangat terkejut.
Ya! Rahasia apakah yang tersimpan dalam kalung keramat itu? Sampai-sampai padepokan yang dipimpin Wanapati harus hancur karena kalung itu? Benarkah bahwa kalung itu juga yang akan mempersatukan Rangga dengan saudara tirinya?
Siapa pula sesungguhnya Wanapati dan Balung Gading yang mengasuh adik tiri Rangga itu...?!

Unduh
Dewa Arak - 15. Tinju Penggetar Bumi
"Hiaaat..!."
Sambil berteriak keras, Gendruwo Pulau Setan menerjang Melati. Melati terkejut bukan main melihat kehebatan serangan lawannya. Gadis itu tidak tahu kalau Gendruwo Pulau Setan menggunakan 'Tinju Penggetar Bumi'nya yang sangat dahsyat.
Sementara di belakang Gendruwo Pulau Setan ini masih ada lagi lawan tangguh bagi Melati, Dewa Rambut Merah! Dia adalah salah seorang dari Tiga Dewa Sungai Naga yang dikabarkan telah membantai Adipati Kalingga bersama pasukannya!
Benarkah Dewa Rambut Merah yang melakukan pembantaian terhadap Adipati Kalingga? Dan mengapa Dewa Arak harus bertempur dengan pentolan-pentolan golongan putih itu?

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Komik WS - Empat Brewok Dari Goa Sanggreng part 1

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: 
Pendekar Kelana Sakti - 1
"Sebuah rumah sudah tidak berarti lagi bagiku, Mang.... Selama dua tahun lebih pengaruh lingkungan alam bebas telah menempa hidupku.... Dan ternyata aku menyukai adanya kebebasan... Aku khawatir di desa-desa lain masih ada suasana yang terbelenggu dengan kezaliman.... Untuk itu, aku mengemban tugas menumbangkan semua kebatilan maupun kezaliman...

Unduh
Label: 0 komentar | | edit post
Reaksi: